4 April 2020

Utang

Corona Berjangkit, Utang Bakal Kian Melangit

Oleh: Edy Mulyadi*

Presiden Joko Widodo hari ini (Selasa, 31 Maret 2020) mengumumkan sejumlah kebijakan perlindungan sosial dan stimulus ekonomi guna menghadapi dampak Covid-19. Tentu saja, ini melegakan. Kabar gembiranya, pemerintah bakal mengalokasikan anggaran hingga Rp405 triliun untuk keperluan tersebut.

Jangan Sampai Skandal BLBI Berulang, Penerbitan Recovery Bond Mesti Dikaji Ulang

KONFRONTASI-Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira meminta pemerintah untuk mengkaji ulang rencana penerbitan surat utang pemulihan atau recovery bonds bagi dunia usaha terdampak COVID-19.

"Tidak perlu lagi melakukan recovery bonds karena risiko cukup bahaya baik secara ekonomi dan politik," katanya di Jakarta, Senin.

Ia menilai skema surat utang pemulihan bagi dunia usaha itu dikhawatirkan bisa mengulangi bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang pernah dikucurkan sekitar tahun 1998.

Tak Ada Corona Ekonomi Sudah Anjlok, Corona Datang Tambah Jeblok, Pemerintah Utang Lagi

KONFRONTASI-Rektor Perbanas Institute Hermanto Siregar menilai bahwa ekonomi Indonesia terancam resesi dengan adanya pandemik virus Corona atau Covid-19.

Hal itu disampaikan oleh Hermanto saat menanggapi babak belurnya ekonomi RI saat ini mulai dari anjloknya nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga utang yang kembali bertambah.

“Dengan adanya Corona, terutama kalau berlangsung sudah beberapa bulan ke depan bisa negatif alias resesi,” ungkap Hermanto kepada wartawan, Selasa, (24/3/2020).

Rizal Ramli: Aji Mumpung, Sri Mulyani layaknya SPG IMF, Mau Utang Lagi

KONFRONTASI- Pemerintah sedang mempertimbangkan utang baru yang berarti ini akan melampaui defisit APBN maksimal 3 persen yang telah ditetapkan dalam UU 17/2003.Utang baru itu disebutkan untuk membantu APBN yang tekor dihantam Covid-19. Di sisi lain, Badan Anggaran DPR RI malah memberikan rekomendasikan agar defisit APBN 2020 diperebar hingga 5 persen.

Skenario Ekonomi Tumbuh 0% Hanya Alasan Sri Mulyani agar Bisa 'Ngutang' dari IMF

KONFRONTASI-Menteri Keuangan Sri Mulyani baru-baru melontarkan pernyataan yang mengejutkan terkait situasi ekonomi Indonesia pasca menyerebaknya wabah Corona atau Covid-19 di Tanah Air.

Dalam pernyataanya Sri Mulyani (SMI) mengungkapkan sebuah skenario terburuk pasca menyerebaknya wabah Virus Corona yakni pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa di posisi 0%.

Menanggapi hal tersebut Analis Ekonomi dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp6.115 T per Akhir Januari

Utang luar negeri Indonesia tembus Rp6.115,6 triliun per Januari 2020. (CNN Indonesia/Safir Makki).

 

KONFRONTASI -   Utang luar negeri Indonesia membengkak jadi US$410,8 miliar per akhir Januari 2020 kemarin. Jika dirupiahkan, utang tersebut tembus Rp6.115,6 triliun (Kurs Rp14.887 per dolar AS).

Utang tersebut tumbuh 7,5 persen jika dibandingkan dengan Desember 2019. Utang tersebut tumbuh melambat jika dibandingkan dengan November 2019 yang naik 7,7 persen.

Awas, Corona Bisa Bikin Utang Luar Negeri RI Makin Bengkak

KONFRONTASI-Ekonom Indef Bhima Yudhistira memperkirakan utang luar negeri akan terus meningkat sepanjang 2020. Hal ini dikarenakan imbas wabah virus corona (Covid-19) yang memaksa pemerintah menyiapkan sejumlah stimulus untuk menjaga perekonomian.

Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri Indonesia pada akhir Januari 2020 mencapai USD410,8 miliar. Bila dikonversi dalam rupiah dengan kurs saat ini sekitar Rp14.800 per USD, utang tersebut setara dengan Rp6.079 triliun.

"Kutukan Hutang" : BI sudah keluarkan Rp 100 trilyun untuk Selamatkan Keuangan Negara. Jokowi mungkin hadapi Krisis Ekonomi

Oleh Ir. H. Hendro Subekti, MBA

KONFRONTASI- Senin ini  bisa jadi hari yang berbahaya dan mengerikan bagi pemerintahan Jokowi.  Betapa tidak? Kemarin hari Jumat, 28 Pebuari 2020, Gubernur BI (Bank Indonesia) mengaku sudah mengeluarkan 100 trilyun rupiah sejak januari 2020 untuk menyelamatkan keuangan negara dalam operasi di"pasar sekunder".

Dicoret dari Daftar Negara Berkembang, Bunga Utang RI Bakal Melejit

KONFRONTASI-Amerika Serikat (AS) di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Pencoretan mereka lakukan lewat Kantor Perwakilan Perdagangan atau USTR.

Dengan pencoretan tersebut Indonesia akan kehilangan beberapa fasilitas negara berkembang.

Pertama, Indonesia tidak akan menerima fasilitas Official Development Assistance (ODA). Fasilitas ini merupakan alternatif pembiayaan dari eksternal untuk pembangunan sosial dan ekonomi.

RR: Baru Tersadar, Utang Jor-joran Pemerintah Berdampak Negatif Terhadap Daya Beli dan Bisnis

KONFRONTASI- Banyak yang berkata, “Terserah deh pemerintah & BUMN mau ngutang jor-joranan. Toh tidak ada hubungan dengan saya”.

Pernyataan itu benar selama utang itu dalam batas wajar. Tetapi kalau berlebihan seperti saat ini, ada “crowding-out effect”.

Demikian peringatan/penyadaran yang disampaikan begawan ekonomi Rizal Ramli di Jakarta, Sabtu (22/2/2020).

Pages