6 April 2020

Puisi

Puisi Berdenyut di Pulau Tidung

KONFRONTASI-Pulau Tidung kini telah meraih berkah sebagai daerah tujuan wisata. Ia kini tak hanya menjadi pulau yang seksi, eksotis, dan penuh pesona, namun sekaligus menjadi pulau yang ramai manusia. Siapa pun yang datang ke Pulau Tidung di akhir pekan dengan cara mendadak, rasanya sulit mendapatkan homestay di sana. Homestay umumnya sudah dipesan beberapa minggu atau bahkan 2 atau 3 bulan sebelumnya. Terutama homestay-homestay di pinggiran pantai.

Puisi dapat dijadikan inspirasi lirik lagu

KONFRONTASI-Puisi bisa dijadikan alternatif inspirasi dalam pembuatan lirik lagu.

"Komite Sastra DKJ memberi rekomendasi, ayo para musisi Tanah Air, manfaatkanlah teks puisi sebagai sumber karya musik," kata Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Fikar W. Eda, di Jakarta, Sabtu malam.

Pihaknya prihatin dengan industri musik Indonesia yang menurutnya menurun kualitasnya. Hal ini terlihat dengan banyaknya lirik-lirik lagu yang berisi kata-kata yang kurang sopan.

Puisi Moh Ghufron Cholid : Sketsa Rindu

SKETSA RINDU

belasan tahun, waktu
menguntum rindu, kenangan wangi

Madura, 31 Agustus 2014

KENCAN RAHASIA

menegakkan malam, hati
terkecup cinta, berbinarlah nurani

Madura, 11 September 2014

MERUPA SYUHADA

dalam puisi, penyair
merupa syuhada, masa mengenang

Madura, 11 September 2014.

-Penulis Moh Gufron Cholid, puisi-puisi tersebar di beberapa antologi di 7 negara, saat ini tinggal dan berkarya di  Madura.(Kf)

Puisi Paradoks Sedih : Neny Isharyanti

Jadi pisau yang kau sarangkan di dadaku ini
membuatku tersadar bahwa
aku pun bisa pedih
ketika dunia melihatku tegak berdiri.

Sudah berapa kali pisau itu terhujam, hingga air mata menitik seperti hujan di musim kemarau?
Kau tentu tak pernah melihatnya bukan?

Dunia tak pernah melihat air mata.
Tak kan pernah.
Sebab kusimpan titiknya di sudut rasa terdalam dalam kelam malam.
Di hadapmu adalah senyum.

Puisi Warih W Subekti : Nduk *)

Nduk 1

Nduk
kutulis puisi ini
untukmu, agar kau memahami
kehidupan, pergaulan juga kemanusiaan
bukan untuk gagah-gagahan dan dikenal orang
bahkan kau gunakan untuk mencaci orang atau lawan
camkan dan kau akan nyata rasakan dihari kemudian, ingat itu!

Ds.Gandusari, 2014.

 

Nduk 2

Nduk
bapak ke kebun dulu
merawat dan menyiram tanaman
yang kuanggap mereka itu saudaramu
mereka itu keluarga kita, insya allah mereka bahagia
seperti juga kita yang selalu bersahaja, meski papa dan apa adanya

Puisi : Lelaki Kebun

Lelaki Kebun

Selepas subuh lelaki itu menuju kebun
ramah menyapa embun
yang tiris sampai ke ubun-ubun

ia sapa seribu tanamannya
dengan dendang rindu
seperti rindu ia pada anak-anaknya

di siang hari
ia rehat sejenak, ditengoknya tanak nasi
sang istri

lalu kembali ia ke kebun
memanggang tubuhnya
hingga senja

berulang ia telah lupa, ini purnama yang keberapa?

ia ikhlas menjalaninya

Ds Gandusari, Gombong 2014.

Puisi Sulis Bambang : Bagaimana akan Kuwadahi?

bagaimana akan kuwadahi
serpihan hati yang tercecer sepanjang
jalan menuju pulang?
Sementara keranjang tempat cinta itu disimpan
telah lama kosong
isinya berserakan di halaman
membusuk bersama daun daun dan bunga bunga
yang berguguran
bahkan bayanganmu tak seculipun
tersisa di pembaringan
kekasih....
engkau telah mati sebelum dikuburkan

 

*)Sulis Bambang, Penyair, aktifis sosial kemasyarakatan dan pengiat seni budaya.(Kft)

Puisi Oscar Amran : Sekisah Langkah

aku berjalan
ke mana kaki melangkah
ke manakah tujuan pasti

aku menemu banyak kisah
jua cerita tentangmu
pejalan setia
debu-debu beku di sepatu
atau jejak duri di batu-batu

aku berjalan
kelelahan yang menyenangkan
dan cerita tentangmu
andai kesendirian jadi teman baik
kita di jalan yang sama
menyintai sunyi ke liang hari
walau sendiri, sendiri
sepi di kesendirian itu nanti

Agustus 2014

*) Oscar Amran, Saat ini tinggal dan berkarya di Kota Hujan Bogor.(war/Kft)

Puisi Senandung Pusara : Untuk engkau yang terlena di bungalaw langit

sembilu sudah menjagal apa yang ada
senyum senyap di ladang harapan
ceria tenggelam ke dasar perih
di atas rentak sajak petang tadi
ada kata seribu cinta menjadi kenangan batu
dan bersemayam di lautan hidup yang tawar

untuk engkau yang terlena di bungalaw langit

pendewa menjanjikan rupa rupa di giliran musim
karena dia bukan Tuhan
atau ayat ayat agung dengan segala perjanjiannya
sebatas sosok lampion di setiap tatapan
merayu atap sepi
lalu meminang dinding oleh sinar sejenak

Puisi Robi Akbar : Menunggu Perahu

Menunggu perahu

Siapakah yang terbaring di lengkung pelangi
Sesaat setelah hujan
Menepikan sore pada sebuah pantai
Menyisir garis waktu
Sebuah dermaga bisu menunggu perahu

bi'14

Nanyikan

Nyanyikanlah dengan tenang
Dengan hati yang riang

Hari yang beringas
Cuaca panas
Dan berjuta bayangbayang yang cemas

Di kota yang selalu bergegas
Waktu adalah dengus nafas
Dari sebuah perjalanan yang tak pernah tuntas
Dimana tak ada peta dan tandatanda yang bisa kita baca

Pages