2 April 2020

Prabowo

Mundurnya Fahmi Idris Tidak Berdampak Apapun pada Prabowo, Apalagi Pada Jokowi

Fahmi Idris

KONFRONTASI- Mundurnya Anggota Dewan Pertimbangan Partai Golkar Fahmi Idris karena dukung Jokowi, itu bagus dan tak berdampak apapun pada PRabowo-Hatta.  Fahmi Idris tak berpengaruh di Golkar, malah mundurnya itu adalah kemauannya sendiri, dan tak ada efek politik, dingin saja. Toh ARB tak akan memecat siapapun. Fahmi mengatakan akan mengikuti langkah Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Luhut Binsar Pandjaitan yang mundur dari Gollkar. Ia mundur karena mendukung pasangan bakal capres dan cawapres Joko Widodo-Jusuf Kalla. 

Prabowo Gaungkan Revolusi Putih Sejak 2009, Kini Jokowi Tiru Revolusi Mental

KONFRONTASI- Prabowo sudah sejak 2009 meluncurkan Revolusi Putih. Dan kini bakal calon presiden Joko Widodo mendengungkan "Revolusi Mental" sebagai salah satu yang akan direalisasikannya jika terpilih menjadi presiden. Gagasan ini pun menjadi salah satu yang dimuat dalam visi misinya bersama pasangannya Jusuf Kalla. 

Aher Punya Strategi Jitu Menangkan Prabowo-Hatta di Jawa Barat

KONFRONTASI-Politikus senior PKS, Ahmad Heryawan (Aher), yang juga menjabat Gubernur Jawa Barat, masuk dalam tim pemenangan pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa sebagai pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

"Jelas dong saya masuk tim pemenangan," kata Ahmad Heryawan di sela-sela rapat koordinasi (rakor) pemenangan di Rumah Polonia, Jakarta, Rabu (21/5)

Aher, panggilannya, mengaku sudah punya strategi jitu untuk menangkan Prabowo-Hatta, khusus di Jawa Barat. Anggota Majelis Syuro PKS itu yakin Jawa Barat bulat menangkan jagoannya.

Ke Mana Golkar Berlabuh? Jokowi atau Prabowo?

KONFRONTASI-Meski Partai Golongan Karya (Golkar) menempati posisi kedua dalam pemilihan legislatif (pileg) beberapa waktu lalu, namun hingga saat ini partai beringin tersebut nampaknya masih galau dalam menentukan arah politiknya. Ke manakah Golkar akan berlabuh, Jokowi atau Prabowo? Mungkinkah Aburizal Bakrie (ARB) akan tetap maju sebagai calon presiden (capres) dengan elektabilitas yang dapat dikatakan sangat rendah? Atau mungkinkah Golkar akan membentuk poros koalisi baru? Jika iya, dengan siapa? Serentetan pertanyaan tersebut masih menjadi teka-teki hingga saat ini.

Pages