3 April 2020

Bank Indonesia

BI Siapkan 7 Langkah untuk Redam Dampak Ekonomi Akibat Corona

KONFRONTASI-Kelanjutan dari sejumlah stimulus kebijakan yang telah diumumkan pada RDG sebelumnya, Bank Indonesia (BI) kembali memperkuat bauran kebijakan yang diarahkan untuk mendukung upaya mitigasi risiko penyebaran virus corona atau COVID-19. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan ada 7 langkah yang bakal dilakukan BI dalam meredam dampak corona.

BI Pertimbangkan Koreksi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2020

KONFRONTASI-Bank Indonesia (BI) mempertimbangkan untuk mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020. Pemangkasan proyeksi ini disebabkan oleh gejolak global di tengah wabah penyebaran virus corona (Covid-19) yang membuatnya semakin parah setelah sebelumnya ada perang dagang berkepanjangan dan terbaru ditambah penurunan harga minyak dunia.

Dana Asing Kabur, Rupiah Makin Amblas

KONFRONTASI-Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, pelemahan kurs rupiah yang semakin dalam menjelang akhir pekan karena kekhawatiran investor terhadap virus corona yang terus meluas. Kondisi tersebut diyakini membuat dana asing banyak yang kabur dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia di dalamnya. 

Jaga Likuiditas, BI Turunkan Suku Bunga Acuan

KONFRONTASI-Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan atau BI Seven Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps), dari yang sebelumnya berada di level 5 persen, menjadi level 4,75 persen. Upaya tu dilakukan BI untuk menjaga agar likuiditas tetap terjaga, di tengah gempuran wabah virus corona.

Trump Dimakzulkan, Apa Dampaknya Bagi Ekonomi RI?

KONFRONTASI-Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai pemakzulan Presiden AS Donald Trump oleh parlemen tidak memberikan dampak yang signifikan kepada perekonomian nasional.

"Kita tidak melihat adanya pengaruh signifikan, nilai tukar juga masih berada pada kisaran Rp13.980-an," kata Perry dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.

Perry mengatakan kejadian pemakzulan tersebut bisa memberikan pengaruh kepada kondisi pasar keuangan global dalam jangka pendek.

BI Sebut Demo Mahasiswa Menambah Gelisah Pasar Finansial

KONFRONTASI-Bank Indonesia (BI) mengatakan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global ditambah banyaknya demonstrasi di Tanah Air dalam beberapa hari terakhir menambah kegelisahan di pasar finansial domestik, termasuk memperlemah nilai tukar rupiah hingga ke Rp14.135 per dolar AS.

BI Terbitkan Regulasi QR Code Standar Indonesia

KONFRONTASI-Bank Indonesia (BI) menerbitkan Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) nomor 21/18/PADG/2019 tentang Implementasi Standar Nasional Quick Response () Code untuk Pembayaran pada Jumat (16/8/2019) lalu. Aturan ini akan menjadi pedoman implementasi QR Code Indonesian Standard (QRIS).

"Penerbitan ketentuan bertujuan untuk memastikan penyelenggaraan layanan pembayaran yang menggunakan QRIS di Indonesia berjalan dengan baik," kata BI dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Kecil Kemungkinan BI Pertahankan Suku Bunga Acuan

KONFRONTASI- Ekonom INDEF Bhima Yudhistira menilai kecil kemungkinan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar enam persen pada Rapat Dewan Gubernur Kamis (20/6) esok, karena mendesaknya kebutuhan sektor riil untuk mendapat keringanan pembiayaan, guna melakukan ekspansi dalam menggerakkan roda perekonomian.

BI Mati-matian Tahan Dana Asing agar Jangan Kabur

KONFRONTASI- Bank Indonesia (BI) berjuang cukup keras beberapa waktu terakhir menahan gejolak nilai tukar rupiah.

BI melakukan intervensi di tiga titik sekaligus, pasar spot, pasar Domestic Non-Delivery Forward [DNDF], hingga pasar Surat Berharga Negara [SBN].

Khusus yang terakhir, BI habis-habisan masuk di pasar SBN untuk menahan 'kaburnya' dana asing.

Ekonom Yakini BI Tahan Suku Bunga Acuan

KONFRONTASI- Ekonom meyakini arah gerak Fed Fund Rate (FFR) semakin longgar (dovish) dimana bank sentral AS tersebut tidak lagi agresif menaikkan suku bunganya mengingat sudah ada indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi di bawah 3% disertai laju inflasi mendekati 2%.

Namun, The Fed masih memiliki dua pilihan, antara menahan FFR di level saat ini 2,25%-2,50% hingga akhir tahun 2019 atau menaikkan FFR hanya sekali sebesar 25 bps menjadi 2,5%-2,75% hingga akhir tahun 2019.

Pages