Skip to main content
x

Syafril Sjofyan: Ngabalin Sok Kuasa Padahal Cuma Dapat Jabatan ‘Alang-alang’

OPINI:    Cemoohan dilontarkan Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin kepada Menko Ekuin era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli. Melalui akunnya, Ngabalin menggunakan diksi tidak sopan/kasar dengan kata-kata kotor dan kata perikebinatangan.

Ia melakukan itu untuk membalas kritikan Rizal Ramli kepada pemerintah. Hal ini sangat bertentangan dengan ucapan Ngabalin yang kalau muncul di media menyatakan harus menggunakan diksi yang baik dan sopan.

Pengamat Kebijakan Publik, Syafril Sjofyan mengatakan, jika diamati Ngabalin bukan orang yang tidak beretika atau tak berpendidikan.

“Tapi memang, yang dilakukannya bertolak belakang, dia mengeluarkan kata-kata kotor (untuk membalaa kritik Rizal Ramli). Kasus ini bisa jadi bergejala sindrom kejiwaan,” tegas dia, dalam keterangannya, Jumat (14/9/2021).

Sindrom ini hanya menyerang satu dari ratusan orang. Kondisi kompleks yang memengaruhi kondisi fisik dan sosial penderitanya.

“Bisa jadi keinginan besar menjadi pejabat tinggi, namun kedudukan/jabatan yang didapat hanya alang-alang saja,” imbuhnya.

Syafril Sofyan | Foto: Istimewa

Jika diamati dalam setiap diskusi di media, Ngabalin selalu menyerang dengan cara “merasa paling benar”. Dia cenderung sangat sombong, sok kuasa dan tidak tahu aturan.

“Ngabalin selalu berbicara ‘nyerocos’ tanpa peduli waktu diskusi bukan miliknya. Biasanya menyatakan kepada pihak lawan diskusi agar jangan menggunakan diksi sopan dan beretika, sebaliknya malah dia merasa berjaya menggunakan diksi kotor dan kasar dalam menyerang lawannya,” imbuhnya.

Depresi mental ini dinamakan ‘syndrom tourette’ merupakan mental depresi. Sering dianggap sebagai penyakit yang “tidak tampak”. Penderita penyakit ini sering berjuang sendirian dalam sunyi di balik pintu yang tertutup.

“Orang yang menderita gangguan jiwa menyadari bahwa kondisinya dapat memengaruhi orang-orang di sekitarnya. Karena stigma yang melekat kuat pada gangguan jiwa, seseorang biasanya takut mengakui sikap kasar mereka itu karena penyakit yang dideritanya,” lanjut Aktivis Pergerakan 77-78 ini.

Ali Mochtar Ngabalin | Foto: Istimewa

“Jika Ngabalin memang menderita depresi tersebut sangat disayangkan jika Istana menggunakan orang seperti ini, dan cenderung berbahaya. Beberapa beberapa elit buzzer yang sering berperilaku sama bisa jadi menghidap penyakit tersebut, coba amati Ferdinand Hutahean dan lainnya,” tandas Sekjen FKP2B ini.

Sebelumnya, Ali Mochtar Ngabalin merespons pernyatan mantan Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Rizal Ramli yang menyebut presiden Joko Widodo (Jokowi) layak dibui lantaran banyak menyebarkan berita bohong, salah satunya soal mobil esemka.

Ngabalin mengatakan, Rizal Ramli hingga sekarang ini masih menaruh dendam kepada Pemerintah Jokowi lantaran dipecat, Ngabalin bahkan menyebut, Dendam Rizal Ramli kepada Jokowi menutupi akal sehatnya.

“Kalau yang ini orangnya sangat pendendam karena sakit hatinya dalam banget masuk sampai sum-sum tulang belakang, nafsunya melebihi akal sehat dan yang tertinggal dalam otaknya hanya septic tank tunggu waktunya karena sudah bau tanah,” tutur Ali Ngabalin di Twitter-nya, Senin (13/9/2021).(Redaksi2/KEDAIPENA)