Skip to main content
x

Rizal Ramli: Ibu Kota Baru untuk Kepentingan Siapa?

KONFRONTASI-Ekonom senior Rizal Ramli memprediksi pemindahan Ibu Kota Negara baru ke Kalimantan Timur tak akan berhasil.

Pernyataannya itu disampaikan kepada politikus Fadli Zon saat disinggung pertanyaan soal rencana ibu kota negara baru.

Menurutnya, pemindahan ibu kota negara baru dari Jakarta ke Kalimantan Timur hanya akan menghabiskan waktu saja.

Berkaca pada negara Brazil yang dinilai gagal dalam memindahkan ibu kotanya, dan Brazilian City hanya sebagai simbolik saja, sedangkan aktivitas masih berjalan di Rio de Jenairo.

Pasalnya jarak Rio de Jenairo dengan ibu kota baru Brazilian City berjarak 6 jam menggunakan pesawat, tak jauh berbeda dengan jarak DKI Jakarta dan Kalimantan Timur.

"Nah kita tiba-tiba bikin ibu kota di Kalimantan timur pertanyaannya siapa yang mau tinggal di situ?," tutur Rizal Ramli.

Dalam kesempatan itu Rizal Ramli juga mempertanyakan orang-orang yang akan tinggal di ibu kota negara baru di Kalimantan Timur.

Menurutnya pegawai negeri dengan gaji pas-pasan pasti akan berat untuk pindah ke Kalimantan Timur.

"Pejabat dengan gaji pas-pasan masa mau, kecuali pejabat korup," ujar Rizal Ramli.

Selain itu Rizal Ramli juga menyoroti anggaran pembangunan Ibu Kota Negara baru di Kalimantan Timur.

Dikatakannya pembiayaan pembangunan dari hasil penjualan atau penyewaan gedung milik negara yang berada di pusat ibu kota Jakarta.

Namun, menurut kacamata Rizal Ramli pembangunan di Kalimantan Timur tak akan menarik perhatian real estate swasta.

"Kalau perusahaan-perusahaan real estate besar, gak akan mau bermain real estate di Kalimantan Timur kecuali dipaksa

Lebih lanjut ia menuturkan kebanyakan perusahaan real estate cenderung memilih membuat BSD baru, kota-kota satelit baru di pulau Jawa.

"Nah yang tertarik untuk itu adalah BUMN China, beli tanah di situ bangun ibu kota baru, tapi penghuninya itu siapa nanti," ujar Rizal Ramli, dikutip dari YouTube Fadli Zon yang diunggah 4 Oktober 2021.

"Rakyat mah gak mau pindah ke situ, penghuninya ngundang kagi pasti penduduk RRC buat penduduk di situ, bisa jadi ibu kota baru tapi itu ibu kota Beijing baru bukan ibu kota Republik Indonesia baru," katanya lagi menambahkan.

Dikhawatirkan pemerintahan di sana dikuasai oleh non pribumi, Rizal Ramli mengungkapkan jika itu terjadi tidak akan ada yang bisa melakukan demo baik rakyat maupun mahasiswa.

"Kalau ibu kotanya di kalimatan timur siapa yang mau demo ke sana, rakyat pun gak bisa mengeluh," ucapnya lagi.[mr/pr]