Skip to main content
x

Oligarki Merusak Demokrasi dan NKRI

KONFRONTASI- ‘’Oligarki merusak demokrasi,’’ ungkap  tokoh nasional DR Rizal Ramli dalam sebuah seminar di UI. Tak hanya itu, akademisi Universitas Paramadina Herdi Sahrasad melihat, Oligarki merusak NKRI, merobohkan negara dan masyarakat, membuat rakyat kehilangan harapan dan masa depan karena hukum diperjualbelikan, UU jadi komoditi .

Dan situasi politik yang hanya dikuasai oligarki ini, (oligarki adalah  satu kelompok elite tertentu yang jahat dan sengaja  ambil untung di tengah kesengsaraan rakyat), sangat merusak asas dan tatanan demokrasi.

Image

 DIALOG- Beberapa hari yang lalu Rizal Ramli ngobrol  dgn senior2 yg masih bersemangat: x Komandan Kopasus Mayjen P Sunarko, x Komandan POM ABRI LetJen P. Syamsu Djalal dan LetJen P Arifin Tarigan. Mereka cinta Republik

Dan politik oligarki yang dipraktikan oleh elite politik, pejabat-pejabat dan pengusaha, pasti mendatangkan berbagai kerugian, kerusakan dan kehancuran yang akan menimpa masyarakat Indonesia. Munculnya UU Cipta Kejra (Omnibus Law). UU Minerba, dll yang berwatak korup, tamak dan serakah itu, mengancurkan NKRI dan demokrasi.

Image

Jika melihat ke belakang, oligarki politik seakan telah mendarah daging di Indonesia. Seperti dikutip dari Tempo.co pada zaman orde baru, dinasti politik dapat terlihat dengan jelas di tingkat nasional. Saat Soeharto menjabat sebagai presiden untuk kesekian kalinya, hal tersebut juga diikuti oleh anaknya, Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut. Tutut sempat menjadi anggota MPR RI dari fraksi golkar dari 1992-1998. Setelah itu Tutut juga sempat ditunjuk sebagai Menteri Sosial, namun masa jabatannya hanya terhitung sebentar karena datangnya tuntutan reformasi. 

Di era kepemerintahan Joko Widodo saat ini oligarki politik juga dapat terlihat dari diangkatnya Angela Herliani Tanosoedibjo sebagai Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pun begitu dengan staf khusus kepresidenan, di sana terdapat dua nama yakni Diaz Hendropiyono dan Putri Indahsari Tanjung. Angela dan Putri merupakan anak seorang konglomerat yang menguasai lebih dari satu media di tanah air. Sedangkan Diaz merupakan anak dari mantan Kepala Badan Intelijen Negara, A.M. Hendropriyono.

Sementara itu tingkat lokal, dinasti politik muncul dari beberapa wilayah seperti Dinasti Limpo yang menguasai Sulawesi Selatan, Dinasti Narang memegang Kalimantan Tengah, Dinasti Sjahroeddin di Lampung, Dinasti Fuad di Bangkalan, Madura, dan Dinasti Chasan Sochib memegang kuasa di Banten. 

Menurut dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Kuskridho Ambardi oligarki atau dinasti politik di Indonesia muncul lantaran demokrasi yang lemah. “Demokrasi hanya sebagai baju, kalau dibuka isinya ya kartel atau oligarki,” ungkapnya dalam seminar akhir tahun FISIP UIN Jakarta bertema Partai Politik dan Kecenderungan Politik Oligarki. Lebih lanjut Kuskridho mengatakan bahwa dinasti politik datang dari kartel politik. 

(Zulham Fardiansyah, jurnalis, penulis dan pemerhati politik/berbagai sumber)