Skip to main content
x

Modali Usaha Anak Jokowi Jadi Siasat Perusahaan Pembakar Hutan Lolos Dari Jeratan Hukum?

KONFRONTASI -  Aksi borong saham PT Panca Mitra Multiperdana Tbk senilai Rp92,2miliar yang dilakukan Kaesang Pangarep pada Rabu (10/11/2021) membuat sebagian publik tercengang dan bertanya-tanya sumber kapital putra bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu. Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDem), Iwan Sumule-pun mengaku heran dengan banyaknya pejabat dan keluarganya yang bertambah kaya di saat sebagian rakyat mengalami kesusahan di masa pandemi. Aktivis pergerakan mahasiwa '98 itu juga menyoroti Kaesang yang dianggapnya semakin kaya.

"Selain Luhut yang tambah kaya, anak @jokowi, Kaesang, pun semakin kaya. Pemimpin harus bisa meyakinkan rakyat bisa mengatur dan memberi hidup rakyatnya lebih baik dari harapan hidup rakyat itu sendiri. Keserakahan dan ketamakan bisa mencelakakan manusia," tulis Iwan Sumule dikutip dari Twitter pribadinya pada Senin (15/11/2021). Sementara itu, aktivis ProDem lainnya, Nicho Silalahi mempertanyakan sumber dari uang Kaesang yang digunakan untuk memborong saham tersebut.

"Setelah anak dan mantu jadi walikota kini si bungsu beli saham ± 92 M. Uang dari mana nih?" tanya Nicho di akun Twitternya. "Di saat rakyat kesulitan ekonomi die menjadi pengusaha sukses. Ternyata Pandemik bukan saja meningkatkan Harta pejabat saja tapi juga meningkatkan harta anak pejabat loh. Hebat ya Covid," imbuhnya.


Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (10/11/2021), Kaesang memborong saham PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), sebuah perusahaan yang memproduksi makanan beku berbasis udang. Total saham yang dibeli Kaesang Pangarep yakni 188,24 juta lembar saham atau sekitar 8 persen dari total keseluruhan saham yang ditempatkan di perseroan.

Apabila mengacu pada harga saham PMMP per lembarnya Rp 490, maka nilai transaksinya cukup mencengangkan, yakni mencapai Rp 92,2 miliar. Kaesang Pangarep membeli saham di PT Panca Mitra Multiperdana Tbk melalui perusahaan miliknya, PT Harapan Bangsa Kita atau yang lebih dikenal dengan GK Hebat.

Seperti diketahui, GK Hebat adalah perusahaan di bidang pengolahan makanan dan minuman yang menjadi platform akselerator UMKM yang didirikan pada tahun 2019 silam.Di GK Hebat, Kaesang menjabat sebagai CEO & Co-Founder. Beberapa merek yang berada di bawah kendali GK Hebat antara lain Sang Pisang, Ternak Kopi, Yang Ayam, Lets Toast, Enigma Camp, dan Siap Mas.


GK Hebat Kok Bisa Kuat?

PT Harapan Bangsa Kita atau yang lebih dikenal dengan GK Hebat merupakan kongsi tiga perusahaan, masing-masing PT Siap Selalu Mas milik Gibran dan Kaesang; PT Wadah Masa Depan yang terafiliasi dengan keluarga Gandi Sulistiyanto (Direktur Utama Sinar Mas); dan PT Gema Wahana Jaya milik keluarga Theodore Permadi Rachmat, satu dari 50 orang terkaya di Indonesia. Perusahaan tersebut diduga hanyalah kedok. 

Di awal berdirinya GK Hebat, Anthony Pradiptya menjabat direktur dan Kaesang sebagai komisaris. Anthony Pradiptya merupakan putra Gandi Sulistiyanto. Di PT Wadah Masa Depan, ia menjabat direktur utama, sementara Gibran sebagai komisaris utama dan Kaesang sebagai direktur. Ada juga Wesley Harjono, menantu Gandi Sulistiyanto, sebagai komisaris.

Keluarga Sulistiyanto membangun perusahaan induk dalam bidang energi, infrastruktur, properti, dan digital lewat PT Gan Konsulindo (dikenal juga Gan Kapital) pada 2011. PT Gan Kapital memakai layar ketiga lewat PT Sinergi Optima Solusindo, unit bisnis strategisnya, dengan memiliki saham senilai Rp50 juta di PT Wadah Masa Depan. Sinergi Optima Solusindo, dalam keterangan website resmi Gan Kapital, adalah perusahaan konsultasi bisnis yang melayani kebutuhan digital venture, energi, dan sebagainya. Wesley dan Anthony menjabat direktur dan komisaris di PT Sinergi.

Nama Gandi Sulistiyanto muncul sebagai pemegang saham di PT Gan Kapital, bersama kedua anaknya, Anthony (Direktur Utama) dan Edwin Prasetya (Direktur). Sementara Wesley Harjono menjabat Direktur Keuangan.

Sulistiyanto adalah pebisnis yang punya karier bagus di Sinar Mas sejak bergabung pada 1992. Ia menjabat Direktur Utama Grup Sinar Mas sejak 2002 dan Wakil Ketua Umum Eka Tjipta Foundation, organisasi nirlaba keluarga Widjaja, pendiri Sinar Mas. Sinar Mas adalah perusahaan konglomerasi yang punya ratusan unit usaha, dari bisnis bubur dan kertas, sawit, perbankan, sekuritas dan asuransi, telekomunikasi, properti, hingga infrastruktur dan pertambangan batubara.Eka Tjipta Widjaja, yang meninggal dunia dalam usia 98 tahun pada Januari 2019, adalah satu dari lima orang terkaya di Indonesia.

Selain perusahaan keluarga Sulistiyanto, ada PT Aldiracita Sekuritas Indonesia yang memiliki saham senilai Rp29,6 juta di PT Wadah Masa Depan. Perusahaan terbuka ini beralamat di Sinar Mas Land Plaza Menara III, Jakarta Pusat.

Aldira Sekuritas punya anak usaha bernama PT Surya Timur Alam Raya (STAR Investment) di mana Frenky Loa adalah komisaris utamanya. Frenky Loa juga menjabat komisaris utama di PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry, perusahaan kemasan kertas dan karton Grup Sinar Mas. Afiliasi lain, PT Aldiracita Sekuritas Indonesia memiliki saham senilai Rp10,7 juta di PT Ternak Kopi Indonesia, salah satu usaha rintisan kedua anak Presiden Jokowi.

Sementara konglomerat TP Rachmat atau dikenal Teddy Rachmat memiliki saham senilai Rp9.009.600 melalui PT Gema Wahana Jaya di GK Hebat. Ia pemilik saham mayoritas senilai Rp14,4 miliar di PT Gema Wahana Jaya, dan putra sulungnya, Christian Ariano Rachmat yang juga Wakil Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk. pemilik saham senilai Rp1 juta.

Lalu, putra keduanya, Arif Patrick Rachmat, menjabat komisaris di PT Gema Wahana Jaya.


‘Tidak Ada Makan Siang Gratis’


Nailul Huda, peneliti ekonomi digital dan inovasi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengenai relasi bisnis antara Gibran dan Kaesang, yang bukan cuma pengusaha kuliner tapi juga anak Presiden Jokowi, dengan pengusaha-pengusaha yang sudah establishment tersebut. Huda berkata bahwa ia lebih condong menilai “tidak ada makan siang gratis” dari relasi bisnis tersebut. “Kalau tidak melihat sisi ekonomi-politiknya, startup bisnis yang dimiliki atau dikelola secara bersama oleh Gibran dan Kaesang merupakan startup bisnis seperti biasa.”

Artinya, mereka akan membutuhkan suntikan modal untuk bisa terus beroperasi maupun berekspansi. Model bisnis yang dikenal doyan bakar uang meskipun sudah membuka beberapa cabang di kota-kota Indonesia. “Kalau cuman mengandalkan brand ‘bisnis anak presiden’ terus invest, ya bisa jadi hanya upaya untuk mendekati presiden,” kata Huda.


GK Hebat Disponsori Perusahaan Perusak Hutan?

Kantor berita Associated Press (AP) pernah mempublikasi hasil analisa dokumen setebal 1.100 halaman yang mencatat riwayat 27 perusahaan perkebunan pemasok Sinar Mas. Ternyata, semua perusahaan itu dimiliki oleh sepuluh individu, enam di antaranya merupakan pegawai dan dua lainnya adalah bekas pegawai Grup Sinar Mas. Salah seorang pemilik bahkan tercatat memiliki koneksi langsung dengan keluarga Eka Tjipta Widjaja. Beberapa pemilik tercatat bekerja di bagian keuangan Sinar Mas. Perusahaan yang aktif di Riau lewat Asia Pulp And Paper itu selama ini menguasai 27 perusahaan perkebunan lokal lewat berbagai perusahaan gabungan yang semuanya mempekerjakan pegawai Sinar Mas, mulai dari pegawai eksekutif hingga pegawai IT dan akuntan sebagai direktur atau komisioner.

AP Juga menemukan sebuah perusahaan yang dimiliki oleh dua pegawai Sinar Mas aktif menggunduli hutan di Kalimantan sejak 2014. Perusahaan itu antara lain menjual hasil kayu untuk dijadikan pellet bahan bakar. Padahal Sinar Mas sejak 2013 berjanji akan ikut membantu menghentikan deforestasi hutan Indonesia. Ke-27 anak perusahaan Sinar Mas ikut diduga aktif melakukan pembukaan lahan yang berujung kebakaran hutan hebat pada 2015 silam.

Selain temuan kantor berita AP soal dugaan keterlibatan Sinar Mas dalam pembakaran hutan, Koalisi Anti Mafia Hutan (KAMH) yang beranggotakan WWF Indonesia, Pusat Studi Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Andalas, Integritas, Hutan Kita Institute, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Auriga, Environmental Paper Network, Woods & Wayside International serta Rainforest Action Network pernah melaporkan hasil investigasi terkait struktur kepemilikan bisnis kehutanan Sinar Mas Grup yang diduga mengalir ke beberapa perusahaan di negara surga pajak kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Surat yang dikirimkan itu tertanggal 25 Juni 2018.


"Atas temuan tersebut, Koalisi memandang perlu untuk menyampaikan salinannya ke Presiden Republik Indonesia untuk dijadikan sebagai referensi atau bahan untuk ditindaklanjuti," demikian bunyi surat tersebut, yang dikutip Rabu (27/6/2018).

Perwakilan Koalisi Antimafia Hutan Timer Manurung mengatakan pihaknya meminta pemerintah segera menerapkan kebijakan nomor identitas tunggal (single identity number) terhadap nomor kependudukan, nomor paspor, nomor wajib pajak, dan nomor SIM.Dalam hal ini, Koalisi Antimafia Hutan menduga Sinar Mas Grup dan Asia Pulp & Paper (APP) memiliki hubungan afiliasi terhadap beberapa perusahaan pemasok kayu yang diklaim keduanya sebagai pemasok independen.

Sebelumnya, Peneliti Yayasan Aurgia--salah satu bagian dari koalisi--Syahrul mengatakan APP mengaku enam dari total 33 perusahaan yang memasok kayu untuk APP merupakan perusahaan milik APP.Dengan demikian, sisanya sebanyak 27 perusahaan pemasok kayu merupakan perusahaan independen atau tak memiliki hubungan dengan APP. "Setelah kami telusuri, dari 27 perusahaan sisa (yang disebut) independent supplier itu, ternyata 24 di antaranya terhubung dengan APP atau Sinar Mas Grup," kata Syahrul dalam pemaparan riset.

Analisis itu ditemukan dari profil perusahaan yang ada di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Data itu terbuka bagi publik.Beberapa perusahaan yang menurut APP adalah pemasok independen diduga memiliki alamat kantor yang sama dengan kantor pusat Sinar Mas Grup di Jakarta atau sama dengan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP).

"Kepemilikan perusahaan tersebut mengalir ke delapan individu, tujuh di antaranya merupakan pegawai atau mantan pegawai di anak perusahaan Sinar Mas, 16 individu lain terdaftar sebagai komisioner dan direktur perusahaan Sinar Mas," papar Syahrul.Selain itu, Koalisi Antimafia Hutan ini juga menduga 20 perusahaan cangkang di negara surga pajak merupakan pemilik manfaat (beneficial ownership) dari pemasok yang dimiliki APP.


Menurut Syahrul, 13 perusahaan itu berada di British Virgin dan tujuh perusahaan di Mauritius, Singapura, Jepang, dan Belanda.Ia menegaskan, seringkali perusahaan cangkang dimanfaatkan untuk penghindaran pajak, pencucian uang, dan menyembunyikan pemilik uang sebenarnya.Selain melaporkan hasil analisis tersebut ke Jokowi, Koalisi Antimafia Hutan juga memberikan riset yang dilakukan bersama lembaga lainnya kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Keuangan, Kementerian Hukum dan HAM, Otoritas Jasa Keuangan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.

Selain Sinar Mas, perusahaan sawit PT Gawi Bahandep Sawit Mekar yang merupakan anak usaha Triputra Group milik konglomerat TP Rachmat pernah ditetapkan sebagai tersangka kasus kebakaran hutan di Kalimantan Tengah oleh Polda Kalteng pada 2019 silam. Namun, pihak perusahaan memang sudah menyanggah tuduhan sebagai pelaku karhutla dengan menyebut api berasal dari luar konsesi perusahaan.Kini, kasus kebakaran hutan yang melibatkan beberapa perusahaan kertas, loging, dan sawit pada masa pemerintahan Jokowi ibarat asap yang tertiup angin besar dan menghilang begitu saja. Tapi, dampaknya terhadap lingkungan yang berakibat bencana seperti banjir bandang tak bisa terelakan. Lalu, kepada siapa rakyat harus mengadu untuk mendapatkan keadilan lingkungan yang berkeadilan?   (Redaksi2/BICARALAH)