Skip to main content
x

MISTERI YANG MENUTUPI MALAM

Juftazani

Di saat langit gelap, malam mengguntur, 
Hujan deras dan petir menyasar, kilat merobek kegelapan malam’
Mereka semakin nyenyak tidur
Kami keluar menerobos malam
Anggur di tangan, Butir-butir hujan yang dingin, gelegar petir yang mengguntur
Tiupan angin kencang menyisir pepohonan 
Tiada henti bertasbih sambil bergoyang kekiri  ke kanan

 
Sang peri termenung di jendela
menangis dan air matanya jatuh 
butiran-butiran kesedihan hanyut ke laut
Untukku tersedia cawan bumi, rahmat pilihan dari kekasihku

Langit gelap,  hujan  deras
Petir menyasar, kilat merobek jiwa-jiwa tiada harapan
Tidak ada detak jam, nyanyian jangkerik
Dahan-dahan pohon yang bergetar merayap seperti ular berbisa
Dari kedalaman ruhku  
Hanya keluar suara nyanyian langit 
Pohon-pohon larut dalam zikir jahar
Menggelegar bagai taman surga yang mengekalkan 
Dentaman drum musik yang mengingatkan percumbuan azali
Berdua mabuk asmara - langit tanpa pelita

Peri dan sejuta Iblis  terbirit-birit lari ke alam gelap
Tempat mereka berlindung yang sangat gelap dan kotor
Setelah tragedi “Aba Wastakbara”
Yang menggemparkan para pencinta 

Di luar kulihat sunyata, kosong dan rapuh
Serapuh kilat yang menyambar hebat
Namun digugurkan gelap dan kembali senyap
Yang abadi hanya cahaya dalam jiwa
Sepenuh raga, sepenuh jiwa saat mengambil wudu
Di telaga kehidupan
Aku rindu kekasih, aku rindu kekasih
Dan engkau bagai sekuntum kembang layu terkulai oh peri
Dan dunia bayangan disapu angin derita
Di gua-gua gelap dan pengap
Tak kelihatan tangan yang menawar secangkir anggur
Untuk kubawa dalam gelisah
MencariNya dan selalu rindu untuk berjumpa
Tapi bagaimana mungkin aku dapat menerangkan misteri-misteri
Yang menutupi malam
Kepada peri dan jin-jin yang sangat gemar menipu diri?

Tangerang, 28 Februari 2019

NID
156750