Skip to main content
x

Malala Yousafzai Dapat Ancaman dari MIlitan Taliban yang Kabur dari Tahanan

KONFRONTASI- Aktivis dan peraih Nobel asal Pakistan, Malala Yousafzai kembali mendapatkan ancaman dari militan Taliban dalam unggahan di akun Twitter.

Ancaman tersebut muncul setelah penembak Malala pada 2012, Ehsanullah Ehsan melarikan diri dari tahanan pemerintah.

Ehsan yang merupakan anggota dari Taliban Pakistan atau Tehrik-i-Taliban ditangkap pada 2017 dan ditahan di sebuah rumah persembunyian oleh badan intelijen Pakistan. Tetapi pada Januari 2020 ia melarikan diri secara misterius.

Sejak pelariannya, Ehsan telah diwawancarai dan berkomunikasi dengan jurnalis Pakistan. Ia juga memiliki banyak akun Twitter yang kerap mencuit ancaman dalam bahasa Urdu.

Terbaru, dalam cuitannya, Ehsan mendesak Malala dan ayahnya untuk kembali ke Pakistan untuk menyelesaikan urusan mereka. Ia juga mengatakan tidak ada kesalahan untuk kali ini.

Menanggapi cuitan tersebut, Malala mempertanyakan bagaimana militer Pakistan dan Perdana Menteri Imran Khan bisa lengah hingga Ehsan melarikan diri.

"Ini adalah mantan jurubicara Tehrik-i-Taliban Pakistan yang mengklaim telah menyerang saya dan banyak orang yang tidak bersalah. Dia sekarang mengancam orang-orang di media sosial. Bagaimana dia melarikan diri?" cuit Malala.

Dimuat Associated Press, penasihat perdana menteri, Raoof Hasan mengatakan pemerintah sedang menyelidiki ancaman yang dibuat oleh Ehsan dan meminta Twitter untuk menutup akun tersebut.

Twitter sendiri telah menangguhkan semua akun Ehsan secara permanen.

Ehsan mengaku bertanggung jawab atas penembakan Malala di dalam bus sekolah yang ia tumpangi di Lembah Swat pada 2012. Ketika itu, Ehsan menanyakan nama Malala dan langsung menembaknya dengan tiga peluru. Namun Malala berhasil bertahan hidup.

Penembakan terhadap Malala dilakukan karena ia aktif mempromosikan pendidikan untuk anak perempuan di Pakistan, bersama ayahnya, Ziauddin Yousafzai.

Ayah Malala merupakan seorang guru yang mengelola sekolah di Lembah Swat untuk anak laki-laki dan perempuan. Pada 2007, ketika Taliban menguasai wilayah tersebut, mereka memaksa perempuan keluar sekolah.

Bahkan pada 2014, Ehsan juga ikut dalam serangan terhadap sekolah umum tentara Pakistan yang menewaskan 134 orang, kebanyakan anak-anak dan beberapa di antaranya berusia 5 tahun. [mr/rmol]

NID
192012