Skip to main content
x

Jurgen Klopp Terapkan Gegenpressing, dan Sewa "Thinktank" Amerika Untuk Hancurkan Barcelona di Liga Champion

KONFRONTASI -    Liverpool memulai sebuah pertandingan yang sangat tidak menguntungkan di Liga Champions.

Mereka tertinggal aggregat 0-3 dari Barcelona, dan memulai misi sulit di Anfield.

Tetapi Klopp tampak sangat tenang seolah sudah memperhitungkan semuanya.

Divock Origi memecah kebuntuan di laga yang baru berjalan 7 menit.

Disusul dwi gol Wijnaldum dan sepak pojok legendaris Alexander-Arnold yang menuju Origi menjadi penutup skor 4-0 untuk kemenangan Liverpool.

Di bench semua pemain berpesta, namun di bangku kursi penonton tempat jajaran direksi dan staf analis berkumpul, William Spearman bersiap untuk laga selanjutnya.

Pemain Liverpoool, Wijnaldum merayakn gol ke gawang Barcelona

Pemain Liverpoool, Wijnaldum merayakn gol ke gawang Barcelona (Twitter @ChampionsLeague)

 

Sosoknya memang nyaris tidak pernah tersorot kamera, bahkan hanya ada satu dokumentasi di Liverpool TV mengenai dirinya.

Adalah ketika Liverpool menang atas Manchester United di Anfield dengan skor 3-1 saat Natal 2018, secara tidak sengaja William Spearman muncul.

Spearman sejatinya adalah ilmuan, latar belakanya sangat mentereng.

Julukannya "American Boffin," Spearman lahir di Chicago, dan ia mempelajari fisika di University of Dallas, setelahnya ia menyelesaikan gelar PhD nya di harvard University.

Mungkin gambar 1 orang, laptop dan teks yang menyatakan 'AVA'

Atas dasar itulah semua sangat rinci bagi Spearman, semuanya terukur, dan Klopp menyebutnya sebagai orang gila.

Mengapa? Spearman mengukur semua dan membuat pola pergerakan lawan per 15 detik, mempermudah Gegenpressing yang diperagakan Klopp.

Selain itu, Spearman menganalisis bagaimana pemain Liverpool bagaimana gerakan, gestur dan potensi cidera selama berlaga.

Spearman tidak sendirian, ia bekerjasama dengan 4 orang yakni Greg Mathieson, James French yang menganalisis lawan Harrison Kingston dan Mark leyland yang melakukan analisis setelah laga.

Spearman melakukan sinkronisasi dari data keduanya, dan kemudian memadukan dengan pengamatan dan statistiknya sendiri untuk diberikan kepada Klopp.

Spearman juga merupakan inovator, ia membuat alat yang menganalisis dan menciptakan statistik yang kemudian diolah secara tabulasi.

Ini yang membuat Liverpool tidak ragu merekrutnya, karena alat tersebut sangat membantu taktik Klopp yang sangat menekan.

Di waktu senggangnya kini, Spearman membuat model untuk menganalisi bagaimana Liverpool bisa menciptakan peluang per 15 detik.

Spearman juga visioner 5 tahun lalu, statistik hanya dianggap sebelah mata di sepak bola, ia membuat model alat yang membuat data dari pemain hoki es dan caranya melakukan hitting.

Ini menarik bagi Liverpool dan chef data analyst Liverpool, Ian Graham dan Michael Edwards, sang sporting director.

William Spearman, analis Liverpool
William Spearman, analis Liverpool

Keduanya kemudian menarik Spearman pada 2016 tujuannya meningkatkan efektifitas tim.

Pemilik Liverpool memiliki banyak uang, tetapi tidak sebanyak Sheikh Mansour di Manchester City atau Roman Abaramovic di Chelsea.

Maka dari itu, semua di Liverpool sangat terukur dan Spearman kemudian pindah dari Chicago yang hangat ke Melwood yang dingin dan lembab.


Namun, itu tidak menjadi soal, teribosan yang dilakukan adalah kunci bagaimana Liverpool bisa menjadi juara Liga Champions ke enam kalinya.

Selain itu, Spearman, sangat dipuji oleh nama-nama yang sangat ahli di bidang statistik seperti Sarah Rudd di Arsenal atau Javier Fernandez di Barcelona.

Spearman juga berjasa menghentikan dahaga juara Liga Inggris Liverpool selama 29 tahun, analisisnya dipuji oleh jurnalis Simon Hughes.

"Liverpool juara karena pemainnya bekerja keras," tulisnya di The Athletic.

"Namun, keseimbangan antara sepak bola dan program analisisnya adalah kunci utama," ulasnya.(Juft/SUPERSKOR)