Skip to main content
x

Isu Pandora Papers Ternyata Cuma Angin Lewat, Ini Buktinya

KONFRONTASI  -   Nama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan baru-baru ini terseret dalam laporan Pandora Papers.

Seperti diketahui dalam laporan tersebut terdapat bocoran finansial rahasia yang berasal dari 14 agen yang mengatur perusahaan cangkang di seluruh dunia.

Melihat hal tersebut  Ekonom Yanuar Rizky berpendapat bahwa isu pandora papers dimata kedua pejabat publik hanya sebatas isu biasa.

"Di mata mereka berdua isu ini sebenarnya semilir-semilir, ini tidak begitu kuat jika tidak follow the money," ucapnya saat webinar yang diadakan narasi institute, Jumat (8/10/2021).

Hal ini dikarenakan belum ada otoritas yang menanggapi isu tersebut dengan serius memerika dokumen tersebut, serta melakukan investigasi apakah benar ada pelanggaran terjadi.

Menurutnya tanpa itu isu ini hanya sebatas angin lewat seperti pada isu Panama papers beberapa waktu lalu.

"Seperti Direktorat pajak apakah dipress, dikejar, aset di Pandora papers, dihitung apakah benar ada yang tak sesuai. kedua dari sudut corporate action dari OJK, jika ada penyelidikan baru isu ini akan bunyi," ujarnya.

Yanuar mengatakan isu ini hanya akan menjadi letupan isu yang hanya mempengaruhi pasar keuangan dan investasi semata.  Ia berpendapat penempatan kekayaan atau dana di negara surga pajak memang hal lazim dilakukan oleh para pengusaha untuk memaksimalkan efisiensi dana investasi.

"Saya melihat Pandora papers mungkin para jurnalis ini serius, tapi orang disitu biasa saja karena memang ini permainan mereka dan itu hal lazim saja dilakukan dari sudut investasi, bahkan mungkin ada win-win solution diantara mereka," ujarnya.

Meski demikian dari sisi politik memang isu ini akan menyita perhatian publik dikala ada usulan untuk melakukan tax amnesty kedua di saat masih ramai isu pengemplang pajak.

"Karena saya ketahui. pak Airlangga menginisiasi tax amnestry kedua, secara komunikasi politik ini tak ada wibawa, seakan-akan menyalamatkan diri, karena dekat pemilu biar ada kertas putih PPATK," ujarnya.

Seperti diketahui, Luhut Binsar Pandjaitan menjadi salah satu pejabat atau orang kaya yang diduga, terlibat dalam penyembunyian kekayaan atau pengemplang pajak di sejumlah negara surga pajak lewat perusahaan cangkang.

International Consortium of Investigative Journalism (ICIJ) dalam laporan mereka yang disebut 'pandora papers' mengungkit nama Luhut dalam laporan tersebut.Dalam laporan tersebut Luhut disebutkan menduduki jabatan di perusahaan cangkang yang bergerak dibidang minyak dan gas bumi bernama Petrocapital S.A. yang terdaftar di Panama pada 2006.

Menanggapi hal tersebut Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Jodi Mahardi mengatakan bahwa Petrocapital dibentuk di Republik Panama. Perusahaan tersebut dibuat untuk pengembangan bisnis di luar negeri, khususnya di wilayah Amerika Tengah dan Selatan.

Adapun modal awal yang disetor kata Jodi sebesar US$5 juta saat itu.

"Bapak Luhut B. Pandjaitan menjadi Direktur Utama/Ketua Perusahaan pada Petrocapital S.A pada 2007 hingga pada 2010," kata jodi lewat rilisnya, Senin (4/10/2021).

Ia menerangkan selama perjalannya perusahaan mengalami beberapa kendala sehingga belum mendapat kepastian investasi. Sehingga 2010 Luhut mengundurkan diri dari Petrocapital

"Selama Bapak Luhut B. Pandjaitan menjabat di Petrocapital sampai dengan mengundurkan diri pada 2010," katanya.Untuk itu ia mengatakan tidak ada kerjasama perusahaan tersebut dengan perusahaan migas negara.

Seperti diketahui dalam laporan ICIJ sedikitnya memuat nama  100 miliarder, 30 pemimpin dunia dan 300 pejabat yang terlibatb dalam kesepakatan rahasia dan aset tersembunyi.

Dokumen tersebut berisi 11,9 juta file dari perusahaan yang disewa oleh klien kaya raya untuk membuat perusahaan cangkang dan perwalian di negara surga pajak seperti Panama, Dubai, Monako, Swiss dan Kepulauan Cayman. [Redaksi2/AKURAT.CO]