Skip to main content
x

Ini 11 Kegagalan Pencapaian Target APBN 2020

KONFRONTASI-Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad menyatakan mayoritas indikator ekonomi makro pemerintah meleset dari target yang tertuang di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) 2020. Hal ini terjadi karena tekanan pandemi virus corona atau covid-19.

"Kalau dilihat dari asumsi APBN, hampir sebagian besar meleset, tapi kalau dibandingkan perubahan di Perpres 72, sebagian meleset dan sebagian tidak," kata Tauhid dalam Catatan Akhir Tahun INDEF secara virtual, Rabu (23/12).

Target pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semula ditetapkan sebesar 5,3 persen lalu berubah menjadi 0,5 persen dalam Perpres 72. Nyatanya saat ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan ekonomi akan berada di minus 1,7 persen sampai minus 2,2 persen pada akhir tahun.

"Yang menarik kita revisi pertumbuhan ekonomi biasanya hanya dua kali, tapi sekarang empat kali, jadi ada kegamangan dan ketidakpastian dari pemerintah yang berdampak ke dunia usaha. Jadi bisa membuat ragu karena sudah empat kali revisi dan kemungkinan akan revisi lagi," katanya.

Kedua, inflasi. Realisasi inflasi saat ini masih sekitar 1,59 persen secara tahunan per November 2020. Dari sisi target, memang lebih rendah dari estimasi pemerintah yang semula 3,1 persen lalu menjadi 3 persen.

"Dari kacamata normal, inflasi semakin rendah, semakin baik, saya kira tidak masalah. Tapi karena ini disebabkan daya beli yang rendah, kemampuan konsumsi rendah, maka ini dampak buruk dan ini lampu kuning," tuturnya.

Ketiga, nilai tukar rupiah. Target awal ada di kisaran Rp14.400 per dolar AS lalu diubah menjadi Rp14.600 per dolar AS. Sementara saat ini mata uang Garuda ada di kisaran Rp14.558 per dolar AS. Menurutnya, indikator ini yang menjadi sinyal positif bagi ekonomi dan keuangan.

Keempat, suku bunga SPN tiga bulan sebesar 3,21 persen. Padahal, target awal berada di kisaran 5,4 persen dan sempat diubah ke 4,5 persen. Menurutnya, ini juga sinyal positif karena ada aliran dana dari bank yang masuk ke SPN dan membuat yield rendah.

Kelima, harga minyak mentah Indonesia (ICP). Saat ini, harga minyak berada di kisaran US$39,78 per barel. Realisasinya jauh dari target awal US$63 per barel, meski tidak jauh dari target Perpres 72 US$33 per barel.

"Ini cukup baik, tapi yang disayangkan adalah lifting minyak yang masih jauh dari target," tuturnya.

Keenam, lifting minyak tercatat berada di kisaran 704,5 barel per hari. Angkanya memang sesuai dengan target di Perpres 72 sebesar 705 barel per hari, namun jauh dari target awal 755 barel per hari.

Ketujuh, lifting gas yang hanya mencapai 981,3 ribu barel setara minyak. Padahal, target awal mencapai 1,19 juta barel setara minyak.

Kedelapan, gini ratio atau tingkat ketimpangan. Targetnya berada di kisaran 0,378-0,38, namun outlooknya kemungkinan masih berada di 0,381.

Kesembilan, angka kemiskinan juga sangat berpotensi meleset dari semua 8,5 persen sampai 9 persen, kini outlooknya 9,78 persen.

Ke-10, angka pengangguran outlooknya berada di kisaran 7,07 persen atau meleset jauh dari target di APBN 2020 sebesar 4,8 persen sampai 5 persen. "Ini lebih buruk," imbuhnya.

Kesebelas, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang ditargetkan 72,51, rupanya hanya mencapai 71,94.

"Khususnya target pembangunan ini jauh dari target, memang ini karena covid-19, tapi ada satu dua hal yang tetap kurang maksimal, misalnya kemiskinan, padahal ada bansos," pungkasnya.(mr/cnn)

NID
189789