Skip to main content
x

Pakar: Lahan Gambut Tak Cocok untuk 'Food Estate'

KONFRONTASI-Profesor Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (UI) Kosuke Mizuno mengatakan lahan gambut tak cocok dialihfungsikan untuk proyek pertanian, termasuk food estate. Pasalnya gambut terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah mati dan nyaris tak memiliki biota pengurai untuk menyuburkan tanah.

"Gambut sebenarnya tidak cocok dengan pertanian karena sangat asam PH-nya 3,1-3,8 dan cacingnya enggak ada, yang ada itu rayap," ucapnya dalam virtual conference bertajuk Social Development And It's Challenges In The Changing World, Rabu (9/12).

Emeritus Professor Center for South East Asian Studies (SEAS) Kyoto University itu justru menyarankan agar gambut dibiarkan sebagai kawasan hutan dan dikelola oleh masyarakat sebagai hutan adat.

"Selain masalah ekologi, dari segi sosial juga tidak ada orangnya di kawasan gambut. Jadi sosial kapitalnya sedikit kalau untuk pertanian. Jadi harusnya stay to forest aja. Kawasan hutan," jelasnya.

Menurutnya, hutan adat juga baik untuk restorasi dan menjaga ekosistem gambut. Sebab, masyarakat adat pemilik hutan adat biasanya memiliki aturan tersendiri dalam pengelolaan hutan dan tak bisa sembarang digunakan apalagi diperjualbelikan.

"Kepemilikannya ada masing-masing tapi tidak boleh dijual, jadi tidak gampang cukong tanah menjualbelikan," imbuhnya.

Status hutan adat pun sudah kuat karena terdapat putusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas judicial review UU Kehutanan No 41 tahun 1999 yang menyatakan bahwa hutan adat bukan lah hutan negara.

"Adas keputusan MK yang mengatakan hutan adat adalah hutan adat, jadi keputusannya sudah diperkuat. Tinggal bagaimana pelaksananya," tandas Mizuno.[mr/tar]

NID
189337