Skip to main content
x

Pagebluk Ini, Pandemi Kini

KONFRONTASI   -     Lockdown. Di sana satu kata.  Di sini edun... banyak kata. Tak sanggup aku menghafal istilah, ah entahlah.  Yang nampak 11 12. Kurang lebih sama. Nampak virus belum terberantas. 

Itu bendera putih. Mulai melambai tanda menyerah rintih. Yang masih sanggup bertahan, tidak banyak bantahan. Namun ada sekelompok rakyat, yang menjerit saat perut dan kerongkongannya makin tercekat.  Keluarga merintih, meringis, menangis. 

Duh, bahkan bikini terkini, ikut bersensasi. Gaya terkini bukan lagi di pantai,  tapi di jalan ia sampai sebagai bentuk rasa teruk bertekuk. 

Ah,  kata si Bapak.  Musti itu ketat mengetat.  Memutus mata rantai untuk memecah burai.
Tapi yang lain, makin berteriak...  
Kami perlu uang,  kami perlu keluar berjuang.  Sebab kami butuh hidup,  jika tidak nafas redup.

Ah,  kujalani semua ini tahun kedua,  sejak pagebluk datang bak neraka dunia.
Ah,  kubuka lembar pilu menghitung sahabat yang pergi satu persatu.
Ah,  kucermati wacana yang kadang bikin ternganga,  kerap pula menggores luka.

Pagebluk... Cerita yang kau dapuk makin terbuka bak kotak pandora. 
Di atas bingung linglung.  Tindakan masih lintang pukang. 
Di bawah terkapar dan banyak terpapar,  banyak pula yang terancam lapar.

Pandemi, ah pandemi
Kapan kau berhenti merajalela di sini? 
Pagebluk,  ah pagebluk
Bila kau berhenti membuat kami tertekuk? 

Kapankah kami MERDEKA dari cengkramanmu? 

4 Agustus 2021 (Redaksi2)