Skip to main content
x

Imam Yudotomo dan Gerakan Kiri

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Tanggal 27 November enam tahun yang lalu seorang aktifis sosial dari Yogyakarta meninggal dunia.Saya tidak beruntung bertemu dan mengenal beliau semasa hidupnya. Saya mengenalnya setelah beliau wafat melalui sebuah draft buku berjudul “PSI Yang Saya ketahui” yang ditulisnya.

Konon buku itu sudah lama ingin diterbitkan tapi entah kenapa tidak jadi-jadi. Beberapa bulan yang lalu seorang teman melalui seorang teman yang lain menanyakan apakah saya bersedia memberikan kata pengantar terhadap buku tersebut. Setelah saya membaca sekilas versi elektronik draft buku itu saya mengatakan “saya usahakan semampu saya”.

Saya tertarik membaca buku itu karena baru saja membeli lima jilid buku Harry Poeze tentang Tan Malaka dan tergerak oleh ingatan saat ngobrol sambil makan siang bersama Harry Poeze di salah satu ruang di KITLV Leiden beberapa tahun yang lalu tentang siapa sesungguhnya yang disebut golongan kiri di Indonesia.

Harry Poeze mengiyakan pernyataan saya tentang betapa kaburnya batasan siapa itu Orang Kiri. Dalam obrolan dengan Harry Poeze itu kami sependapat bahwa kekaburan tentang siapa yang disebut Orang Kiri itu telah memakan banyak korban baik yang mati terbunuh maupun yang kemudian dipenjara atau dibuang ke Pulau Buru bertahun-tahun tanpa proses pengadilan.

Imam Yudotomo yang lahir pada tanggal 14 Mei 1941 adalah putra Bapak-Ibu Mochamad Tauchid, keduanya anggota PSI yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir. Sebagai anak pasangan PSI yang bisa dibilang merupakan bagian dari lingkaran dalam PSI, Imam Yudotomo mewakili generasi ketiga PSI, generasi yang praktis hanya mengenal PSI dari cerita-cerita kedua orang tua dan  sahabat-sahabatnya.

Ketika Imam Yudotomo menginjak usia remaja dan mulai mengenal dunia politik PSI sebagai partai politik hanya tinggal nama karena sejak tahun 1960 telah dibubarkan oleh penguasa saat itu. Cerita dari mulut kemulut itulah yang kemudian dituliskannya menjadi sebuah draft buku. Buku itu menurut penulisnya didedikasikan bagi: “mereka yang berusaha dan bersedia menjadi orang sosialis pada saat gerakan sosialis berada di dalam kegelapan dan sepertinya tidak mempunyai harapan”. Membaca kalimat ini saya tidak dapat menghindarkan diri dari munculnya pertanyaan “Siapa itu Orang Sosialis?” dan juga pertanyaan “Apa itu Gerakan Sosialis?.

Sejak halaman pertama saya menangkap bagaimana teks itu berbicara tentang “kehebatan PSI”, meskipun sebuah partai kecil tetapi tidak ditelan begitu saja oleh zaman seperti nasib partai kecil lain, seperti yang dialami PIR (Partai Indonesia Raya) dan PRN (Partai Rakyat Nasional). Kehebatan PSI menurut tafsir si penulis tidak lain karena berbeda dengan partai lain PSI memiliki ideologi yang jelas. PIR dikatakan oleh penulis sebagai nasionalis-feodal, sementara PRN hanyalah merupakan sempalan PNI (Partai Nasional Indonesia) saja. Sang penulis dengan jelas mengatakan bahwa buku yang ditulisnya itu dimaksudkan untuk menunjukan kehebatan-kehebatan yang dimiliki oleh PSI, tentu dibandingkan dengan partai-partai kecil lain yang telah disebutkannya itu.

Meskipun merupakan partai kecil, “cuman sejimet” kata Profesor Slamet Iman Santoso, guru saya di Fakultas Psikologi UI, namun memang PSI telah membuktikan diri sebagai partai yang memiliki pengaruh besar.Kehebatan PSI menurut penulis tidak dapat dilepaskan dari sosok dan peran Sutan Sjahrir, oleh karena itu secara terus terang penulis mengakui bahwa bukunya mungkin lebih tepat dikatakan sebagai buku tentang Sutan Sjahrir.

Kembali kepada ungkapan guru saya di Fakultas Psikologi UI, Profesor Slamet Iman Santoso, tentang PSI yang “cuman sejimet” itu, kalau saya pikir-pikir ada semacam rasa kagum juga dari Profesor Samet Iman Santoso terhadap PSI di dalam ungkapan itu. Sebagai mahasiswa baru  yang mulai menginjakkan kaki di kampus UI awal tahun 1970-an saya pun merasakan ada semacam “charm” ketika mendengar kata PSI tanpa dapat mendeskripsikan apa yang “charming” dari PSI. Mungkin ada sesuatu yang berhubungan dengan intelektualitas, kecendekiaan; kualitas yang dekat dengan dunia pemikiran, dunia kampus.

Mungkin itu juga yang membuat saya mengiyakan ketika diminta untuk menulis kata pengantar buku tentang PSI ini.Ada semacam rasa simpati yang diam-diam saya miliki terhadap PSI sebuah partai politik “yang cuma sejimet” kata Profesor Slamet Iman Santoso, guru saya itu. Dalam perjalanan waktu, sebagai mahasiswa UI tahun 70-an itu, ketika Peristiwa Malari 1974 meletus di Jakarta, tokoh-tokoh PSI ditangkap karena dianggap mendalangi gerakan mahasiswa yang menentang Soeharto itu. Salah satu tokoh eks-PSI yang ikut ditangkap adalah Soedjatmoko, yang dianggap sebagai dekan fakultas kebebasan dari kaum intelektual Indonesia.

Judul buku ini, “PSI Yang Saya Ketahui”, mencerminkan kerendah-hatian penulisnya.Imam Yudotomo tidak mengklaim bahwa dia orang yang paling mengetahui tentang PSI. Bukunya merupakan tawaran tentang tafsirnya mengenai PSI sejauh yang ia ketahui. Para pembaca sejarah politik Indonesia mengetahui telah beredarnya berbagai tulisan, sebagian berbentuk buku, baik merupakan kumpulan tulisan maupun buku utuh, tentang PSI. Sebagai bagian dari sejarah politik Indonesia, PSI adalah bagian penting dari proses pembentukan apa yang dinamakan sebagai Indonesia. Dalam memahami proses pembentukan Indonesia inilah saya kira sumbangan Imam Yudotomo melalui buku ini patut mendapatkan apresiasi.

Imam Yudotomo adalah salah satu anak dari generasi yang tumbuh menjadi tokoh dalam sebuah masa ketika Indonesia mengalami perubahan penting karena apa yang dianggap kaum kiri dieliminasi dari panggung politik Indonesia. Sebagai sebuah partai yang berhaluan sosialis namun bukan komunis PSI telah dieliminasi pada tahun 1960 oleh penguasa yang menganggap bahwa PSI terlibat pada apa yang kemudian disebut sebagai pemberontakan daerah tahun 1956-1958. Dekrit Presiden tahun 1959 yang mencerminkan semakin otoriternya Bung Karno dan menunjukkan apa yang oleh Herbert Feith disebut sebagai The Decline of Constitutional Democracy menjadi semacam konteks mengapa PSI harus dieliminasi. Eliminasi PSI terjadi bersamaan dengan naiknya kaum kiri dari kubu yang lain, yaitu kubu komunis. Ketika tahun 1965 menjadi kulminasi dari ketegangan politik pasca dekrit presiden 1959 terutama antara TNI dan PKI sesungguhnya membuka kesempatan bagi dihidupkannya PSI.

Dalam buku Imam Yudotomo kisah PSI pasca pembubarannya tahun 1960 dan kiprah tokoh-tokohnya pasca 1965 ketika ada harapan PSI memiliki kemungkinan untuk lahir kembali memperlihatkan bagaimana sejarah politik Indonesia ternyata berkembang semakin menjauhi kemungkinan bangkitnya kaum kiri di Indonesia. Dalam kaitan inilah tragedi sekaligus paradoks dari kaum kiri di Indonesia menemukan bentuknya.Selain harus berhadapan dengan “saudara sepupunya” kaum kiri dari kubu komunis, PSI juga harus berhadapan dengan kekuatan politik militer di bawah Jendral Nasution yang seperti PKI berada dalam lingkaran dalam Bung Karno.

Pasca pembubaran  PSI tahun 1960 dua tokoh utama pimpinan PSI, Sjahrir dan Subadio Sastrosatomo ditangkap tahun 1962, Imam Yudotomo memberikan istilah yang menarik dari apa yang dia nilai sebagai garis politik resmi PSI yaitu sebagai “hirarkis-organisatoris” (Subadio Sastrosatomo - Djohan Syahruzah - Sarbini Sumawinata). Penggunaan istilah ini sengaja digunakan untuk membedakan dengan adanya berbagai kegiatan politik yang dilakukan oleh kelompok-kelompok eks-PSI lain yang tidak sedikit jumlahnya, misalnya kelompok yang dianggap menganut garis keras dan frontal dalam menanggapi Bung Karno yaitu kelompok Sumitro Djojohadikusumo atau kelompok Sumarno - Rahman Tolleng - Sarwono Kusumaatmadja; yang pasca 1965 dianggap berhasil menyusup ke Golkar. Imam Yudotomo menceritakan dengan sangat rinci berbagai kegiatan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh PSI di berbagai tempat, antara lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, terutama di Yogyakarta dimana Imam Yudotomo dibesarkan oleh kedua orang tuanya yang PSIdisamping tokoh PSI penting lainnya seperti Dayino; di Jawa Timur dan di Bali. Kesimpulan Imam Yudotomo para tokoh eks-PSI itu gagal membangun partai kembali karena masing-masing kelompok bergerak sendiri-sendiri tanpa adanya koordinasi.

Pemetaan kubu politik yang dibuat penulis dalam periode awal setelah proklamasi yang terbagi dalam 4 kelompok bagi saya sangat menarik. Penulis mendikotomikan antara apa yang disebutnya sebagai kelompok nasionalis dan kelompok agama, sebagai kelompok yang pro Jepang; dan disisi lain kelompok yang semula tergabung dalam Partai Sosialis namun kemudian pecah menjadi kelompok Sjahrir dan kelompok Amir Sjarifuddin.

Buku ini bisa dikatakan kemudian memfokuskan pada ketegangan yang terus berlangsung di dalam kubu eks Partai Sosialis yang bisa dikatakan sebagai golongan kiri di Indonesia.Sebagai anak biologis dan anak ideologis PSI penulis buku ini menunjukkan bagaimana perpecahan golongan kiri merupakan ulah dari tokoh-tokoh PKI, seperti Muso yang dalam bahasa penulis merupakan boneka Moskow. Penulis, seperti tidak sedikit penulis lain melihat kesinambungan kegagalan gerakan kaum komunis Indonesia sejak 1926, 1948 dan 1965. Dalam kaitan inilah siapa yang dimaksud oleh penulis sebagai orang sosialis dan gerakan sosialis menjadi jelas yaitu mereka yang berada di kubu gerakan kiri tetapi bukan penganut komunisme.

Bab-bab terakhir dari buku ini yang menuturkan secara cukup rinci bagaimana generasi baru penerus gagasan PSI, atau lebih tepat identitas PSI sebagai partai yang menekankan pendidikan kader dan mengutamakan pemikiran, adalah bagian yang penting untuk dibaca oleh para peminat politik dan aktivis sosial, selain tentu saja para peneliti dinamika politik Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan ada orang lain yang akan mampu menguraikan kiprah orang-orang yang dalam bahasa penulis disebut sebagai “Orang-orang Sosialis”yang sebagian dari mereka bahkan berusia jauh lebih muda dari Imam Yudotomo, seperti Robertus Robet yang memang cukup dekat dengan Rahman Tolleng seorang tokoh yang dapat dibilang legendaris.

Identifikasi orang-orang yang yang disebutkan nama-namanya oleh Imam Yudotomo sebagai orang-orang sosialis memperlihatkan tafsirnya bahwa ada genealogi dari penerus Sjahrir. Saya kira niatnya  menulis buku agar dibaca oleh mereka yang masih percaya pada gerakan sosialis ketika “gerakan sosialis berada di dalam kegelapan dan sepertinya tidak mempunyai harapan” sangat terasa sebagai sebuah kegetiran, sebuah ironi. Barangkali tidak hanya di Indonesia gerakan sosialisme sedang menghadapi tantangan besar tapi apakah memang sedemikian getir dan buram gambarannya?Tidak mungkinkah ide-ide dasar tentang sosialisme seperti keadilan sosial, kesetaraan dan penghargaan pada martabat kemanusiaan terekspresikan dalam berbagai gerakan masyarakat tanpa harus selalu menggunakan jargon-jargon sosialisme?

Dua faktor yang akan berpengaruh terhadap perubahan ekspresi gerakan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan sosial, sebagai kredo utama kaum sosialis dan gerakan kiri pada umumnya; adalah berlangsungnya pada saat yang sama pergeseran intergenerasional demografis  dan perubahan konstelasi politik global sebagai reaksi terhadap perubahan iklim dan kesenjangan ekonomi di negara kaya dan miskin.

*Peneliti independen. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com (Redaksi2/KAJANG:LAKO.COM)