2 April 2020

Rupiah Terus Terpuruk, Jokowi-JK di Ujung Tanduk !

KONFRONTASI- Rupiah menjadi malapetaka bagi Jokowi karena terpuruknya rupiah akan membuat Jokowi lengser dan Jusuf Kalla naik jadi presiden, begitu kata para analis.Namun JK tak otomatis bisa naik jadi presiden kalau Jokowi lengser, karena desakan dan tekanan publik bisa membuat situasi jadi lain.Dalam politik segala kemungkinan bisa terjadi. yang pasti, Jokowi di ujung tanduk !

Lewat tangan para investor keuangan sekaliber George Soros, mereka memainkan mata uang rupiah agar nilainya tak berharga.

Sungguh aneh melihat reaksi para pemimpin otoritas moneter di negeri ini. Mereka tenang-tenang saja melihat rupiah babak belur. Coba saja simak pernyataan Sofyan Djalil. Kata Menko Perekonomian ini, investor tak perlu khawatir menghadapi fluktuasi rupiah yang terjadi belakangan ini. Sebab, kondisi di dalam negeri biasa-biasa saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Indikasinya, kondisi internal makro Indonesia dalam keadaan baik. “Anda mau lihat apa, inflasi turun. Apalagi Anda mau bilang, arus modal asing meningkat dan Indeks Harga Saham Gabungan naik. Itu semua baik. Kemudian yield SUN kita menurun. Indikator ekonomi cukup baik,” kata Sofyan.

Sofyan betul. Sejak Desember 2014 hingga Februari 2015 dana yang masuk ke Indonesia dari pembelian Surat Utang Negara di pasar modal mencapai Rp 57 triliun. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding pada 2013 dalam jangka waktu yang sama, yakni Rp 30 triliun.

Begitu pula halnya dengan neraca perdagangan yang surplus sebesar US$ 710 juta pada Januari 2015. Selain itu, bulan Februari inflasi 0,36%. Artinya, Indonesia mengalami deflasi pada 2 bulan pertama 2015 setelah pada Januari juga deflasi 0,24%. Ditambah lagi, cadangan devisa di akhir Februari 2015 naik menjadi US$ 115,5 miliar.

Menteri Keuangan Bambang PS Brojonegoro menjelaskan, pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral China sebesar 25 basis poin. Kondisi ini membuat pasar berspekulasi sehingga nilai tukar mata uang negara yang ekonominya berkaitan langsung dengan China langsung terpuruk. "Ini bukan faktor dalam negeri, tapi dari luar," katanya.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo pun bersikap sami mawon. Ia menilai pelemahan rupiah saat ini masih dalam koridor bank sentral. Menurutnya, fluktuasi rupiah masih wajar jika berada dalam kisaran 3%-5% di atas patokan kurs di APBNP 2015 yang sebesar Rp 12.500 per dolar AS.

Dengan asumsi tersebut, artinya saat ini Bank Indonesia menjaga rupiah di level Rp 12.875 – Rp 13.125. Tapi ia berjanji untuk terus berada di tengah pasar untuk menjaga fluktuasi semakin menggila.

Sikap tenang (atau pura-pura tenang) juga diperlihatkan oleh Presiden Joko Widodo. Presiden menilai, pelemahan rupiah saat ini bukan karena fundamental ekonomi Indonesia yang memburuk. Argumentasinya, dua bulan terakhir terjadi deflasi, cadangan devisa Indonesia naik, sementara arus investasi juga masuk Indonesia.

Sampai berapa lama sikap tenang itu akan dipertontonkan? Yang jelas, saat ini, para pengusaha paling merasakan dampak melemahnya. Akibatnya, bukan tak mungkin, investor menunda rencana ekspansi karena biayanya mahal. Industri berbahan baku impor bakal terpukul akibat biaya impor yang tinggi.

Tak hanya itu. secara umum, daya beli masyarakat bisa turun. Maklum, ketergantungan Indonesia terhadap produk impor masih tinggi. Dan, yang paling mengkhawatirkan, beban utang valas korporasi semakin membengkak. Apalagi diketahui, sekitar 80% utang valas korporasi tidak di-hedging. Bayangkan 80% utang luar negeri itu setara dengan US$ 294,5 miliar. Jika jumlah itu membengkak 10% saja, berarti utang luar negeri swasta akan bertambah US$ 16,1 miliar. Sementara beban utang pemerintah akan membengkak US$ 13,3 miliar.

Per Desember 2014 jumlah utang luar negeri swasta sebesar US$ 162,8 miliar dan pemerintah mencapai US$ 129,7 miliar.

Betul,  pelemahan nilai tukar rupiah akan meningkatkan kegiatan eksportir. Tapi, ekspor apa yang akan kita andalkan? Sementara kebanyakan dagangan kita berupa komoditas mentah, yang kini harganya sedang jatuh.

Proyek infrastruktur juga masih menjadi dilema. Di satu sisi, proyek ini menjadi tulang punggung pendorong ekonomi, namun di sisi lain impor barang melejit untuk memenuhi bahan baku proyek. Akibatnya sudah bisa ditebak, defisit neraca perdagangan masih terus menjadi ancaman. Asal tahu saja, sepanjang tahun 2014, neraca perdagangan Indonesia defisit sebesar US$ 1,88 miliar.

Kalau neraca perdagangan defisit, neraca transaksi berjalan juga bakal terkena getahnya. Sepanjang tahun 2014 defisit neraca transaksi berjalan mencapai sekitar US$ 25 miliar. Tahun ini diperkirakan, defisit neraca transaksi berjalan turun menjadi 2,5%-2,8% dari produk domestik bruto (PDB).

Kalau turun Alhamdulillah. Kalau tidak? Beban anggaran negara semakin berat. Sebab, setiap rupiah melemah Rp 100, defisit anggaran bertambah sebesar Rp 940,4 miliar sampai Rp 1,21 triliun.

Jangan anggap enteng

Makanya, jangan anggap enteng soal pelemahan rupiah. Sebab, efeknya bisa ke mana-mana, dari ruginya para pedagang barang impor sampai membengkaknya utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta.

Yang sangat mengkhawatirkan kalau bank sentral Amerika Serikat, The Fed mengerek suku bunga acuannya setelah kuartal I-2015. Bila ini sampai terjadi, dana asing yang terkumpul di Indonesia bisa serentak ke luar. Dampaknya, rupiah bisa rontok.

Selain itu, kenaikan suku bunga The Fed juga akan mendorong Bank Indonesia mengerek BI rate lebih tinggi lagi. Dampaknya sangat jelas, diperkirakan banyak investor yang melepas obligasi dan mengkonversikannya ke yankee bond. Harga obligasi pun terancam terjun bebas, sementara kupon obligasi akan melesat.

Asal tahu saja, belakangan ini banyak sekali perusahaan dalam negeri yang menerbitkan obligasi. Ini bisa menjadi bom waktu yang mengerikan.  Memang, belum ada perusahaan yang gagal membayar utang-utang obligasinya. Tapi melihat gejala yang terjadi belakangan ini, siapa yang bisa menjamin krisis tidak akan terjadi lagi? 

Sekadar catatan saja, krisis ekonomi 1998 dipicu oleh kegagalan sejumlah perusahaan dalam membayar utang-utangnya yang jatuh tempo. Kondisi ini kemudian diperparah oleh gonjang-ganjing politik untuk menurunkan Presiden Soeharto. Dampaknya, para pemilik modal ramai-ramai menarik uangnya dari Indonesia. Rupiah pun langsung ambruk dari Rp 2.300 per dolar AS pada pertengahan 1997 menjadi Rp 17.000 per dolar AS pada Januari 1998.

Memang, awal krisis 1998 jauh lebih parah ketimbang kondisi saat ini. Saat itu, cadangan devisa di BI hanya US$ 17,4 miliar. Per  Februari 2015, cadangan devisa di brankas BI tercatat sebesar US$ 115,5  miliar, yang cukup untuk menutupi impor dan utang luar negeri selama enam bulan.

Pada krisis 1998 nilai rupiah terhadap dolar AS merosot sampai 73%, sementara saat ini rupiah hanya terpangkas 4,5%. Begitu pula rasio utang luar negeri terhadap PDB tahun 1998 mencapai 60%, sedangkan sekarang ini hanya 31%.

Jadi, kalau dibanding-bandingkan dengan kondisi tahun 1998, memang jauh berbeda. Namun, jika para pengelola korporasi lengah dan pemerintah tidak mengambil langkah-langkah pencegahan, bukan tak mungkin krisis 1998 bisa terulang.

Terkait eksekusi mati

Dan, yang harus dicermati saat ini Indonesia sedang menjadi sorotan dunia internasional terkait hukuman mati terhadap sejumlah warga negara asing karena kasus narkoba. Yang paling bereaksi keras adalah Australia, kemudian disusul Brasil, Perancis, dan Belanda. Sampai-sampai Sekjen PBB, Ban Ki-moon meminta Pemerintah Indonesia untuk menghentikan eksekusi hukuman mati tersebut.

Kalau direnungkan, kenapa tiba-tiba Ban Ki-moon bersuara lantang menentang hukuman mati terhadap warga dari beberapa negara maju?  Di mana Ban Ki-moon ketika beberapa WNI dihukum pancung di Arab Saudi dan dihukum gantung di Malaysia? Bagaimana dengan Amerika Serikat yang sampai hari ini masih menerapkan hukuman mati? Tak ada suara Ban Ki-moon.

Itulah sebabnya, muncul dugaan bahwa apa yang disampaikan Ban Ki-moon tak lepas dari lobi beberapa negara maju, khususnya dari Australia, Belanda, dan Perancis. Kejengkelan mereka—terutama Australia--semakin menjadi-jadi karena ternyata Presiden Jokowi keukeh pada sikapnya bahwa hukuman mati harus dilaksanakan. Boleh jadi, kini Jokowi dianggap musuh mereka.

Kini, apa yang ingin mereka lakukan? Entahlah. Tapi, teman di sebelah saya kemudian bercerita bahwa ia pernah membaca penuturan mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang dituangkan dalam buku berjudul: Pak Harto The Untold Stories. Di dalam buku itu Mahathir berkesimpulan bahwa badai perekonomian yang melanda Asia Tenggara pada tahun 1998 memang dirancang untuk menjatuhkan pemerintahan Pak Harto.

“Di ASEAN, Pak Harto memainkan peranan yang sangat penting. Para pemimpin negara ASEAN mendudukkan Pak Harto sebagai orang tua. Kejatuhan Pak Harto merupakan kerugian yang besar di Asia Tenggara karena beliau sangat dihormati oleh para pemimpin ASEAN lainnya,” tutur Mahathir di dalam buku tersebut.

Dalam bagian lain Mahathir menuding George Soros adalah orang yang paling bertanggung jawab atas lahirnya krisis moneter dan ekonomi di Asia Tenggara tahun 1998. “Kenyataan memang menunjukkan bahwa perdagangan mata uang atau valuta asing cenderung merugikan yang lemahPara spekulan uang tidak ragu-ragu mengguncang stabilitas suatu negara demi kepentingan mereka sendiri,” ujar Mahathir.

Menurut Mahathir, negara-negara Barat tidak ingin melihat Indonesia, Malaysia, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya maju. “Sebagai contoh, bagaimana mata uang Indonesia dan Malaysia dijatuhkan sehingga ekonomi menjadi rusak,” tambah Mahathir.

Mungkinkah model serupa diterapkan terhadap Presiden Jokowi? Bukan tak mungkin. Apalagi negara-negara yang warganya terkena hukuman mati menganggap Jokowi adalah musuh bersama. Kebetulan sekali mereka melihat pemerintahan Jokowi sangat lemah, terutama ketidakmampuannya mengatasi konflik Polri-KPK. Jokowi juga dianggap tak mampu menolak rongrongan dari elit-elit politik yang dulu mendukungnya, sehingga politik dan hukum menjadi tidak stabil. Para pendukungnya pun sedikit-sedikit mulai meninggalkan dirinya.

Kelemahan inilah, yang boleh jadi, dimanfaatkan oleh mereka. Lewat tangan para investor keuangan sekaliber George Soros, mereka memainkan mata uang rupiah agar nilainya tak berharga. Kalau rupiah rontok sampai ke titik bawah, maka akan tercipta krisis moneter. Dari sini akan muncul guncangan hebat, yang goal akhirnya menjatuhkan Jokowi. (Satrio AN,  Analis Indonesian Review) -

_________________________

Sumber: Indonesianreview.com

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...