6 April 2020

Ekonomi Berkeadilan Melesat di Era Singkat, Gus Dur Layak Jadi Bapak Keadilan

KONFRONTASI- Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur layak mendapatkan kehormatan disebut sebagai Bapak Keadilan Sosial karena dinilai sukses membangun pertumbuhan perekenomian Indonesia. Gus Dur menugaskan tim ekonominya yakni Rizal Ramli dan Kwik Kian Gie membangun ekonomi konstitusi: pro-rakyat, pro-job dan pro-poor.

Direktur Lingkar Survey Perjuangan Gede Sandra menyebutkan pemerintahan Gus Dur meski sangat singkat, yakni 21 bulan, tapi mampu sukses membangun pertumbuhan prekonomian Indonesia dengan lima tangga kemajuan, yaitu adanya pertumbuhan ekonomi, piutang berkurang, distribusi pendapatan, gini ratio rendah, kohesi sosial semakin kuat.

“Kurang dari dua tahun Gus Dur bisa membawa gini ratio Indonesia terendah sepanjang 50 tahun terakhir, terjadi di akhir era Gus Dur, yaitu sebesar 0,31. Gus Dur yang mampu memberikan contoh implementasi dari sila kelima, maka beliau layak disebut Bapak Keadilan Sosial,” kata Gede Sandra, di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (25/11).

Dikatakan Gede Sandra, Gus Dur menerima warisan prekonomian dari Presiden sebelumnya Habibie dalam kondisi “growth” masih minus 3 persen pada September 1999. Namun ketika diukur lagi di akhir tahun 1999 atau tiga bulan sejak tim ekonomi Gus Dur bekerja, pertumbuhan ekonomi sudah di level 0,7 persen atau melompat 3,7 persen.

Sementara dalam kurun waktu setahun berikutnya di tahun 2000 prekonomian Indonesia kembali berhasil tumbuh ke level 4,9 persen atau melompat 4,2 persen. Sedang di tahun 2001, meskipun Gus Dur dimakzulkan di pertengahan tahun akibat krisis politik tersebut, rata-rata “growth” di akhir tahun masih level 3,6 persen.

Selain itu yang istimewa, kata Gede Sandra, ialah dua kali lompatan “growth” tersebut dilakukan tim ekonomi Gus Dur dengan sambil mengurangi beban utang.

Hasil gambar untuk gus dur dan rizal ramli

“Sebuah kondisi yang pasti sulit dilakukan tim ekonomi kabinet-kabinet setelah atau sebelum Gus Dur,” ucapnya.

Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli mengaku tidak ragu menyebut mantan Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, sebagai wali kesepuluh setelah sembilan wali di Indonesia.

"Dia itu sosok pemimpin yang sederhana, beda dengan pemimpin lain," katanya saat ditemui Tempo di Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya, Jakarta, Senin, 9 November 2015.

Rizal bercerita, dia kemarin berziarah ke makam Gus Dur di Tebuireng, Jombang. Ia melihat kuburannya berbeda dengan kuburan para pemimpin di belahan dunia mana pun. Tidak ada yang istimewa dari kuburannya. Pusaranya pun biasa saja, tidak memakai monumen seperti pemimpin lain. "Tapi, walaupun tidak ada monumen yang megah, Gus Dur tetap ada di hati rakyat," ucapnya.

Rizal berujar, Gus Dur merupakan satu-satunya pemimpin yang mampu memegang teguh idealisme. Selain itu, toleransinya terhadap pluralisme menjadi contoh bahwa dia merupakan pemimpin yang sangat sederhana semasa hidupnya. "Meski sudah tiada, pemikiran dan perjuangannya tetap dihargai dan hidup di hati rakyat Indonesia," tuturnya.

(Nebby)

 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Senin, 6 Apr 2020 - 14:50
Senin, 6 Apr 2020 - 11:58
Senin, 6 Apr 2020 - 11:49
Senin, 6 Apr 2020 - 11:45
Senin, 6 Apr 2020 - 11:40
Senin, 6 Apr 2020 - 11:26