6 April 2020

Khawatir Penyusupan, Australia Larang Perusahaan Asing Terlibat di Jaringan 5G

KONFRONTASI-Badan intelijen Australia akan melarang perusahaan asing yang berkaitan dengan pemerintah negaranya untuk ambil bagian di jaringan 5G karena masalahan keamanan infrastruktur.

"Jaringan 5G akan mendukung komunikasi yang dipakai warga Australia setiap hari, mulai dari sistem kesehatan sampai potensi menggunakannya untuk operasi dari jarak jauh, juga mobil swakemudi dan listrik serta pasokan air," kata Direktur Jenderal Australian Signals Directorate, Mike Burgess, dikutip dari Reuters, Selasa.

Tanpa menyebut negara atau nama perusahaan, Burgess menilai satu ancaman akan berdampak pada jaringan secara keseluruhan.

Australia pada Agustus lalu memperbarui aturan keamanan nasional mereka, menghapus pemasok peralatan telekomunikasi asing yang memiliki hubungan dengan pemerintah di negaranya. Setelah pembarusn tersebut, Huawei menyatakan mereka akan dilarang menangani jaringan pita lebar Australia.

Sementara itu, Huawei menolak berkomentar atas informasi terbaru dari Australia ini.

Huawei pernah menawarkan pada Canberra untuk mengakses teknologi mereka agar tidak ada kekhawatiran mengenai keamanan serta mengaku struktur perusahaan mereka belum berubah sejak masuk ke Australia untuk jaringan 4G.

Tapi, Burgess menyatakan 5G memerlukan peraturan yang berbeda.

"Kami sudah melindungi informasi dan fungsi sensitif di inti jaringan telekomunikasi kami dengan membatasi vendor berisiko tinggi ke bagian ujung jaringan," kata Burgess.

"Tapi, batasan inti dengan luar hilang di 5G," kata dia.

Lembaga intelijen Barat selama beberapa tahun belakangan khawatir bahwa Huawei, pemain terbesar di jaringan telekomunikasi, berkaitan dengan pemerintah China sehingga meningkatkan risiko pengintaian.

Australia sebelumnya melarang Huawei menyediakan peralatan untuk jaringan serat optik dan kabel bawah laut.

Amerika Serikat beberapa waktu lalu juga melarang Huawei dan ZTE dengan alasan yang sama.(mr/tar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...