5 April 2020

Amatiran Kelola Makro Ekonomi, Akibatnya Ekonomi Makin Nyungsep dan Daya Beli terus Merosot, RR mengingatkan

KONFRONTASI- Tokoh nasional yang juga  Ekonom senior Rizal Ramli menyindir ada pejabat dari tim ekonomi pemerintah yang amatiran mengelola makro ekonomi. Akibatnya, baru sadar utang pemerintah berpengaruh terhadap daya beli. Makin hari daya beli rakyat makin merosot.

"Baru sadar deh, ternyata utang jor-joran pemerintah ada pengaruhnya terhadap daya beli dan bisnis. Gara-gara kelola ekonomi makro amatiran," kata Rizal dalam pesan elektronik kepada pers Sabtu (22/2/2020).

Data Kementerian Keuangan menunjukkan hingga akhir Januari 2020 utang pemerintah tembus Rp4.817 triliun, naik 0,81 persen atau Rp39 triliun dibandingkan Desember 2019 sebesar Rp4.778 triliun.

Utang luar negeri BUMN lebih besar lagi. Kementerian BUMN mencatat sampai akhir tahun 2018 total utang perusahaan pelat merah Rp5.604,39 triliun.

RR, demikian Rizal Ramli disapa, juga meluruskan pernyataan banyak pihak yang seolah tak peduli dengan utang pemerintah dan BUMN yang terus menumpuk. Terserah pemerintah dan BUMN mau utang jor-joran karena tidak ada hubungannya dengan mereka.

"Pernyataan itu benar selama utang dalam batas wajar. Tetapi kalau berlebihan seperti saat ini, ada "crowding-out effect"," katanya.

Mantan Menteri Koordiantor Perekonomian di era Presiden Abdurrahman Wahid itu menjelaskan setiap kali pemerintah menjual Surat Utang Negara (SUN), 30% dana pihak ketiga di lembaga keuangan akan tersedot karena bunganya 2% lebih mahal dari deposito dan mendapat jaminan 100%.

"Itulah yang menjelaskan kenapa pertumbuhan kredit hanya 6,02% pada tahun 2019. Kalau ekonomi normal kredit tumbuh 15-18% per tahun. Inilah yang menjelaskan uang susah, daya beli anjlok, bisnis susah," tutur RR.[]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...