3 April 2020

Ada Ambivalensi dan Ambiguitas Jokowi atas Polri era Buwas dan Bradodin

KONFRONTASI- Polri era Badrodin dan Budi Waseso dalam sorotan publik karena ambiguitas dan ambivalensi Presiden Jokowi atas Polri. Ada dua gerakan di media sosial terkait Kabareskrim Komjen Budi Waseso. Satu gerakan mendesak jenderal polisi bintang tiga itu dicopot dari jabatannya, satu lainnya justru menentang pencopotan itu. Dari sini terlihat Buswas, sapaan Budi Waseso, selain banyak musuhnya juga banyak temannya.

Di situs penyedia petisi, change.org, dua gerakan itu terlihat jelas. Ada empat petisi yang dibuat, dua meminta pencopotan Buwas, dua lagi menentang pencopotan itu.

Dua petisi yang meminta pencopotan berjudul "Copot Kabareskrim Budi Waseso" yang dibuat Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar, dan Copot Budi Waseso dari Kabareskrim” yang dibuat Hirmen Hirmen dari Denpasar. Dahnil menilai, sejak dilantik Buwas sudah melemahkan gerakan anti-korupsi. Sedangkan Hirmen mengaku resah dengan kondisi penegakan hukum setelah Buswas menjabat Kabareskrim.

Petisi Dahnil mendapat sambutan yang sangat besar. Sejak dibuat seminggu lalu sampai pukul 9 malam tadi, petisi ini sudah ditandatangani sebanyak 18.007 orang. Sedangkan Hirmen baru ditandatangani 528 orang.

Sedangkan dua petisi yang mendukung Buwas itu berjudul Dukung Kabareskrim Budi Waseso Menegakkan Hukum Tanpa Tebang Pilih” yang dibuat Presedium Indonesia Police Watch Neta S Pane, dan Tolak Pencopotan Semena-mena Budi Waseso” oleh Presedium Komite Mahasiswa Pemuda untuk Reformasi dan Demokrasi (Kamerad) Haris.

Neta dan Haris sama-sama menilai segala yang dilakukan Buwas sudah sesuai hukum. Buwas justru sosok yang baik karena berani menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Petisi yang dibuat Neta berhasil menyedot banyak dukungan. Sampai pukul 9 malam ini, tercatat sudah 3.708 orang ikut menandatangani petisi itu. Sedangkan Petisi yang dibuat harus masih sepi. Sampai pukul 9 malam tadi baru ada 110 orang yang ikut menandatangani. Mungkin karena usianya barus 3 hari.

Untuk menggalang dukungan lebih banyak, fanpage Facebook Divisi Humas Mabes Polri ikut "mempromosikan" petisi Haris. "Tolong isi Petisi ini sekarang juga: Tolak pencopotan semena mena Budi Waseso," tulis akun itu. Namun, sebagian besar pengikut fun fage ini malah memberi respons negatif dengan banyak yang komentar minta copot. Atas hal itu, pengelola menghapus promosi” itu dan menggantinya dengan yang baru.

Nah, di promosi” kedua, pengelola membuat pendahuluan yang lebih soft dengan membuat judul Mahasiswa Buat Petisi Tolak Tolak Pencopotan Semena-mena Budi Waseso”. Mari kita dukung Polri yang profesional untuk bertindak sesuai aturan dan mekanisme yang telah ada,” ajak akun itu.

"Promosi" kedua ini juga mendapat reaksi beragam. Sampai pukul 10 malam ini, 336 orang memberi tanda jempol, 31 orang membagikan ke akun facebook lain, dan 317 berkomentar. Sebagian tetap mendesak Buwas dicopot.  

"Copot ajalah,,, 1.000 persen dukung pencopotan," tulis Islaa Miyaa.

Sedangkan salah satu yang mendukung adalah akun Beko. Dia pun menyarankan agar rekannya sesama netizen untuk melihat kinerja dulu, tidak langsung terprovokasi.

".... belum tahu kinerjanya tapi sudah dianggap jelek. Ke mana NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika-nya," ucapnya. [ian]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...