6 April 2020

Ismail Saul Yenu, Mantan Pendeta Papua:"Islam Buat Rakyat Papua Makin Beradab & Berilmu"

KONFRONTASI -   Mualaf, Kepala Suku Besar Serui, dan Mantan Kepala Pendeta:

"Missionaris tidak membangun peradaban baru, justru mempertahankan budaya terbelakang"

 

Suatu saat Pak Ismail Saul Yenu berpikir: ”Kalau Kristen terus, berarti ini melanjutkan zaman Belanda. Masyarakat tidak akan pernah maju.” Soalnya, memang Belanda-lah yang membawa misi Kristen di Irian Jaya pertama kali. Dan hingga kini, misionaris tidak membangun peradaban baru. Justru mereka ingin mempertahankan budaya Irian yang sebenarnya terbelakang. "Saya sampaikan kepada orang Nasrani, karena kalian menyalib Nabi Isa –sebagaimana sangkaan kalian– maka ketika ia dibangkitkan nanti, Nabi Isa datang untuk menyampaikan kebenaran Islam, bukan membawa ajaran Nasrani."

 

Mulanya ia seorang pendeta. Bermodal ilmu yang ia timba dari pendeta Jostri Ayome selama empat tahun di Jayapura, Papua, ia mulai rajin berceramah di gereja. Ia resmi dilantik menjadi pendeta pada tahun 90-an.

Alasannya menjadi pendeta sederhana saja. Sebagai seorang kepala suku, ia merasa bertanggungjawab menyelamatkan ideologi rakyatnya. “Rakyat harus beragama dan mengenal Tuhan. Jadi, saya harus belajar agama sebagai tanggung jawab tadi,” kata Ismail Saul Yenu, sang pendeta itu.

Banyak yang heran mengapa Yenu menjadi pendeta. Sebab di Papua tak banyak kepala suku bisa merangkap menjadi pendeta.

 

Yenu tahu, posisinya sebagai kepala suku akan memudahkannya mengambil hati rakyat untuk masuk Kristen. Dugaannya benar. Banyak warga Papua, baik pendatang maupun penduduk asli, termasuk lima keluarga Muslim, masuk Kristen. Kebanyakan mereka adalah transmigran yang hidup di hutan.

“Waktu itu ada yang sakit dan berhasil saya sembuhkan dengan doa. Karena itu mereka masuk Kristen,” cerita Yenu tentang keluarga Muslim ini.

 

Namun, perjalanan hidup berkata lain. Yenu sang kepala suku mendapat hidayah dan sempat menunaikan ibadah haji. Sepulang dari haji ia disambut oleh rakyatnya dengan teriakan, ”Raja sudah datang … raja sudah datang!” Uniknya, yang menyambut bukan hanya kaum Muslim saja, tapi banyak juga orang Kristen.

Kesempatan ini tak disia-siakan Yenu. Jika dulu ia rajin berceramah di gereja, maka sekarang ia rajin berdakwah untuk Islam. Banyak yang kepincut hatinya untuk mengucap syahadat lewat dakwah Yenu, termasuk keluarga Muslim yang dulu ia murtadkan. Semua ini ia lakukan untuk menebus tanggungjawab yang dulu salah ia terjemahkan.

Bagaimana lika-liku dakwah sang kepala suku di pulau paling timur Indonesia ini? Ahmad Damanik, wartawan majalah Suara Hidayatullah, baru-baru ini berhasil menemui pria asli Irian ini di rumahnya di Fakfak, Papua Barat, saat Kota Pala ini menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur`an. Berikut hasil wawancaranya:

 

Mengapa Anda tertarik dengan Islam?

Meski saya ini dulunya pendeta, tapi diam-diam saya suka mengamati perilaku orang Islam. Saya tertarik melihat orang Islam rajin shalat dan berdoa. Mereka shalat lima kali dalam sehari.

Ini berbeda dengan cara non-Muslim. Mereka hanya berdoa sekali sepekan, atau jika ada acara sembahyang keluarga. Ini menunjukkan kalau orang Islam itu punya Tuhan yang luar biasa. Saya lalu bertanya, mengapa mereka bisa berdoa sedang saya tidak? Dari sinilah saya mulai tertarik dengan Islam.

 

Apakah Anda punya pengalaman berkesan tentang Islam ketika masih beragama Nasrani?

Ya. Ketika tahun 70-an, di daerah saya ada program ABRI masuk desa yang dipimpin Jenderal M Yusuf. Semua orang berkumpul, mulai dari militer sampai sipil. Sebagian besar tentara adalah orang Islam. Sedang orang Nasrani kebanyakan sipil.

Ketika apel siaga, Pak Yusuf bertanya, mana orang Islam yang siap membantu rakyat? Serempak orang Islam berdiri, sedang kami orang Nasrani cuma duduk saja.

Lalu Jenderal Yusuf bertanya kepada saya tentang agama yang saya anut. Saya jawab Nasrani. Tapi beliau bilang, ”Dari pada kamu nanti hanya di luar, tak dapat jatah surga, lebih baik ikut begabung dengan mereka (orang Muslim).” Akhirnya entah mengapa saya ikut berdiri juga.

 

Setelah tertarik dengan Islam, siapa yang membimbing Anda memeluk agama ini?

Saya mencari kebenaran itu sendiri. Saya pernah mencarinya ke Manokwari (Papua Barat), malah diusir dan ditolak. Tapi saya tak marah. Saya kembali mencarinya ke Jakarta.

Di Jakarta saya bertemu banyak rekan-rekan sesama Muslim, termasuk Ustadz Fadzlan (M Zaaf Fadzlan Rabbani al-Garamatan, tokoh Papua yang banyak membantu kaum Muslim di daerahnya). Saya banyak dibantu oleh mereka. Ustadz Fadzlan sampai sekarang malah menyuruh saya keliling untuk berdakwah ke mana-mana.

Kapan Anda bersyahadat?

 

Tahun 2002, di Masjid Agung al-Azhar, Kebayoran, Jakarta. Saya dibimbing oleh seorang imam masjid di sana .

Esok harinya saya langsung minta dikhitan (sunat). Padahal umur saya sudah 68 tahun. Mana ada di dunia ini orang yang sunat umur 68 tahun kecuali Ismail Yenu. Hehe he.

 

Bagaimana cerita Anda pergi haji?

Esok hari setelah saya dikhitan, saya telepon Amin Rais (tokoh Muhammadiyah) dan minta dihajikan. Saya juga cerita keadaan masyarakat Irian. Saya katakana bahwa saya tak mampu pulang dan berdakwah di tengah masyarakat Irian jika belum naik haji. Sebab, biasanya masyarakat tak langsung percaya kalau langsung mendakwahi.

Alhasil, Amien Rais menelepon Din Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah), menanyakan apakah ada lowongan ke Baitullah. Alhamdulillah, rupanya ada calon haji yang batal berangkat di kloter Asiyah. Kloter ibu-ibu yang berjumlah 240 calon jamaah haji. Meski terasa risih karena harus bergabung dengan ibu-ibu, akhirnya saya jadi diikutkan di kloter tersebut.

 

Bagaimana perasaan Anda ketika itu?

Saya merenung, mengapa baru beberapa hari menjadi muallaf langsung mendapatkan panggilan agung dari-Nya untuk naik haji? Ini karena kebesaran dan izin Allah semata.

Tiga hari berikutnya saya berangkat haji. Padahal waktu itu bekas khitan saya belum kering betul. Saya pergi ke dokter praktik dan beli kondom.

Sebelum berangkat, seluruh calon haji diperiksa. Rupanya saya ketahuan membawa kondom. Setelah ditanya, saya jawab kalau bekas khitan saya masih basah. Karena tak percaya, saya diperiksa lagi oleh dokter.

 

Ada kenangan menarik sewaktu naik haji?

Di Arafah, kami berdoa mulai pagi hingga siang hari. Padahal, udara dan cuaca ketika itu sangat panas. Seakan-akan tubuh ini terpanggang teriknya matahari. Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, ada yang menyiram tubuh saya hingga basah kuyup.

Pakaian saya basah semua. Saking basahnya, sampai-sampai saya berdoa sambil menghirup air. Seketika itu juga saya jadi adem, tak merasa panas lagi. Padahal saat itu jumlah manusia berlapis-lapis. Rasanya tak mungkin kalau ada orang yang datang menyiram saya.

Sewaktu di Masjid al-Haram, ada seorang perempuan besar duduk di sebelah saya. Padahal, jamaah pria tak boleh bercampur dengan jamaah wanita. Saking besarnya, tinggi pinggul wanita itu mencapai bahu saya. Saya merasa ngeri sekali.

 

Usai berdoa, saya terfikir mau menegur dia. Begitu menoleh, eh, si wanita tadi sudah lenyap entah ke mana. Padahal tubuhnya besar sekali.

Di Masjid Nabawi, suasana sangat padat. Tak ada lagi ruang kosong di dalam masjid. Begitu masuk, rupanya ada tempat lowong yang kira-kira muat untuk dua orang. Saya jadi heran mengapa tak ada yang melihat tempat tersebut. Padahal sejak tadi jamaah sudah berebutan tempat.

 

Sementara saya shalat, tiba-tiba ada orang datang dengan jubah yang sangat bagus. Kainnya sangat lembut. Kualitas baju saya kalah jauh dibanding dia. Padahal baju saya juga masih baru, istilahnya baru buka plastik.

Seperti kejadian pertama, begitu saya mau menegur, orang yang dimaksud sudah lenyap entah ke mana.

 

Apa makna dari semua kejadian tersebut buat Anda?

Keyakinan saya semakin bertambah. Allah SWT tak akan pernah lalai memantau segala kelakuan hamba-Nya. Keyakinan saya makin mantap jika agama Islam ini benar-benar agama Allah. Kita tak boleh main-main dengan agama ini.

Saya sampaikan kepada orang Nasrani, karena kalian menyalib Nabi Isa –sebagaimana sangkaan kalian– maka ketika ia dibangkitkan nanti, Nabi Isa datang untuk menyampaikan kebenaran Islam, bukan membawa ajaran Nasrani.

 

Apa yang Anda lakukan setelah pulang dari Tanah Suci?

Saya tak langsung pulang ke Manokwari, tapi mampir dulu ke Kalimantan Timur selama 14 hari. Saya mengunjungi Balikpapan, Bontang, dan beberapa daerah lain bersama Ustadz Kodiran (orang Yogyakarta yang tinggal di Condet, Jakarta Timur). Kami berdakwah di tempat-tempat itu sekaligus menyaksikan kebesaran Islam.

 

Bagaimana tanggapan keluarga Anda sepulang dari haji?

Tiba di rumah saya langsung disambut bagai raja oleh masyarakat setempat dengan upacara adat. Saya diminta menginjak 120 buah piring yang ditaruh di jalan menuju rumah.

Setelah masuk Islam, Anda pernah masuk gereja untuk berdakwah. Bagaimana ceritanya?

Saya pernah mendatangi gereja saat sang pendeta khutbah. Tanpa tedeng aling-aling, sambil mengenakan gamis dan songkok haji, saya langsung meminta sang pendeta berhenti berkhutbah. Saya ganti menceramahi mereka. Saya ajak mereka semua masuk Islam. Saya berani melakukan itu karena dulu mereka adalah jamaah saya, termasuk lima keluarga murtad yang pernah saya baptis.

 

Apakah Anda tak merasa takut?

Sama sekali tidak. Saya sadar, saya bakal menjadi orang yang paling mereka musuhi karena suka menghalangi misi mereka. Bahkan sejak awal, masyarakat sudah tahu kalau saya memiliki watak yang keras dan tak takut pada apa pun. Mereka juga tahu sayalah yang merobek bendera Belanda pada masa lalu.

Bagaimana tanggapan keluarga setelah Anda menjadi Muslim?

Saya katakan, “Maaf, saya tak seperti dulu lagi. Kalau mama masih suka pake baju singlet atau celana pendek, berarti tak boleh mendekat. Silakan pergi tukar baju dulu. Kepala juga harus ditutup pakai kerudung. Kalau tidak begitu, maaf saja.”

Sebelumnya saya telah menyiapkan oleh-oleh pakaian dari Tanah Suci sebanyak 40 pasang. Masing-masing isteri saya mendapat 10 pasang (Yenu memiliki empat isteri). Saya juga minta tolong teman untuk memberi pemahaman Islam kepada para istri saya.

 

Anda pernah mengatakan bahwa jika saat ini masih beragama Kristen, mungkin Anda ikut Gerakan Papua Merdeka. Benarkah?

Iya. Sudah jelas. Sebagian orang Irian, dan juga orang Belanda, menginginkan Irian merdeka. Bahkan, mereka punya kepercayaan jika bisa berkunjung ke Israel maka Irian bisa merdeka. Karena itu, saya akan beri tahu pemerintah RI agar mereka dilarang dan tak diberi izin pergi ke Israel .

Setelah Anda memeluk Islam, apakah orang-orang yang pernah Anda murtadkan ikut kembali memeluk Islam?

 

Sebagian besar mereka masuk Islam lagi. Memang ada sebagian kecil yang tetap bertahan (dengan agamanya), namun jumlahnya tak banyak. Malah ada yang beranggapan, waktu masih pendeta saja doa saya dikabulkan oleh Tuhan, apalagi sekarang setelah masuk Islam dan pulang dari Tanah Suci.

Tapi saya katakan kepada mereka bahwa segala sesuatu itu hanya Allah yang mengatur. Manusia cuma bisa berkehendak saja.

 

Berdakwah Kepada Pendeta

Ismail Saul Yenu lahir di Manokwari, 28 Oktober 1934. Masa kanak-kanaknya banyak dilalui di Serui, Kabupaten Yapen Waropen.

Yenu berasal dari keluarga kepala suku Yapen Waropen. Setelah tamat dari sekolah lanjutan, ia diterima menjadi pegawai negeri sipil di Dinas Pekerjaan Umum (PU).

Sebagai kepala suku, Yenu memiliki empat istri. Dari pernikahan dengan empat perempuan itu ia dikaruniai 37 anak. Tujuh di antaranya sudah masuk Islam, yakni anak dari istri ketiga dan keempat. “Saya termasuk pelaku poligami,” kata Yenu.

 

Setelah masuk Islam dan pensiun dari pegawai negeri sipil, aktivitas Yenu cuma membina muallaf. Jumlah yang dibina sekitar 40 orang. Mereka ini adalah jemaat gerejanya dulu.

Yenu juga kerap berdakwah di gereja. Uniknya, tak ada jemaat yang protes. Sebab, sebagian dari mereka masih ada yang menganggap Yenu beragama Kristen, bahkan masih sebagai pendeta. Mereka menyebutnya ”pendeta haji”.

 

Ketika dulu masih menjadi pendeta, Yenu dikenal sangat toleran kepada umat Islam. Sebab, Alkitab mengajarkan bahwa Nabi Isa sering membantu orang Islam. Karena itulah ia tak mau memusuhi Islam.

Yenu juga mengaku pernah memiliki Injil yang asli. Isinya hampir sama dengan apa yang diajarkan al-Qur`an. “Saya diberi oleh seorang pendeta tua ketika berada di Jayapura. Pendeta itu terkesan dengan saya dan saya dianggap murid yang paling bersungguh-sungguh belajar Injil,” kenangnya.

Meski kini sudah menjadi mubaligh, Yenu tetap kebanjiran tamu orang-orang Kristen. Bahkan, para pendeta juga banyak yang datang ke tempat tinggalnya.

“Saya siapkan kamar khusus untuk berdialog dengan pendeta,”kata Yenu. Dalam dialog tersebut Yenu membekali dirinya dengan kitab Fadhilah Amal. “Mereka tak berkutik ketika saya bacakan kitab tersebut. Sebab, mereka menganggap saya ini masih seorang pendeta,” kata Yenu.

 

Sehabis membacakan Fadhilah Amal, Yenu mengatakan bahwa yang dibaca tadi adalah firman Tuhan yang belum mereka ketahui. “Mereka hanya bisa melongo saja. Sebab, semuanya memakai bahasa Arab,” kata Yenu.

Mereka juga tak protes ketika Yenu berkata, ”Doa yang kalian punya cuma kunci surga nomor sekian. Adapun Islam punya al-Fathihah sebagai kunci surga nomor satu. Kunci yang mereka punya bisa cocok, bisa tidak. Sedang kunci orang Islam semuanya cocok.”

 

Uniknya, mereka malah senang. Meski mereka tidak langsung menyatakan masuk Islam, namun setiap hari para pendeta itu datang ke rumah Yenu, minta diajari Islam. Yenu juga sering memberi para pendeta itu buku tentang Islam. Yenu berharap, hidayah Allah akan turun kepada mereka lewat buku-buku itu.

Yenu memiliki perpustakaan khusus di rumahnya. Di sana ia mengoleksi 1.000 judul. Sehari-hari Yenu banyak menghabiskan waktunya di perpustkaan itu jika tidak sedang kedatangan tamu. *

 

 

Gigih Berjuang Untuk Irjateng

 

Kamis, 6 Desember 2007, sejumlah tokoh Papua ramai-ramai mengunjungi Jakarta. Mereka ingin mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk meresmikan berdirinya Propinsi Irian Jaya Tengah (Irjateng).

Maklum, sejak UU No 45/1999 terbit, hanya Propinsi Irjateng yang belum diresmikan berdiri. Padahal UU tersebut nyata-nyata menyebut pembentukan propinsi Irjateng bersama Irian Jaya Barat (kini Papua Barat), serta Kabupaten Paniai, Sorong, dan Timika. Semua daerah tersebut sudah resmi terbentuk kecuali Irjateng.

“Propinsi Irian Jaya Tengah itu simbol NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) di Irian. Jangan samakan kami seperti Propinsi Papua dan Papua Barat,” kata Ismail Saul Yenu yang juga Ketua Umum Gerakan Merah Putih ini.

 

Provinsi Irian Jaya Tengah ditunda pengoperasiannya oleh Susilo Bambang Yudhoyono ketika menjabat Menko Polkam tahun 1999. Ketika itu, Yudhoyono menetapkan Propinsi Irian Jaya Tengah dalam status quo akibat gejolak dari sekelompok kecil masyarakat Irian.

“Gejolak itu diciptakan dan direkayasa oleh segelintir elit politik yang berkepentingan, terutama para pendukung Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sebab, mereka berpandangan bila Irian dipecah-pecah akan sulit merdeka,” tuturnya.

Semua warga dan tokoh masyarakat Irian Jaya Tengah telah bersepakat untuk mendukung terbentuknya propinsi Irjateng. Kesepakatan itu, kata Yenu, telah tertuang dalam Pertemuan Nabire tanggal 31 Agustus 2006 yang diikuti perwakilan warga dari Kabupaten Yapen Waropen, Biak Numfor, Supiori, Paniai, Mimika, dan Nabire. Kelak, ibukota Provinsi Irjateng berada di Nabire.

Mengapa Anda begitu gigih memperjuangkan terbentuknya propinsi Irian Jaya Tengah?

Ini sesuai dengan amanat UU No 45/1999. Dalam undang-undang itu disebutkan adanya pembentukan propinsi Irian Jaya Tengah bersamaan dengan Irian Jaya Barat dan beberapa kabupaten.

Bukankah sebelumnya rencana pemekaran ini menimbulkan konflik? Bagaimana pendapat Anda?

Konflik itu diciptakan oleh segelintir orang yang punya kepentingan melepaskan Irian dari NKRI (Yenu lebih suka menyebut Irian ketimbang Papua). Dengan terbentuknya propinsi baru itu maka wilayah Irian akan terbagi-bagi sehingga menyulitkan mereka untuk merdeka.

 

Apakah Anda setuju jika Irian merdeka?

Membebaskan Irian Jaya dari Belanda, kemudian mengembalikan ke pangkuan Indonesia, tidak mudah. Butuh perjuangan luar biasa. Saya menyadari hal itu. Karenanya saya paling tidak setuju jika ada orang munafik yang ingin Irian merdeka.

 

Apa maksudnya?

Mereka yang sekarang ini teriak-teriak Papua Merdeka sebenarnya tak paham sejarah. Saya ini pelaku sejarah Trikora. Saya sering berkata kepada mereka, “Kamu jangan sembarangan teriak-teriak. Sebab, 40 tahun yang lalu, kamu belum lahir. Saya ini lahir di zaman Belanda, tapi saya tak suka Belanda. Kalian semua lahir di Indonesia, mengapa justru mau keluar dari Indonesia?

Bagaimana reaksi mereka?

 

Ya, mereka hanya mendengar saja. Tapi saya yakin, dengan sosialisasi terus menerus, mereka akan menyadari kekeliruannya. Sebab, rata-rata mereka itu berpendidikan. Tinggal tunggu waktu saja.

Saya sama sekali tak menganggap gerakan mereka itu sebuah saingan. Mereka masih anak-anak muda yang belum paham fakta sejarah. Kalau sadar, mereka pasti malu sendiri.

Menurut Anda, Gerakan Papua Merdeka itu masih ada?

Mereka masih ada.

Benarkah ada kepentingan asing di balik keinginan memisahkan diri dari NKRI itu?

 

Kita tak bisa memungkiri hal itu. Bahkan sebagian besar tokoh-tokohnya ada di luar negeri.

Karena itu saya meminta kepada pemerintah agar mengawasi setiap LSM asing yang datang ke sini, terutama LSM-LSM dari Belanda. Mereka harus diperiksa dulu.

Selama ini mereka terkesan baik kepada masyarakat. Padahal, mereka itu pura-pura membantu rakyat. Misi mereka sesungguhnya adalah memprovokasi rakyat agar mendukung Gerakan Papua Merdeka.

Sebagai seorang pejuang Trikora, apa yang Anda harapkan dari perjuangan Anda dahulu?

Saya ini pejuang yang lama bertahan. Saya berjuang sejak umur 18 tahun. Dulu (1957), Bung Karno berkata, ”Kita kibarkan Merah Putih sebelum ayam berkokok.” Tapi ternyata ia tak datang. Saya lalu pergi merobek sendiri bendera Belanda dan memasang Sang Merah Putih di tanah Irian ini. Orang-orang kemudian menjuluki saya Pejuang Merah Putih.

 

Benarkah ada kepentingan Kristen di balik Gerakan Papua Merdeka?

Benar, memang seperti itu. Saya tahu karena saya mantan pendeta. Saya tahu semua gerakan dan tujuan mereka. Alhamdulillah saya bisa keluar dari lingkaran mereka.

 

Apakah Anda tak merasa takut?

Sama sekali tidak. Kini tinggal sedikit orang Irian yang pro Indonesia. Kebanyakan mereka cuma berani ngomong di mulut saja, termasuk para pejabat. Semuanya munafik. Tak ada yang berani bicara vokal dan terus terang.

Apakah pernah Anda menerima ancaman atau teror?

Tak sedikit teror datang kepada saya. Namun, saya tak pernah melayani aksi mereka. Saya cuma katakan, ”Kalian itu masih kecil, belum tahu apa-apa. Kalian tak sebanding dengan saya. Jadi, tak usah macam-macam.”

 

Apa bentuk teror yang Anda terima?

Yang paling banyak berupa fitnah. Mereka menganggap saya ini sudah tua, tak sanggup berbuat apa-apa lagi.

 

Semua fitnah itu saya anggap angin lalu. Saya biarkan saja mereka berkomentar. Di mata saya, mereka bukan siapa-siapa. Mereka cuma anak muda berusia 20-an tahun, sedang usia saya 70-an tahun.

Jadi, ucapan mereka hanya untuk mereka saja. Mereka mirip layang-layang, kelihatan tinggi tapi tak punya kekuatan sama sekali. Kita putus benangnya, mereka langsung jatuh ke tanah.

Fadzlan Rabbani al-Garamatan (Dai asal Papua)

(http://majalah.hidayatullah.com/?p=1360)

 

http://trimudilah.blogspot.com/2009/12/ismail-saul-yenu-mantan-kepala-pendeta.htmlhttp://trimudilah.blogspot.com/2009/12/ismail-saul-yenu-mantan-kepala-pe...

SUBAHALLAH,Hidayah memang  datang tak mengenal umur. Itulah yang saya alami. Saat usia menginjak angka 68 tahun, Allah membuka pintu hati saya untuk masuk Islam. Padahal bertahun-tahun, saya adalah seorang pendeta, malah saya adalah ketua pendeta di Manokwari. Saya sekaligus adalah Kepala Suku Besar Serui.

Saya terlahir dengan nama Saul Yenu. Saya adalah manusia tiga zaman. Saya merasakan hidup di zaman Belanda, Jepang, dan kemerdekaan. Saya lahir 28 Oktober 1934. Karena itu saya pernah merasakan perih getirnya perjuangan. Saat itu saya sebagai pejuang pembebesan Irian Jaya.

 

Ternyata setelah kemerdekaan, penduduk Irian Jaya bukannya tambah berbudaya. Mereka tetap saja dalam ketertinggalan. Mereka tetap telanjang. Padahal di sana banyak berkeliaran para misionaris. Kekayaan alam yang dimiliki Irian Jaya ternyata tak memberi dampak kemajuan kepada penduduknya.

Ini saya lihat berbeda dengan kalangan Muslim. Kebetulan saya bergaul dengan baik dengan kaum Muslim di Irian Jaya, terutama ABRI (sekarang TNI) yang sering mengadakan kegiatan ABRI masuk desa pada dasawarsa 70-80-an. Mereka semua berpakaian. Mereka pun membangunkan rumah-rumah gratis bagi warga Irian. Begitu senangnya saya dengan mereka hingga saya pun dengan senang hati sering memberi bantuan kepada mereka. Kebetulan saat itu saya bekerja di Departemen Pekerjaan Umum.

Pergaulan intensif saya dengan orang-orang Muslim itu sedikit demi sedikit menimbulkan kekaguman pada diri saya. Mereka selalu membersihkan diri setiap hari minimal lima kali sehari. Mereka pun selalu shalat. ”Wah, jangan-jangan karena mereka sembahyang terus tiap hari, bumi ini menjadi berkah,” pikir saya.

Ini sangat berbeda dengan kebiasaan kami. Kami hanya ke gereja seminggu sekali. Itu pun tidak wajib. Berarti doa hanya sekali seminggu. Itu pun banyak di antara jemaaht gereja masih dalam keadaan habis minum bir dan minuman keras lainnya. ”Bagaimana doa bisa diterima kalau mabuk,” pikir saya.

 

Tapi itulah, kenyataaannya. Suatu saat saya berpikir: ”Kalau Kristen terus, berarti ini melanjutkan zaman Belanda. Masyarakat tidak akan pernah maju.” Soalnya, memang Belanda-lah yang membawa misi Kristen di Irian Jaya pertama kali. Dan hingga kini, misionaris tidak membangun peradaban baru. Justru mereka ingin mempertahankan budaya Irian yang sebenarnya terbelakang.

Pergaulan saya dengan orang-orang Muslim mengantarkan saya pada sebuah kesimpulan bahwa Islam identik dengan kemajuan. Dan inilah yang saya lihat sendiri. Orang-orang Muslim justru mengajak kami menggunakan pakaian. Belakangan saya baru tahu bahwa ada kewajiban bagi setiap Muslim menutup aurat.

Begitu eratnya hubungan saya dengan kaum Muslim ini hingga kalangan Kristen di Manokwari menyebut saya pendeta Krimus, alias Kristen Muslim. Saya bilang kepada mereka: ”Janganlah mengatakan seperti itu, nanti malah bisa menjadi Muslim betulan.”

 

Kekaguman saya atas perilaku kaum Muslim itulah yang membuat tekad saya kian kuat untuk memeluk Islam. Saya yakin: Islam adalah kemajuan. Pelajaran kependetaan yang saya jalani di Gereja Tabernakel tak mampu mencegah keinginan saya memenuhi panggilan Allah.

Jalan Berliku

Ternyata tak mudah masuk Islam. Mungkin karena saya adalah kepala pendeta dan kepala suku besar. Hingga suatu saat ketika saya menyampaikan niat saya kepada seorang kepala KUA di Manokwari, dia menolak. Sepertinya dia tak berani mengislamkan saya.

 

Tapi niat hati ini tak bisa dibendung. Saya akhirnya memutuskan pergi ke Jakarta demi niat tersebut. Saya dibantu oleh saudara Khairudin, kenalan saya yang bekerja di Angkatan Laut. Saya kemudian diantar ke Condet, menghadap seorang ulama di sana. Di situ saya mengucapkan syahadat. Saya pun mengubah nama menjadi Ismail Saul Yenu.

Untuk lebih meyakinkan lagi, saya dibawa ke Masjid Al Azhar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu bulan Februari 2002. Keislaman saya disahkan di masjid besar itu. ”Alhamdulillah.” Setelah itu, saya pun disunat. Saya dibawa ke Bandung. Dalam kondisi sudah tua seperti ini saya harus sunat bersama anak-anak. Memang agak malu, tapi harus bagaimana lagi.

 

Masuk Islam saya ternyata sampai juga ke Irian Jaya, Belanda, dan Jerman. Mereka gempar. Jelas mereka tak terima langkah saya, apalagi saya punya posisi yang penting di Manokwari khususnya Suku Besar Serui.

Karena itu saya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Saya ingin tinggal di Jakarta terlebih dahulu, sekalian belajar Islam. Kebetulan saat itu adalah musim haji. Saya ingin sekali naik haji. Berkat bantuan teman-teman di Jakarta, akhirnya saya dibantu Pak Amien Rais untuk menunaikan haji. Dalam kondisi masih diperban, saya berangkat haji bersama rombongan Aisyiyah.

 

Sepulang dari haji, saya diminta tak langsung pulang ke Irian. Tapi saya tetap nekad. Saya yakin Allah akan selalu menyertai kita. Saya yang sejak haji mengenakan gamis panjang dan topi haji, berangkat naik kapal Pelni. Banyak liku-liku di perjalanan, termasuk ketika kapal dilarang merapat di Ambon karena ada konflik. Saya nekad meminta kapal dibolehkan sandar. Kapal pun sandar.

Ketika kapal Ciremai sampai di Manokwari, saya justru disambut. Tidak hanya kalangan Islam tapi juga Kristen. Saya diterima secara adat dengan cara melewati kain slopang sepanjang 40 meter berwarna biru tua. Ini adalah simbol kematian. Tapi di atas kain itu ditaruh 100 piring yang menandakan kebangkitan. Ini artinya, sebagai pendeta sudah mati dan bangkit lagi sebagai haji.

 

Sejak itu saya berusaha menyampaikan Islam kepada siapapun. Baik kepada keluarga maupun saya datang langsung ke gereja. Saya selalu bilang kepada mereka: ”Saya datang untuk sampaikan firman Allah yang sebenarnya.”

Memang baru hal-hal ringan yang saya sampaikan seperti tidak boleh mabuk, harus selalu bersih dan suci. Saya juga menyampaikan bahwa Islam tidaklah seperti yang digambarkan oleh para misionaris sebagai agama yang harus dibenci. Islam adalah agama yang baik yang mengajarkan manusia untuk berbudaya luhur, tidak telanjang seperti sekarang. ”Ajaran yang demikian baik, seharusnya bisa diterima,” kata saya dalam setiap pertemuan.

Paling tidak hingga kini sudah ada 50 orang yang masuk Islam. Alhamdulillah. Sebanyak 20 di antaranya sudah naik haji. Keluarga pun beberapa mengikuti jejak saya. Anak saya yang berjumlah 37 orang, tujuh di antaranya sudah masuk Islam. Istri saya empat orang, dua di antaranya pun sudah jadi mualaf. Alhamdulillah. Saya akan terus berusaha agar penduduk Irian terbebas dari keterbelakangannya dengan cara mengajak mereka masuk Islam.

Berbagai bantuan kini sedang saya kumpulkan, terutama adalah pakaian. Saya ingin mereka berpakaian, menutup aurat. Itulah salah satu ajaran Islam. ALLAHUAKBAR, ISLAM AKAN MEMBAWA SUKU TERBELAKANG MNJADI MANUSIA YG TERHORMAT DAN BERADAB!

 

 

BONUS EDDITION:

Masjid Patimburak, Saksi Bisu Sejarah Islam di Papua Abad 19

Islam diyakini telah ada di Papua jauh sebelum misionaris Nasrani masuk pulau paling timur Indonesia itu. Saksi bisu sejarah itu adalah Masjid Patimburak di Distrik Kokas, Fakfak. Masjid ini dibangun oleh Raja Wertuer I bernama kecil Semempe.

 

Saat itu, tahun 1870, Islam dan Kristen sudah menjadi dua agama yang hidup berdampingan di Papua. Ketika dua agama ini akhirnya masuk ke wilayahnya, Wertuer sang raja tak ingin rakyatnya terbelah kepercayaannya.

Maka ia membuat sayembara: misionaris Kristen dan imam Muslim ditantang untuk membuat masjid dan gereja. Masjid didirikan di Patumburak, gereja didirikan di Bahirkendik. Bila salah satu di antara keduanya bisa menyelesaikan bangunannya dalam waktu yang ditentukan, maka seluruh rakyat Wertuer akan memeluk agama itu.

“Masjid lah yang berdiri pertama kali,” ujar juru kunci masjid itu, Ahmad Kuda. Maka raja dan seluruh rakyatnya pun memeluk Islam. Bahkan sang raja kemudian menjadi imam juga, dengan pakaian kebesarannya berupa jubah, sorban, dan tanda pangkat di bahunya.

 

Arsitektur Masjid Patimburak sendiri tergolong unik. Dari kejauhan, masjid ini terlihat seperti gereja. Kubahnya mirip gereja-gereja di Eropa masa lampau. Namun ada empat tiang penyangganya di tengah masjid, menyerupai struktur bangunan Jawa. Interior dalamnya pun hampir sama dengan masjid-masjid di Pulau Jawa yang didirikan oleh para wali.

Masjid itu kini masih berdiri megah di pinggir teluk Kokas, setengah jam perjalanan dengan perahu bermotor dari dermaga Kokas. Lubang bekas peluru sisa-sisa serbuan pasukan Belanda dibiarkan utuh.

Kapan persisnya Islam masuk ke Papua memang tak pernah terekam dengan jelas. Pemerintah Kabupaten Fakfak pernah mengadakan beberapa kali seminar membahas tentang hal ini. Petunjuk hanya mengarah pada bahwa pada abad XV Islam sudah ada di Fakfak, namun kapan tepatnya dienullah itu menerangi warga Papua, tak ada catatan pasti.

Fakta lain disodorkan Raja Teluk Patipi XVI yang bernama kecil H Ahmad Iba. Dari ruang pribadinya – rumahnya berdinding papan di sudut kota Fakfak, Papua Barat – dia mengeluarkan sebuah buntalan putih besar. Isinya: delapan manuskrip kuno berhuruf Arab.

 

Lima manuskrip berbentuk kitab dengan berbagai ukuran. Yang terbesar berukuran sekitar 50 X 40 cm, berupa mushaf Alquran tulisan tangan di atas kulit kayu yang dirangkai. Empat lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadis, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Ada “tanda tangan” dalam kitab itu, berupa gambar tapak tangan dengan jari terbuka.

Sedang tiga kitab berikutnya, ini dia: dimasukkan ke dalam buluh bambu dan ditulis di atas daun koba-koba, pohon asli Papua yang kini mulai punah. Sekilas, mirip manuskrip daun lontar yang banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia Timur.

 

Lima manuskrip pertama diyakini masuk ke Papua tahun 1214-an, berdasar cerita turun-temurun. Kitab-kitab itu dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh yang datang menyertai rombongan ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk lewat Mes, ibukota Kerajaan Teluk Patipi saat itu.

Kenapa yakin dengan tahun itu? “Di Mes di masa lalu pernah ditemukan gambar tapak tangan yang detilnya mirip dengan gambar yang sama di manuskrip Alquran kuno berangka tahun sama,” ujar Raja Teluk Patipi XVI. Tapak tangan yang sama juga dijumpai di Teluk Etna (Kaimana) dan Merauke.

Ia mendapat cerita dari kakek buyutnya, lagi-lagi cerita turun-temurun, yang menyebut sebuah tsunami besar pernah menyapu bersih Mes – itu pula yang membuat ibu kota kerajaan itu dipindahkan ke Teluk Patipi. Dalam musibah itu, seluruh harta benda habis, “Termasuk kitab-kitab ajaran alif lam lam ha (maksudnya ejaan Allah, ajaran Islam adalah memerintahkan manusia menyembah Allah, red),” ujarnya.

(http://www.voa-islam.com/lintasberita/republika/2010/11/30/12046/masjid-patimburak-saksi-bisu-sejarah-islam-di-papua-abad-19/)

 

 

Fakta lain yang selama ini terselimuti kabut tebal adalah perihal komunitas Muslim di kawasan ini. Selama ini pula, banyak orang yang bertanya-tanya, adakah orang Islam di Papua? Adakah komunitas pribumi (penduduk asli Papua) yang memeluk Islam sebagai agama mereka? Ironisnya, belum lagi pertanyaan itu terjawab, seolah ada ungkapan pembenaran bahwa: Papua identik dengan Kristen. Atau dengan bahasa yang lebih lugas lagi: setiap orang Papua ya mesti Kristen.

 

Tentu saja statemen seperti ini membawa dampak negative yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan dan dakwah Islam di kawasan yang masih menyimpan hasil kekayaan alam yang sangat melimpah ruah ini.

Bahkan saat ini jumlah komunitas Muslim di Papua sudah mencapai angka 900 ribu jiwa dari total jumlah penduduk sekitar 2.4 juta jiwa, atau menempati posisi 40 % dari keseluruhan jumlah penduduk Papua. 60% penduduk merupakan gabungan pemeluk agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Animisme.

Namun, di antara imej yang kurang menguntungkan seperti itu, juga “tekanan psikologis” suasana serba Kristen, dimana setiap mata memandang begitu banyak gereja-- sebagai buah dari kerja keras para missionaries, yang didukung dengan dana yang nyaris tak terbatas, serta ditunjang sarana teknologi komunikasi dan transportasi canggih, pelan-pelan komunitas Islam tumbuh dan menyinari bumi cenderawasih yang di lingkungan kaum muslimin menyebutnya sebagai kawasan Jabal an Nuar.

 

Ismail Saul Yenu (67), seorang pendeta sekaligus kepala suku besar di Yapen Waropen telah masuk Islam dengan diikuti istri dan anaknya. Ismail yang juga Ketua Benteng Merah Putih pembebasan Irian Barat dan Ketua Assosiasi Nelayan Seluruh Papua telah menunaikan ibadah haji pada tahun 2002.

Seorang pendeta di Biak Numfor bernama Romsumbre (Abdurrahman) juga telah masuk Islam beserta keluarga dan 4 orang anaknya. Wilhelmus Waros Gebse Kepala suku Marin, Merauke juga telah meninggalkan agama lamanya Katolik dan memilih masuk Islam bersama Istri dan anak-anakknya. Kini Wilhelmus sedang merintis sebuah pondok pesantren di kampung halamannya di Merauke.

Saat ini, di desa Bolakme, sebuah distrik di Lembah Baliem, seorang pendeta dan kepala suku bersama 20 orang warganya ingin sekali memeluk Islam.

 

Berkali-kali keinginan itu disampaikan ke tokoh masyarakat Muslim, akan tetapi pihak MUI agaknya sangat berhati-hati dalam menerima mereka. Alasannya, di samping faktor keamanan, juga pembinaan terhadap mereka setelah itu, tidak ada. “Inilah tantangan bagi kita. Tidak sedikit penduduk asli yang ingin masuk Islam, tapi kita kekurangan dai.” tutur H.Burhanuddin Marzuki, ketua MUI Kabupatern Jayawijaya yang sudah 30 tahun tinggal di Lembah Baliem.

Berita yang sempat meramaikan media massa adalah dengan masuk Islamnya “kepala suku perang” H. Aipon Asso pada tahun 1974.Sebelum itu, seorang tetua di desa Walesi bernama Marasugun telah lebih dulu masuk Islam setelah berinteraksi dengan para perantau di kota Wamena yang berasal dari Bugis-Makassar, Jawa, Madura maupun Padang.

Keislaman Aipon Asso lalu diikuti oleh 600 orang warganya di desa Walesi. H. Aipon yang kini sudah berusia 70 tahun menjadi kepala suku yang sangat di segani di seluruh lembah Baliem. Wilayah kekuasaannya membentang hampir 2/3 cekungan mangkuk lembah Baliem.

Ia benar-benar sosok kepala suku mujahid yang sangat diperhitungkan di kawasan ini.

Bahkan ketika ia baru pulang dari menunaikan ibadah haji (1985), dengan mengenakan surban dan baju gamis panjang, secara demonstratif ia turun ke jalan dan melakukan pawai di pusat kota Wamena sambil mengerahkan ratusan warganya yang masih mengenakan koteka dan bertelanjang dada.

Teringatlah kita pada kisah sahabat Nabi Muhammad yakni Umar bin Khattab ketika akan melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah yang tilakukannya tanpa sembunyi-sembunyi dan tanpa ada rasa takut.

 

Saat kerusuhan menimpa Wamena tahun 2000 lalu, sebagian pendatang baik Muslim maupun Kriten dicekam rasa takut. Tidak terkecuali Muslim pribumi pun mengalami hal serupa. Untuk meredam situasi, pihak pemerintah menyelenggarkan pertemuan dengan kepala-kepala suku dan tokoh-tokoh agama. Dalam pertemuan dengan jajaran pemerintah daerah tersebut H.Aipon mengusulkan ditempatkannya aparat keamanan secara permanen di kawasan ini dan itu disetujui.

Di ibukota provinsi Papua, Jayapura, seperti juga di kota-kota lain seperti Fak-Fak, Sorong, Wamena, Manukwari, Kaimana, Merauke, Timika, Biak dan Merauke, suasana keislaman semakin tampak, khususnya di kalangan pendatang. Selain jumlah rumah ibadah yang semakin bertambah, kegiatan halaqah juga tumbuh tidak kalah subur. Selain itu, bila kita jalan-jalan di pusat kota Jayapura tidak sulit kita menemui Muslimah berjilbab lalu lalang di antara keramaian. Termasuk di kampus ternama di Papua Universitas Cenderawasih, para wanita berjilbab juga dengan mudah kita temui.

Penduduk Muslim di kota terdiri dari para pedagang, pagawai, pengusaha, pelajar/mahasiswa, guru, atau buruh.

Secara keseluruhan jumlah komunitas Muslim di Papua mengalami peningkatan yang cukup pesat, utamanya di kota kabupaten atau provinsi. Dalam catatan yang dikeluarkan oleh LP3ES, Papua, termasuk dari 7 kantong-kantong Kristen di seluruh Indonesia yang semakin penyusutan. Sebaiknya jumlah penduduk Muslim semakin tumbuh.

Sebenarnya potensi Sumber Daya Manusia (SDM) Muslim di Papua tidak kalah banyak di banding dengan ummat lain.

Akan tetapi nampaknya ada semacam perasaan ‘tidak PD” di kalangan mereka untuk tampil dan terlibat langsung dalam lingkar pemerintahan. Akibatnya, mereka hanya menjadi penonton, atau—katakanlah-- turut terlibat, namun ada di ‘wilayah yang tidak menentukan’.

 

“Ini tentu saja menjadi PR kita ke depan. Ummat Islam Papua harus menghalau rasa tidak PD-nya, dan selanjutnya bersama yang lain terlibat langsung membangun Papua,” tutur Mohammad Abud Musa’ad MSi(42), intelektual Muslim Papua yang juga anggota tim penyusun UU otonomi khusus Papua.

“Secara historis, keberadaan ummat Islam sebagai pendatang awal di Tanah Papua, sudah klir. Dan itu sudah tertuang dalam buku putih yang dikeluarkan oleh Pemerintah Papua.” jelas Musa’ad yang tinggal di bilangan Abepura, Jayapuran ini. “Namun yang terpenting, kita harus segera berkarya dan tidak boleh asyik bernostalgia dengan sejarah,”pesannya pada Muslim Papua.

Musa’ad juga menyadari, kendati sejumlah pertemuan tentang kedudukan ummat Islam di Papua pernah dilakukan, akan tetapi karena tidak adanya sosialisasi dan tindak lanjut dalam program, semua seolah lenyap tanpa bekas.

Masih kata Musa’ad, bahwa peran politik ummat Islam Papua saat ini masih terlalu kecil, yakni tidak lebih dari 10 %. Kenyataan ini tentu saja sangat memperihatinkan.

 

Bahkan dapat dibayangkan dari 900 ribu jiwa Muslim yang tersebar dalam 29 kabupaten/kota yang ada saat ini, hanya terdapat dua kabupaten yang dipimpin oleh pejabat Muslim yakni di Fak-Fak dan di Kaimana. Bahkan di kantong-kantong kabupaten berpenduduk asli mayoritas Muslim seperti Babo dan Bintuni, misalnya, saat ini dipimpin oleh non-Muslim.

Senada dengan Musa’ad, menurut DR (desertasi) Toni Vm Wanggai yang juga Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Yapis Jayapura, bahwa sosialisasi dan pelurusan sejarah Islam di Papua harus dilakukan terus menerus.

Hal itu perlu dilakukan agar ummt Islam di Papua mengetahui jati diri mereka, sekaligus menginformasikan kepada fihak lain yang belum faham, untuk tidak menganggap kaum Muslimin sebagai ‘tamu di Papua’. Muslim adalah juga pemilik sah kawasan ini, sehingga mereka memiliki porsi keterlibatan yang sama untuk membangun Papua. Islam hadir di Papua abad ke-XV sedang Kristen masuk Papua pertengahan abad ke-XIX (5 Februari 1855).

Kegelisahan Toni, adalah seiring dengan adanya upaya dari kelompok Kristen yang ingin menghapuskan jejak Islam di kawasan ini, khusunya di kawasan Raja Ampat Di mana hama “Raja Ampat” akan dihilangkan dan diganti dengan nama lain. Padahal, nama Raja Ampat adalah se-monumental sejarah Papua sendiri.

“Nama Raja Ampat diambil dari eksistensi kerajaah-kerajaan Islam yang berkuasa di kawasan Indonesia timur saat itu yakni: Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan.” tegas Toni yang mengambil desertasinya tentang ‘Rekontruksi Sejarah Islam Papua’.

 

Kendati masih sebatas wacana yang dipublikasikan di media lokal, namun tak urung informasi nyeleneh seperti itu membuat gelisah sejumlah tokoh Muslim.

“Itu sama dengan bunuh diri.” kata M Shalahuddin Mayalibit, SH, mengomentari gagasan itu. “ Sekalipun dipublikasikan seribu kali, itu tidak akan terwujud.” kata dosen Fakultas Hukum di Universitas Cenderawasih ini menjelaskan.

“ Raja Ampat dan Muslim sudah menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan,” tegas cucu Muhammad Aminuddin Arfan, tokoh Muslim dari kerajaan Salawati yang ditugasi Raja Tidore untuk mengantar CW. Ottow dan GJ Geissler si bapak Kristen ke Papua.

 

Selain di Fak-fak sebagai “Serambi Mekkah”-nya Islam– kawasan ini sekaligus sebagai pemasok muballigh dan guru agama di pelosok Papua– ribuan komunitas Muslim dari kalangan pribumi juga tersebar di 14 tempat terpisah di Kabupaten Jayawijaya. Seperti di Desa Walesi dengan kepala sukunya Bapak H Aipon Asso, di sana terdapat 600 Muslim yang masuk Islam 26 Mei 1978. Efek domino syahadat terus merambat ke Megapura. Di sana terdapat 165 Muslim penduduk asli yang dipimpin oleh kepala sukunya yang bernama Musa Asso.

Komunitas Muslim asli juga terdapat di berbagai kecamatan seperti di Kurulu 61 orang, Kelila 131 orang, Bakondidi 57 orang, di karubaga 59 orang, di Tiom 79 orang, di Makki 40 orang, di Kurima 18 orang, di Assologima 184 orang, di Oksibil 20 orang, di Okbibab 10 dan di Kiwirok 15 orang. Sedang di kota Wamena sendiri sekalipun bercampur dengan para pendatang dari Jawa, Bugis dan Sumatera jumlah komunitas Muslim di sini mencapai tidak kurang dari 5000 orang.

Dari kalangan kepala suku dan pendeta yang masuk Islam selain H.Aipon Asso dan Mussa Asso di atas, sebagian dapat disebutkan di sini seperti Ismail Yenu(68), seorang Kepala Suku Besar Yapen-Waropen Manukwari; Wilhelmus Waros Gebze (53), Kepala Suku Marin di Merauke; dan Romsumbe, pendeta yang masuk Islam bersama 4 orang anaknya di Biak Numfor.

 

Seiring dengan diberlakukannya Undang-Undang nomor 21 tahun 2001 tentang otonomi khusus, peluang keterlibatan Muslim di pemerintahan semakin terbuka lebar. (baca: Peluang dan Tantangan di Era Otonomi) Hanyasaja diperlukan kekompakan dari segenap elememen

Muslim baik para intelaktualnya, ormas Islam, alim ulama, tokoh pemuda, mahasiswa dan remaja, pondok-pondok pesantren, dll.

Tanpa dengan itu mereka akan tetap terpinggirkan, dan bahkan tidak mustahil akan menjadi ‘kambing hitam politik’ oleh kelompok kepentingan yang sudah lama ingin menguasai Papua(Kristen). [Ali Athwa. Penulis adalah wartawan Majalah Hidayatullah dan penulisbuku  Islam Atau Kristen Agama Orang Irian (Papua)”. Tulisan diambil dari Majalah Hidayatullah]


http://trimudilah.blogspot.com/2009/12/ismail-saul-yenu-mantan-kepala-pendeta.html

(Jft/Efbi-Mualaaf Papua)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...