3 April 2020

Resmi Berlakukan hukum Islam, Brunei akan Jatuhkan Hukuman Mati bagi Pelaku Perzinaan dan LGBT

KONFRONTASI -   Sebuah undang-undang baru yang mulai berlaku minggu depan akan menghukum pelaku perzinahan dan homoseksual dengan hukuman mati di kerajaan Brunei, sebuah negara kecil di Asia Tenggara.

Mulai tanggal tiga April, setiap orang yang dinyatakan bersalah akan dilempari batu sampai mati, menurut hukum pidana baru. Hukuman akan disaksikan oleh sekelompok masyarakat muslim.


 
Undang-undang baru itu diumumkan pada 2014, dan telah di laksanakan secara bertahap. Tahap implementasi terbaru secara diam-diam diumumkan di situs web jaksa agung Brunei pada 29 Desember 2018.

Kelompok-kelompok HAM dengan cepat mengungkapkan kengerian mereka atas ditetapkannya hukuman tersebut. Salah satu hukuman fisik lainnya yaitu hukuman amputasi bagi tindak pidana pencurian.


 
“Brunei harus segera menghentikan rencananya untuk mengimplementasikan hukuman kejam ini dan merevisi hukum pidananya sebagai bentuk kewajiban atas hak asasi manusia. Komunitas internasional harus segera mengutuk tindakan Brunei terkait penerapan praktik hukuman kejam ini,” kata Rachel Chhoa-Howard, peneliti Brunei di Amnesty Internasional, seperti dilansir CNN.

Ada seruan internasional yang luas ketika Brunei menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang mengadopsi hukum syariah pada 2014, sebuah sistem hukum islam yang menerapkan hukuman fisik yang ketat.

Kerajaan kecil yang kaya minyak dengan lebih dari 450.000 penduduk ini terletak di pulau Kalimantan, dekat dengan negara-negara Islam moderat di Indonesia dan Malaysia. Dibandingkan dengan tetangganya, Brunei telah tumbuh menjadi negara konservatif dalam beberapa tahun terakhir, termasuk melarang penjualan alkohol.

Undang-undang baru yang diumumkan pada Mei 2014 oleh Sultan Brunei, Hassanal Bolkiah, yang juga bertindak sebagai perdana menteri negara itu. Saat mengumumkan perubahan itu, Sultan mengatakan pada situs web pemerintah bahwa pemerintahnya tidak mengharapkan orang lain untuk menerima atau setuju dengan hukum itu. Tetapi sudah cukup jika mereka menghormati bangsa itu layaknya Brunei menghormati mereka. (Jft/IndoPos)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...