4 April 2020

Pengacara Israel Ini Gigih Memperjuangkan Hak Warga Palestina

KONFRONTASI-Menyikapi aksi tahanan Palestina yang kerap kali melakukan aksi mogok makan sebagai bentuk perlawanan, Parlemen Israel telah mengesahkan undang-undang baru yang melegalkan pemaksaan makan terhadap tahanan.

Bagi warga Palestina di penjara-penjara Israel, mogok makan adalah modus kuat memprotes penahanan dan pendudukan.

PBB, Komisi Tahanan Palestina dan Asosiasi Medis Israel mengutuk undang-undang baru itu.

Asosiasi medis negara Zionis mendesak dokter untuk tidak ikut serta dalam pemaksaan makan, dengan mengatakan secara efektif menyiksa dan melanggar etika medis.

Namun Israel mengatakan bahwa aksi mogok makan Tahanan Palestina bisa menyebabkan kematian dan menimbulkkan gelombang protes di seluruh kawasan Tepi Barat yang diduduki Israel dan Jerusalem Timur.

Ini adalah langkah yang menyoroti perlakuan terhadap tahanan Palestina dan bagaimana mereka membela diri menghadapi perlakuan Israel.



Salah satu pembela aksi mogok makan ini adalah pengacara Israel, Lea Tsemel, yang telah memiliki karir lebih dari empat dekade. Selain jarang pengacara serupa di Israel, hampir semua kliennya telah secara eksklusif justru warga Palestina.

Tsemel jarang menolak kasus dan selalu membela pria, perempuan, dan mulai banyak anak-anak yang diadili di pengadilan Israel atas tuduhan kejahatan mulai dari melempar batu (intifada) hingga usaha bom bunuh diri.

Dalam pandangannya, jika Israel terus menduduki tanah Palestina, reaksi apapun - kekerasan atau sebaliknya - adalah akibat langsung dari pendudukan Israel.

"Saya percaya bahwa orang-orang yang berada di bawah pendudukan memiliki hak untuk melawan," katanya.

Lahir di Haifa pada tahun 1945 dari orang tua pro-Zionis, Tsemel bekerja sebagai relawan untuk tentara Israel selama perang 1967. Itu adalah pengalaman yang dia katakan mengantarnya ke aktivitas politik dan karir di bidang hukum.

Karir hukum Tsemel telah ditandai, dalam kata-katanya sendiri, dengan "kegagalan besar," tetapi juga keberhasilan yang penting.

Pembelaannya terhadap warga Palestina sangat kontroversial di Israel. Bahkan dia menerima ancaman pembunuhan.

Saat ia berbicara kepada Al Jazeera, Lea Tsemel mengatakan, ancaman itu tidak akan mencegah dia berjuang untuk hak-hak warga Palestina.

"Mayoritas orang-orang Yahudi Israel adalah sayap kanan, mereka buta dan tuli terhadap masa depan mereka sendiri untuk kemungkinan mereka untuk tinggal di sini. Mereka disesatkan oleh ketakutan dan janji-janji palsu. Ada serangkaian undang-undang yang tak tertahankan bagi saya. Undang-undang yang membedakan antara Yahudi dan Arab di negara ini," ujar Lea Tsemel.[mr/aje/pr]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...