6 April 2020

Menaker Minta Korsel Serius Tangani Kapal Karam di Rusia

Konfrontasi - Menteri Ketenagakerjaan Muh Hanif Dhakiri meminta pemerintah Korea Selatan serius dan melakukan berbagai upaya terbaik untuk menangani kecelakaan kapal yang tenggelam di Laut Bering, Rusia, karena melibatkan anak buah kapal (ABK) dari Indonesia.

"Kami meminta pemerintah Korsel agar terus memberikan 'update' informasi secara langsung ke pemerintah dan meminta adanya jaminan perawatan dan asuransi bagi korban bagi yang menderita sakit maupun yang meninggal," kata Menaker usai melakukan pertemuan bilateral dengan Duta Besar Korea Selatan (Korsel) untuk Indonesia Cho Tai Young di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Jumat (5/12).

Kapal penangkap ikan Korea Selatan "The Oryong 501" tenggelam di Laut Bering, Rusia, Senin (1/12). Kapal yang memiliki bobot 1.753 ton itu sedang menangkap ikan pollack dan diawaki oleh 60 ABK dengan berbagai kewarganegaraan, yaitu 11 orang Korsel, 35 WNI, 13 warga Filipina, dan satu pemeriksa berkebangsaan Rusia.

Hanif meminta seluruh informasi, baik ABK yang sudah ditemukan maupun belum, harus terus diinformasikan ke pemerintah Indonesia. "Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kemnaker memberikan perhatian serius terkait dengan nasib TKI yang menjadi ABK. Namun, Korsel juga harus terus 'update' perkembangan kasus tersebut," kata Hanif. 

Pemerintah Indonesia juga meminta Korsel menangani dengan baik korban yang sudah ditemukan oleh tim penyelamat. Secara khusus, Menaker meminta kepada Dubes Korsel agar memastikan seluruh ABK yang nahas itu terlindungi oleh asuransi yang akan menanggung seluruh biaya pengobatan.

Dalam kesempatan itu, Dubes Korsel untuk Indonesia Cho Tai Young menyampaikan belasungkawa kepada seluruh ABK yang ditemukan meninggal. Cho juga menjamin seluruh permintaan pemerintah Indonesia yang disampaikan Menaker akan segera disampaikan dan ditindaklanjuti ke pemerintah pusat Korsel.

Sementara itu, meski terkendala cuaca ekstrem, Cho menjamin tim penyelamat akan terus berupaya mencari korban yang belum ditemukan. Pemerintah Korea akan segera mengirim pesawat "Search and Rescue" (SAR) dan menjanjikan untuk memberikan laporan detail kepada pemerintah Indonesia. "Atas nama pemerintah Korsel, kami menyampaikan belasungkawa. Pemerintah akan terus membantu pencarian korban yang tenggelam," demikian Cho.

Cho juga juga akan memastikan seluruh ABK untuk dilindungi asuransi sehingga mendapatkan hak perawatan hingga sembuh dan seluruh jenazah ABK yang ditemukan akan segera dipulangkan.

Dalam pertemuan itu, Hanif juga mendesak pemerintah Korea memberikan perlindungan hukum yang lebih baik untuk menghindari adanya tindakan-tindakan kekerasan, terutama bagi pekeja di bidang manufaktur dan perikanan. "Kita meminta Korea Selatan meningkatkan aspek perlindungan dan kesejahteraan TKI yang akan bekerja di sana melalui pembenahan sistem dan mekanisme penempatan dan perlindungan TKI yang lebih baik," kata Hanif.

Penempatan TKI ke Korea Selatan dilaksanakan melalui kerja sama government to government berdasarkan MoU "Employment Permit System" (EPS) antara Kemnakertrans RI dan Kemenaker Korea yang diperbarui tiap dua tahun. Nota kesepahaman (MoU) terakhir ditandangani 25 Juli 2013. Beradasarkan data, sejak 2004 sampai dengan 2014, penempatan TKI ke Korea mencapai angka 56.212 orang. (akt)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...