5 April 2020

Meraup Keuntungan dari Bisnis Cat Curah

Konfrontasi - Walau permintaan cat curah terus meningkat tapi pasokannya masih kurang. Peluang usaha mendirikan pabrik cat curah pun menjanjikan. Apalagi, margin usahanya bisa mencapai 40%. Cuma, tetap dengan perhitungan matang, ya.

Cat memainkan peranan sangat penting pada bangunan. Rumah, kios, kafe, gedung sekolah, hingga kantor butuh warna. Sekokoh apa pun bangunan yang Anda dirikan, akan tampak kurang indah tanpa polesan cat, baik pada interior ataupun eksteriornya.

Ya, cat memang menjadi salah satu kebutuhan pokok, entah untuk renovasi atau membangun bangunan baru. Makanya, pasar cat tak cuma kontraktor atau pengembang properti, tapi juga pengguna langsung atawa ritel. Tak pelak, perputaran bisnis di industri ini cukup besar. Pelaku industri cat memperkirakan, nilai penjualan cat di Indonesia per tahun mencapai Rp 20 triliun.

Ada dua jenis cat yang beredar luas di pasaran. Pertama, cat bermerek yang diproduksi oleh pabrik-pabrik besar dan  rata-rata milik perusahaan asing ternama. Kedua, cat tanpa merek yang lebih populer dengan sebutan cat curah. Cat KW dua ini umumnya dihasilkan oleh industri skala kecil.

Meski dari sisi kualitas dipastikan berada di bawah cat bermerek, cat curah bukan berarti kehilangan pelanggan. Harga miring menjadi alternatif bagi konsumen memakai cat curah ketimbang cat brand ternama, seperti Dulux, Vinilex, dan Nippon Paint.

Ambil contoh, harga cat bermerek berkisar Rp 20.000–Rp 30.000 per kilogram (kg). Sedang harga cat curah di pasaran hanya Rp 6.500–Rp 11.000  per kilogram (kg). Ketika kurs rupiah menembus Rp 12.900 per dolar Amerika Serikat (AS), harga cat bermerek ikut melonjak. Maklum, hampir 80% bahan baku harus diimpor.

Lantaran harga cat curah yang miring itulah, tak heran peminatnya pun semakin banyak. Permintaan tidak cuma datang dari pemilik rumah yang ingin memupuri dinding atau tembok tempat tinggalnya dengan cat curah. Bisnis properti yang terus tumbuh juga telah mendongkrak permintaan cat tanpa merek tersebut.

Agar kenaikan harga rumah yang ditawarkannya tak kelewat tinggi, pengembang berusaha keras menekan biaya material. Salah satu caranya, ya, memakai cat curah. "Setiap tahun permintaan cat curah terus naik," ungkap Fatimah, distributor cat curah yang membuka toko di Jalan Raya Bojonggede, Bogor, Jawa Barat.

Sebelum tahun 2014, Fatimah menuturkan, penjualan cat curah di tokonya hanya berkisar 3 ton–5 ton per tahun. Tahun lalu penjualannya melonjak dua kali lipat jadi 10 ton. Permintaan paling besar datang saat menjelang bulan puasa dan Lebaran.

Selain pembeli eceran, peminatnya lebih dari 40% berasal dari pengembang perumahan, gedung, dan perkantoran di  wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. "Permintaan cat curah juga meningkat saat harga cat bermerek naik," ujar Fatimah. (mg/kntn)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...