3 April 2020

Harga BBM Pertamina Mencekik Rakyat

KONFRONTASI-Harga bahan bakar minyak (BBM) yang dijual PT Pertamina (Persero) dinilai terlalu mahal, melebihi harga pasar.

Anggota Komisi VI DPR Bambang Haryo Soekartono mendesak Pertamina untuk memberikan penjelasan atas besaran harga BBM yang lebih tinggi dibandingkan harga pasar. "Pertamina harus menjelaskan kepada publik ke mana hasil penjualan BBM yang mahal itu. Jika tidak bisa mempertanggung jawabkannya, berarti Pertamina merampok hak rakyat," tegas Bambang di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (07/06/2016).

Kata Bambang, Pertamina tidak hanya menjual BBM nonsubsidi lebih mahal ketimbang harga keekonomian, tetapi juga menjual BBM subsidi lebih mahal ketimbang BBM nonsubsidi. Ini menjadi temuan yang sangat ironis.

Bambang menjabarkan, Pertamina membanderol solar subsidi Rp 5.150 per liter, sementara solar nonsubsidi (industri) hanya dihargai Rp 4.500 per liter oleh PT Patra Niaga, anak usaha Pertamina.

Politisi Partai Gerindra ini membandingkan, Pertamina juga menjual premium atau bensin lebih mahal ketimbang negara lain.

Untuk premium RON 90 (setara pertalite), harga di Malaysia hanya 1,2 ringgit atau Rp 3.892 per liter. Sementara Pertamina melego pertalite Rp 7.100 per liter. Demikian juga dengan Pertamax Plus (RON 95), Pertamina menjual Rp 8.450 per liter, sedangkan Petronas Malaysia menjualnya 1,7 ringgit atau Rp 5.514 per liter.

Bambang bilang, Pertamina mengambil keuntungan terlalu besar dari selisih harga jual tersebut, apalagi dari selisih harga BBM subsidi dan nonsubsidi. Dengan asumsi subsidi solar Rp 1.000 per liter dan harga solar industri Rp 4.500 per liter, maka terdapat selisih Rp 1.650 per liter yang masuk kantong Pertamina.

"Apabila konsumsi normal solar sekitar 30.000 kiloliter per hari, berarti uang subsidi solar yang disedot Pertamina mencapai Rp 49,5 miliar per hari atau Rp17,8 triliun per tahun," tandasnya.[mr/inl]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...