3 April 2020

2015, Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tumbuh 5 Persen

KONFRONTASI-Perusahaan jasa keuangan asal Swiss, UBS, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 5,0 persen pada 2015, karena dampak investasi pemerintah dari akselerasi pembangunan infrastruktur baru akan terasa tahun 2016.

Meskipun demikian, pada 2015 Indonesia telah memperbaiki fundamental perekonomian secara signifikan, ditandai dengan tekanan inflasi yang menurun dan kebijakan moneter yang mulai melonggar, kata Head of Equities and Research UBS Indonesia Joshua Tanja di Jakarta, Selasa.

"Perkiraan pertumbuhan 5 persen ini konservatif, karena memang banyak proyek pemerintah yang sifatnya tidak 'frontloaded'," ujarnya.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2015 dapat mencapai 5,7 persen.

Joshua mengatakan, stimulus terhadap pertumbuhan ekonomi dari belanja pemerintah untuk infrastruktur, --yang dianggarkan Rp290,3 triliun dalam APBN-P 2015--, baru akan terasa tahun 2016. UBS memperkirakan ekonomi dapat tumbuh 5,8 persen pada 2016.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,8 persen pada 2016 ini juga didukung penyerapan anggaran pemerintah yang dinilai akan jauh lebih baik, yang terlihat dari sikap Presiden Joko Widodo yang memerintahkan lelang proyek infrastruktur harus selesai Maret 2015.

"Hal tersebut menjadi stimulus yang baik, dan pertumbuhannya akan dirasakan pada 2016," ujar dia.

Dengan tekanan inflasi yang terus menurun, dan membaiknya fundamental perekonomian, Joshua memprediksi Bank Indonesia akan menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) hingga 7 persen, dari level kini 7,5 persen.

Namun, UBS masih memperkirakan laju inflasi tahun 2015 sebesar 6 persen (year on year/yoy). Perbaikan inflasi akan terus berlanjut pada 2016 sehingga secara "yoy" akan mencapai 4,8 persen.

"Penurunan harga minyak dunia akan mendorong penurunan harga bahan bakar minyak di dalam negeri yang akan memperbaiki konsumsi rumah tangga, dan laju inflasi," ujar dia.

Perkiraan keberlanjutan penurunan harga minyak dunia juga akan memperbaiki defisit neraca perdagangan yang akhirnya mempersempit defisit neraca transaksi berjalan.

Menurut Joshua, harga minyak dunia akan terus jatuh bahkan di level yang cukup dalam. Jatuhnya harga minyak itu, menurutnya, melebihi lemahnya harga komoditi di pasar global, sehingga dampak pelemahan nilai impor akan melebihi melambatnya perbaikan eskpor.

"Ini sinyal positif bagi neraca transaksi berjalan Indonesia," kata dia.

UBS memperkirakan defisit transaksi berjalan tahun 2015 akan menyempit ke 2,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Joshua juga memperkirakan investasi akan cemerlang pada 2015 ini, didorong oleh sentimen positif deregulasi izin investasi pembangkit listrik, kemudahan pembebasan lahan, dan penyederhanaan izin melalui PTSP BKPM.

Dari faktor eksternal, kata Joshua, pemerintah dan Bank Indonesia tetap harus mempersiapkan dampak dana keluar jika kenaikan suku bunga The Fed terjadi pada semester II 2015.

Apalagi, kata dia, potensi dana keluar itu dapat sangat memengaruhi likuiditas pasar keuangan di Indonesia karena kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara yang mencapai 30 persen.

"Jangan sampai sentimen The Fed memicu investor asing mengoreksi kepemilikan mereka di SBN, karena secara struktural juga bisa memengaruhi pertumbuhan FDI maupun portofolio," ujarnya.[mr/akt]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...