Skip to main content
x

Catatan di Kaki Langit, HMI di Ujung Sejarah

OPINI:   Sebentar lagi apa yang dikenal sebagai HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) akan tinggal sebagai puing sejarah.

Lalu, tinggal sebagai kenangan sejarah.

Setelah itu terlupakan, kecuali jika masih ada tulisan yang tertinggal yang masih bisa dibaca.

Para pembaca yang bukan HMI akan membaca tulisan itu dengan samar-samar, bahwa dahulu kala di Indonesia ada organisasi kemahasiswaan yang cukup lama berjaya, namun gagal mengantar bangsa Indonesia meraih peradaban yang tinggi. Hingga akhirnya HMI lapuk sendiri di dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Sebabnya? Radikalisme eksklusifisme beragama, konservatisme, rasa benci terhadap sekitar, kejumudan dan keengganan berpikir bebas, tabiat penjiplak, kehilangan daya kreatif, takut berkolaborasi dengan yang berbeda, takut keluar dari “Islam” dan menemukan Islam yang baru, … semua faktor itu telah merusak prinsip Insan Cita HMI.

Yaitu “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhana wata’ala.”

Apa yang disebut sebagai pengkaderan HMI, sesungguhnya mengisi kaum intelektual muda Indonesia agar memiliki semua faktor yang telah disebutkan di atas.

Proses pengkaderan yang demikian sudah berjalan persis saat masuknya gelombang radikalisme beragama ke tubuh HMI sejak masa Orde Baru.

Sejak itu, Insan Cita HMI mulai kehilangan wujud. Hingga sekarang, Insan Cita tinggal bayangan. Bahkan menjadi hantu bagi HMI.

Anak-anak HMI takut mengusung untuk mewujudkan Insan Cita.

Sangat mungkin karena jejak Insan Cita sudah semakin kabur dalam perjalanan bangsa ini.

Ya, mirip hantu. Tidak ada jejaknya, tapi terus menghantui.

Apa yang disebut sebagai senior atau KAHMI, sesungguhnya bisa berwujud sekelompok imperialis yang memperbudak anak-anak atau kader HMI.

Imperialis itu memberi makan dan memelihara kader-kader HMI untuk digiring sebagai budak bagi kepentingan imperialis HMI.

Kelak karena terlatih sebagai budak-budak kepentingan senior imperialis, kader-kader HMI itupun menjadi KAHMI imperialis yang baru.

Proses ini sudah berlangsung sejak masa berjaya para senior itu pada masa Orde Baru hingga sekarang.

Sudah lebih 30 tahun.

Sudah lebih dari tiga dekade wadah HMI dan KAHMI hanya bagai kuda tunggangan untuk mengejar berbagai kepentingan yang menjauh dari Insan Cita HMI.

Dalam masa yang panjang itu pengkaderan HMI hanya sebagai tempat latihan untuk melahirkan budak-budak bagi senior imperialis.

Tidak ada lagi renungan dan tindakan terhadap “Islam” yang membuat orang-orang HMI kehilangan daya pioner untuk mengangkat bangsa Indonesia ke taraf peradabannya yang tinggi.

HMI bersama organisasi Islam lainnya menjadi beban dan faktor penghambat bagi Indonesia untuk terangkat sebagai bangsa yang disegani.

Jika membiarkan dirinya terbelenggu dengan “Islam”, HMI kini sedang berada di ujung sejarahnya.

Jangan pula berharap kepada organisasi lainnya yang bermerek “Islam”.

Sebab, jika hukum baja sejarah yang berlaku, hanya kalangan yang mengikuti arah ke depan jarum sejarah yang akan mengubah kondisi bangsa.

Dan, itu, bukan HMI!(Redaksi2/ZABAK.ID)

 

 

Prof M Qasim Mathar  adalah Cendekiawan Muslim