Skip to main content
x

Catatan dengan Jus Soema di Pradja: “Roda Politik Berputar Sama Seperti Rezim Lama” (Bagian 2)

Oleh:  Aendra Medita Kartadipura*)

 

 

Nama Jus Soema di Pradja sebelum kerja di KOMPAS, adalah Wartawan Harian Indonesia Raya yang dipimpin oleh Mochtar Lubis. Koran Indonesia Raya sangat disegani dan media ini bisa disebut paling berani, sejumlah catatan telah tercatat. Indonesia Raya pernah membongkar kasus Korupsi Pertamina yang dipimpin oleh kerabat dekat Cendana yaitu Ibnu Sutowo.  Soal kasus ini sebenarnya kehebatan dari Mochtar Lubis yang melakukan Investigasi terhadap kasus Pertamina yang jadi sarang penyamun (korupsi) besara tersebut. “Kalau kami-kami yang di Indonesia Raya hanya menindaklanjuti,”jelas Jus menyampaikan kepada saya. Jus juga menyodorkan satu kliping Majalah TEMPO Mei 2000 yang mana ada Wawancara Khusus Priyatna Abdurrasyid seorang Jaksa Muda Intelejen yang tahu sejumlah kasus salah satunya pada masa Orde Baru  terutama soal kasus Mark-Up di Pertamina.

Menurut Jus Tempo memuat detail wawancara dimana Priyatna Abdurrasyid terpental dan dicopot Jabatannya. Priyatna Abdurrasyid bertutur dalam TEMPO itu bahwa pada tahun 1967 Jaksa Agung Soegih Arto memerintahkan agar Priyatna Abdurrasyid masuk Tim Pemberatasan Korupsi (TPK). “Anggota TPK bukan hanya jaksa. Ada Polisi, tentara, bahkan wartawan. Suatu waktu Jaksa Agung memerintahkan saya agar saya meriksa penyelundupan Pupuk dan kasus korupsi Pertamina. Kami dapat banyak bantuan informasi dari media masa dalam kasus ini,” ujar Priyatna Abdurrasyid  dilansir TEMPO 14 Mei 2000.

Klipinglah yang sampaikan Jus dan memang ada yang menarik dari kutipan itu, bahwa yang diumaksud media adalah koran Indonesia Raya yang pernah menulis panjang soal korupsi Pertamina. Koran Indonesia Raya memiliki data banyak. Bahkan Pemimpin Redaksi Indonesia Raya diminta ijin agar TPK izin menyalin  bahan-bahan korupsi yang di miliki Indonesia Raya. “Saat itu ada banyak bahan dan belum ada fotocopy, jumlahnya dua karung lebih, dan akhir yang menyalin secara manual dengan harganya saat itu tahun 1968 harga Rp 25 ribu. Jumlah itu besar saat itu,” jelas Jus.

Mungkin gambar 2 orang

Kisah dari Jus soal Pertamina yang di bongkar Koran Indonesia Raya ini sangat menarik dan menjadikan beriat besar dan Mochtar Lubis pun harus berurusan dengan hukum. Namun sebagai media yang kuat dan independen saat itu memang risiko kalau selalu berlawananan dengan rezim yang merugikan bangsa.

Kisah Bang Jus memang penuh warna ia memiliki banyak data. Ia juga mengaku secara pengalaman ia mengaku bangor (bandel), dia bahkan mengaku duduk dibangku SMP saja 6 kali, kerena waktu muda bandel itu, tapi itu ia syukuri dan bahkan senang bahwa ada sejumlah kawan SMP-nya itu menjadi Jenderal, dan ia juga tak sempat menyelesaikan  Fakultas Hukum di Universitas Indonesia (UI) karena keburu larut jadi wartawan yang kerjanya tak kenal waktu.

Jus Soema di Praja  siang itu memang sudah menyambut syaa wartawan  junior yang jaraknya jauh. Lama ia menerima saya dari siang sampai sehabis magrib. Kalau tak ada hal lain saya mungkin akan bisa sampai pagi ngobrol apapun. Berbincang dengan Jus  penuh gairah dan inspirasi saya terbangun bicara soal media sampai politik dari dulu sampai konteks kekinian.

“Tapi intinya jika untuk Pers saat ini sekarang sepertinya hanya cari aman saja. Makanya saya tak terlalu percaya media Mainstream. Ia juga mengakui semua tahulah siapa pemilik-pemilik media besar elektronik. Tapi Pers sekarang diberi kebebasan yang sangat luas, Tapi tidak paham apa itu kebebasan. Mereka gagap,” katanya. (BERSAMBUNG) (Redaksi2/JAKSATU)