Skip to main content
x
Penulis: Yudi Latif

Berlayar dalam Bahtera Fikom

OPINI-Bagi saya, mendaftar ke Fikom Unpad itu seperti memilih ikut menaiki bahtera tanpa sekoci. Artinya, dalam mengikuti tes sistem penerimaan mahasiswa baru (Sipenmaru) universitas negeri, saya tidak mendaftar ke fakultas dan universitas lainnya selain ke Fikom Unpad.

Bukan karena Fikom Unpad dianggap yang terbaik, tetapi saya tidak punya bayangan tentang program studi (fakultas) dan universitas lainnya. Di benak saya waktu itu, fakultas ilmu sosial lainnya kurang nyaman di hati. Fakultas hukum, terpikir sebagai bablasan hukum kolonial. Fakultas ilmu politik, terbayang politik represif. Fakultas ekonomi, terlalu banyak hitungan. Tetapi Fikom, lebih terbayang sesuai dengan passion saya dalam olah kata. Tentang mengapa memilih Universitas Padjadjaran, semata-mata kerena sebelumnya sudah bermukim di Bandung dalam mengikuti penggalan akhir sekolah menengah atas. Bila harus memilih kota lain memerlukan penyesuaian baru dan logistik yang lebih besar.

Singkat kata, Fikom Unpad sudah menjadi jalan takdir. Baik-buruk, melalui jalan itulah perkembangan intelektual saya tebentuk. Dan rupanya, di sini berlaku semacam law of attraction: apa yang seseorang impikan akan memimpikannya; apa yang seorang bayangkan akan membayangkannya; nubuat akan memenuhi dirinya sendiri (self-fulfilling prophecy). Bukan saja saya diterima ikut berlayar di bahtera Fikom Unpad, tetapi pengalaman dan kacakapan yang saya peroleh darinya kurang-lebih sesuai dengan apa yang saya bayangkan. 

Bukan berarti sistem perkuliahan dan dosen pengampu di Fikom Unpad sangat bermutu, akan tetapi konsep diri menemukan wahana penguatnya dengan ikut berlayar dalam kapal yang sejalan. Karena dalam bayangan saya, kecakapan dasar mahasiswa komunikasi itu harus memiliki kapabilitas dalam olah kata, segera setelah ikut berlayar di Fikom Unpad, saya bertekad untuk lebih disiplin mengasah kapabilitas baca, tulis dan bertutur.

Sejalan dengan pembentukan konsep diri, lingkungan interaksi juga memperkuat proses sejarah pembentukan diri. Tanpa disadari, ada “tangan-tangan tersembunyi” yang mempertemukan saya di bahtera itu dengan orang-orang yang memiliki kedekatan karakter. Orang-orang dengan frekwensi energi yang sama seperti memiliki radar yang bisa menangkap suara hati masing-masing, yang memudahkan pemahaman dan perkoncoan.  

Begitu proses orientasi mahasiswa baru di tingkat fakultas dimulai, senyawa kedekatan itu segera terbentuk. Total mahasiswa Fikom Angkatan 1985 itu berjumlah 300 orang, yang kemudian dibagi menjadi dua kelas (A dan B), di mana saya menjadi bagian dari kelas A. Meski berbeda kelas, kami dipersatukan oleh kesamaan kepedulian. 

Kisahnya bermula dari terpilihnya “Si Doel Anak Betawi” alias Sdr. Abd. Rahman (alias Abo), sebagai ketua kelas A. Entah bagaimana asal-mulanya, tiba-tiba saya sudah dekat dengannya, dan selepas acara di Kampus suka ikut ke rumah kontrakannya di Ciheulang. Di rumahnyalah dipersiapkan segala peralatan untuk mengikuti program perpeloncoan yang dilakukan oleh angkatan yang lebih senior. 

Baru hari pertama program perpeloncoan dimulai, berbagai hukuman (yang “diada-adakan”) oleh para senior itu dirasa tidak senonoh dalam penalaran kaum terdidik. Ketidakpuasan itu rupanya cepat menjalar, dan di setiap segmen ada semacam “amplifier-amplifier” yang bisa mengkomunikasikan penolakan mengikuti model perpeloncoan seperti itu. Begitu acara hari pertama usai, saya ikut Abo ke rumah kosnya. Di sana, kami merancang siasat pembangkangan. Abo tak lupa menjalin komunikasi dengan ketua kelas B berikut pentolan-pentolannya. 

Terjadilah kesepakatan, bahwa untuk acara perpeloncoan hari kedua, kami tidak meneruskan kumpul di kampus Fikom Sekeloa, melainkan bergegas menuju suatu lapangan di jalan Teuku Umur (belakang kampus pusat Unpad). Di lapangan itu lah, dalam suasana ketagangan, pentolan-pentolan angkatan 1985 unjuk diri secara alamiah. Tanpa komando, para pentolan ini tampil spontan jadi “provokator” yang menyemangati semangat perlawanan. Kadung saja, para senior yang kebingunan tak menemukan target pelonco di Kampus Sekeloa, segera memburunya ke lapangan Teuku Umur. Sayang, semangat perlawanan terlanjur terpatri menjadi identitas kolektif. Setelah itu, acara perpeloncoan tak pernah bisa dilanjutkan, dan korp angkatan ’85 terlahir dengan DNA perlawanan.

DNA perlawanan yang tersemat di angkatan ini menemukan relevansinya dalam suasana politik represif di penggal akhir Orde Baru. Saat aktivitas politik mahasiswa dikontrol, dan kebebasan ekspresi dihambat, para aktivis mahasiswa sadar politik mencari outletnya lewat pembentukan enklaf-enklaf masjid kampus atau kelompok-kelompok diskusi independen. Dalam iklim intelektual seperti itulah, sejumlah mahasiswa angkatan ’85 yang sudah terlihat tanda-tanda kritisismenya dalam aksi pembangkangan perpeloncoan, berikut orang-orang dalam lingkaran pergaulannya, mulai terkristal dalam suatu semangat pembentukan entitas kolektif. 

Salah satu entitas kolektif yang terbentuk dari simpul-simpul aktivis ini adalah kelompok studi “Eksistensi 131” (tentang sebagian nama anggotanya, bisa dilihat di tulisan Mustofa Najib). Dengan semangat menggebu, namun dengan kepolosan aktivis baru yang belum kenal terjal medan perjuangan, kelompok studi ini nekad menyelenggarakan acara pentas baca puisi W.S. Rendra. Sebagai penyair “pemberontak”, Rendra mengalami masa pemenjaraan dan pentas puisinya lama tak diizinkan. Namun, entah karena perkembangan dan perkecualian seperti apa, pada suatu momen sekitar tahun 1985 pentas baca puisinya mulai diizinkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Meski begitu, izin pentas seperti itu belum tentu diizinkan di semua daerah. Pihah Laksusda Jabar rupanya termasuk pihak yang masih belum welcome, dan menghadirkan rintangan perizinan yang sulit ditembus. 

Lewat berbagai jalur diplomasi, terutama lewat dukungan garansi dari pimpinan Pikiran Rakyat dan pejabat-pejabat lokal yang anak-anaknya ikut terlibat dalam “Eksistensi 131”, ditambah jaminan pertanggungjawaban panitia jika ada keonaran, izin itu pun akhirnya bisa diterima jelang tengah malam. Kadung saja, karena ketidakpastian izin, pintu masuk Gelora Saparua (tempat acara dilangsungkan), tidak bisa dijaga ketat. Penonton yang membludak bisa menerobos masuk tanpa membeli karcis. Meski pementasan berjalan sukses dengan penuh gegap gempita dan mendapatkan lipuran media yang luas, namun kami menanggung kerugian material yang tak sedikit untuk ukuran kantong mahasiswa saat itu. Untung saja, kerugian bisa ditutupi oleh pihak Pikiran Rakyat dengan segala lobynya yang tak pernah meminta ganti hingga saat ini.

Peristiwa ini bisa dikatakan sebagai “ciuman kematian” bagi Eksistensi 131. Artinya sekali mencium aktivitas besar, setelah itu mati. Namun, dampaknya, setidaknya bagi sebagian, seperti launching pad yang melambungkan wawasan pemikiran yang menghubungkan “jagad kecil” dunia kampus dengan “jagad besar” keindonesiaan. Bagi saya pribadi, peristiwa ini menjadi katalis bagi pengembangan etos intelektualisme dan aktivisme.

Dengan menghubungan teori—dari bahan kuliah dan bacaan mandiri—dengan realitas aktivisme di luar kampus, saya menerima cukup banyak “makanan” pikiran untuk dituliskan. Motif menulis sangat tinggi karena didorong juga oleh kebutuhan finansial. Orang tua saya punya banyak anak yang harus disekolahkan. Sebisa mungkin saya harus bisa mencari tambahan. Bisa saja saya mencari uang sebagai pekerja kasar, tapi sebelum itu jadi pilihan, mengapa tidak memanfaatkan kemampuan otak. Waktu itu, honor menulis artikel di Pikiran Rakyat adalah 50 ribu rupiah. Sedangkan biaya kuliah satu semester, 26 ribu. Alhasil, dengan honor satu artikel, bisa membayar biaya kuliah nyaris untuk satu tahun. 

Sekali lagi, apa yang sesorang impikan akan memimpikannya. Tak disangka, artikel pertama yang saya kirim ke Pikiran Rakyat langsung dimuat. Saya kira bukan karena baik mutunya, tapi karena jalan takdir. Dengan honor yang saya terima, selain untuk makan di Gratia, sebagian kecil disisihkan untuk membeli buku. Ide yang diperoleh dari buku, saya tuliskan jadi artikel. Begitu selanjutnya, sehingga menulis menjadi wahana belajar saya. Karena saya harus menulis berbagai isu, sesuai dengan perkembangan keadaan, saya juga harus membaca berbagai buku. Dari sanalah kecenderungan saya sebagai seorang pemikir generalis terbentuk. 

Saat itu, ukuran seorang penulis artikel yang baik bisa disematkan tatkala tulisan seseorang bisa dimuat di koran Kompas atau majalah Tempo—dan turunannya. Saya pun bertekad, sebelum menyelesaikan skripsi, akan merasa lega kalau artikel saya sudah dimuat di Kompas. Sekali lagi, law of attraction bekerja. Sebelum saya di wisuda, beberapa tulisan saya sudah dimuat Kompas.

Seiring dengan pengembaraan intelektual, semangat aktivisme menghubungkan saya dengan para aktivis lintas-fakultas bahkan lintas-kampus dan lintas ornop di Bandung. Pertama-tama, saya bergabung dengan Gelanggang Seni Sastera, Teater, dan Film (GSSTF) Unpad; tempat mangkal para aktivis seni kritis. Di sini, kemampuan diskursif dan bedah persoalan secara lintas disiplin menemukan wahana penempaannya. Dari orbit seniman kritis kampus lantas terhubung dengan para aktivis di luar kampus dalam suatu kesadaran perjuangan bersama untuk melakukan “budaya tanding” terhadap hegemoni negara. Dari jalur pembudayaan intelektualisme dan aktivisme itulah yang membuka jalan bagi saya untuk memasuki dunia kecendekiaan di Indonesia.

Dengan memutar ulang sejarah pergulatan kemahasiswaan saya secara slow motion, saya bisa memetik pelajaran berharga. Bolehjadi banyak matakuliah yang tidak menarik, dan banyak pula dosen yang tidak bermutu, dan tampaknya kampus bukanlah lembaga yang dirancang untuk membentuk manusia siap pakai. Yang terpenting dari kuliah adalah ruang-ruang perjumpaan, yang memungkinkan keterhubungan dalam mendiskusikan berbagai isu dan merancang proyek bersama, yang meningkatkan kapabilitas manusia dengan kemapuan abstraksi dan pikiran kritis dalam rangka penyelesaian masalah. 

Keterlibatan dalam proses pendidikan di kampus bisa memberi wahana peningkatan kapabilitas dalam arti kemampuan seseorang untuk melakukan tindakan bernilai (valuable acts) atau meraih kondisi keadaan yang bernilai (valuable states of being). Hal itu merepresentasikan kombinasi dari beberapa hal alternatif yang membuat seseorang bisa melakukan atau bisa menjadi sesuatu. Alhasil, kapabilitas adalah kesempatan (opportunities) dan kebebasan (freedom) untuk meraih apa yang dilihat seseorang secara reflektif sebagai sesuatu yang bernilai.

Bahwa di semua tingkatan pembangunan, sejumlah kapabilitas sangat esensial bagi pembangunan manusia, yang tanpa hal itu berbagai pilihan dalam hidup tak bisa direngkuh. Kapabilitas-kapabilitas tersebut terutama menyangkut kemampuan mengembangkan kehidupan yang sehat dan panjang, berpengetahuan luas, dan memiliki akses terhadap sumberdaya yang diperlukan bagi standard hidup yang layak. Selain itu juga banyak pilihan yang harus dinilai oleh manusia sendiri termasuk kebebasan politik, sosial, ekonomi dan budaya, rasa terhubung dengan komunitas dengan ketersediaan kesempatan untuk menjadi kreatif dan produktif, dan penghargaan diri atas hak-hak asasi manusia. Dan dalam proses pengejaran pilihan-pilihan tersebut dilalui melalui cara yang setara, partisipatif, produktif dan berkelanjutan. Partisipasi dalam dunia pendidikan menjadi wahana untuk memfasilitasi penumbuhan kapabilitas dasar manusia yang diharapkan dapat berfungsi dalam memperbaiki kualitas hidup. 

Dengan segala kekurangan-kekurangannya, saya tidak pernah menyesal memilih ikut menaiki bahtera Fikom Unpad. Karena pergulatan hidup bersama rekan-rekan seperjuangan selama menjadi mahasiswa Fikom itulah yang menjadikanku hari ini. Hidup Fikom Unpad!