Skip to main content
x

Ashadi Siregar dan Cintaku di Kampus Biru-UGM dalam Apresiasi GASFA/Mahasiswa Universitas Paramadina

KONFRONTASI- Tak dinyana, film ‘’CIntaku di Kampus Biru’’ dan novel Ashadi Siregar tahun 1970-an  itu  telah diapresiasi/didiskusikan oleh civitas academica Universitas Paramadina Selasa kemarin (24/10/17).

Sebagaimana diketahui, keluarga kecil  Fakultas Falsafah dan Peradaban Univ. Paramadina mendirikan Grup Apresiasi Sastra, Film dan Musika (GASFA)  untuk membangun karakter  kaum muda dan melakukan  pencerahan di bidang seni budaya dan peradaban.  Bertindak sebagai mentor/pendiri adalah Dr Herdi Sahrasad bersama para mahasiswa antara lain Agung Salihin/Rahma (Falsafah), Dani/Anggi/Dara/Ririn (Psikologi) dan Bery/Hasya (Komunikasi) dan lain-lain.. Untuk sementara Presiden GASFA adalah Agung, dengan wakil-wakilnya adalah Dani/Ririn/Dara/Anggi, Rahma dan Bery./Hasya yang diharapkan bisa memacu dan mendorong gerakan peradaban ini menapak ke depan..GASFA didirikan dengan  semangat zaman dan dengan segala keterbatasan,  ''bertolak dari apa yang ada'', meminjam istilah  budayawan Putu Wijaya.

Agung (paling kiri) dan Bang Herdi (paling kanan),serta Dani  (nomor dua dari kanan) dan para mahasiswi Fakultas  Falsafah dan Peradaban Univ. Paramadina

Sebagai langkah pertama, apresiasi film dan sastra/music  digelar untuk menonton/mendiskusikan film ‘’CIntaku di Kampus Biru’’ yang diangkat dari novel Ashadir Siregar, baik dari sisi tema cerita, kualitas film dan musiknya, serta segi-segi sosiologis dan latar  budaya  lahirnya karya sastra dan film  Ashadi  Siregar, seorang dosen/profesor substansial ( emeritus) Fisipol  UGM itu. ‘’Bang Ashadi dulu juga sempat mengajarkan jurnalistik pada kami sebagai wartawan muda,’’ ujar  Herdi Sahrasad, dosen Paramadina yang juga peneliti senior/ jurnalis riset dan mantan  visiting Fellow di Indiana University, Monash University  Australia dan UC Berkeley,AS.

Cintaku di Kampus Biru  adalahh Novel karya Ashadi Siregar yang menjadi tonggak klasik novel pop Indonesia. Novel ini dijadikan Film dan pernah di sinetronkan. Novel ini mengambil seting di Jogjakarta tepatnya di UGM, kampus Jokowi. Novel itu dimuat menjadi cerita bersambung di harian Kompas tahun 1972.

Novel ini menceritakan sorang pemuda yang cakep, periang, aktif, kocak, pintar yang bernama Anton. Awal cerita, di ceritakan pertemuan Anton dan Erika di perpustakaan. Erika seorang gadis cantik yang di tinggal pacarnya studi Jerman. Anton di hadapkan permasalahan-permasalahan antaralain, jangka waktu studinya yang sudah mepet, Marini yang ngebet meminta untu dinikahi, belum lulus vak Ibu Yusnita, urusan organisasi intrakampus, dan pengembangan cerita mengembangkan keempat masalah di atas.

Anton mencoba menyelesaikan masalah dalam hidupnya satu-persatu, dia mengingat orang tuanya yang mampu membiayai kuliahnya hanya lima tahun. Anton mencoba menyelesaikan masalah pertamanya dengan bu Yusnita, dia menemui bu yusnita  mencoba membicarakn masalahnya baik-baik namun, namun dosenya itu tetap bersi keras terhadap keputusanya tersebut. Masalah dengan bu Yusnita dapat diselesaikan ketika diadakan RISET di Dataran Tinggi Dieng, dengan segala bujuk rayunya, perhatian, dan kebaikan Anton akhirnya Bu Yusnita mampu dikalahkanya.

Anton pernah jatuh cinta kepada bu Yusnita namun, dia harus menerima kenyataan Bu Yusnita lebih memilih menikah dengan pak Gunawan. Novel ini mengajarkan kepada pembaca khususnya kepada remaja, dalam menjalani percintaan jangan meniru Anton yang bimbang dan terkesan menyia-nyiakan orang yang Cinta kepadanya,dan sangat terlihat dalam cerita antara Anton dan Marini.  Di Dataran Tinggi Dieng kisah cinta dengan Marini harus berakhir, Marini yang merasa kurang di perhatikan   mencari cinta dari sahabat Anton.

Marini yang meminta kepada Anton untuk segera dinikahi membuat Anton pusing, karena saat masalahnya dengan Bu Yusnita belum selesai, Marini minta dipirhatikan. Anton yang merasa tertekan mencoba mencari hiburan kepada Erika. Anton sesosok lelaki yang mengisi kesepian Erika dan akhirnya Erika jatuh hati kepadanya.

Pada awalnya hubungan dan kedekatan mereka mendapat ketidaksetujuan dari Ibu Erika, Namun ketika ibunya menemui Anton untuk meminta maaf atas kesalahanya, dan meminta kembali menemui Erika. Namun lantaran mersa terhina Anton belum sudi untuk menemui Erika di rumahnya. Akhirnya anton tersadar bahwa saat ini Erika benar-benar membutuhkan dirinya dan cerita ditutup dengan bersatunya cinta Anton dan Erika.

Grup Apresiasi Sastra, Film dan Musika (GASFA)  akan melakukan apresiasi atas  film Surat dari Praha, Tenggelamnya Kapal Van Der Wiyk dan film film mutkahir lainnya, dengan mendiskusikannya secara rileks dan leluasa, termasuk film karya-karya sineas muda masa kini. (red)

NID
124186