Skip to main content
x

Apakah PCR untuk Penumpang Pesawat Tetap Wajib Karena Kepentingan Elite dan Oligarki?..

KONFRONTASI -   Di jagad ini, pebisnis mikro hingga konglomerasi, kita tahu, tak ada yang mau rugi. Untung sebesar-besarnya memang yang dituju. Sebagian (besar) dari mereka ingin laba besar dengan cara apa pun. Menyelundup. Mengurangi pajak. Menyuap. Menekan upah buruh. Bikin pembukuan ganda. Menipu konsumen.

Sebagian dari sejumlah faktor di atas menjadi sebab, mengapa tes PCR dengan hasil negatif tetap "diberlakukan secara paksa". Penolakan banyak kalangan tidak digubris. Penumpang menentang. Asosiasi Pilot Indonesia menolak. Ahli epidemiologi tidak setuju. Hasilnya ? Nol besar.

Mengapa ? Tes PCR adalah bisnis raksasa. (Bukan cuma berkaitan dengan pandemi Covid-19). Uang yang berkecamuk di situ ratusan triliun rupiah. Stock PCR masih menumpuk di gudang. Jadi harus dihabiskan. Supaya pundi-pundi importir (yang uangnya sudah meluber kemana-mana) semakin menggelembung. Mereka jenis manusia tidak bermoral. Tidak peduli rakyat menjerit.

Hanya dalam periode Oktober 2020-Agustus 2021, penyedia jasa tes PCR (yang jumlahnya beberapa gelintir saja) meraup keuntungan Rp 10,46 triliun. Aji mumpung.? Pengusaha super rakus. Berkomplot dengan pejabat mata duitan.? Memeras rakyat susah, yang sudah lama didera kesulitan bertumpuk. Para "binatang pengusaha" tersebut tertawa lebar. Terbahak-bahak. Untung kian menggunung.

Kelompok korporasi non-pemerintah (dua perusahaan milik Luhut B Panjaitan disebut-sebut masuk kelompok ini) memegang 77,16 persen aktivitas importasi alat kesehatan untuk penanganan pandemi di Tanah Air. Sedangkan pemerintah hanya memegang 16,67 persen dari keseluruhan aktivitas impor alat kesehatan untuk penanganan Covid-19. Bisnis PCR ini bernilai Rp 23 triliun (angka sementara)

Rebutan deviden
Contoh pengusaha rakus bin serakah: Perempuan terkaya di Australia Gina Rinehart (66), pemilik saham dan royalti tambang biji besi Hancock Prospecting. Hartanya USD 17,4 miliar atau nyaris Rp 245 triliun. Pada 2012 Rinehart menulis, “Kalau kalian iri dengan orang-orang yang punya uang lebih banyak, jangan cuma duduk dan mengeluh; lakukan sesuatu agar bisa menghasilkan uang, kurangi waktu buat minum-minum, merokok dan nongkrong; lebih sering bekerja."

Betapa absurdnya pernyataan Rinehart, yang bisa kaya raya hari ini semata-mata berkat bisnis warisan dari bapaknya, Lang Hancock. Pemerintah Australia bahkan menganggap pernyataan itu sebagai “penghinaan" terhadap jutaan kaum pekerja Australia, tulis cnbcindonesia.com.

Belum puas merusak rakyat, Rinehart juga bikin pusing pemerintah terkait urusan pajak. Pada 2010, pemerintah Australia di bawah PM Paul Rudd dari Partai Buruh mengajukan pajak super tinggi untuk sektor tambang. Rinehart pun heboh berkampanye menentangnya, “Axe the tax!—potong pajaknya!"

Dalam pidato akhir 2020, Rinehart mengkritik “media-media kiri" karena selalu memberitakan pertambangan dengan buruk. Terlepas dari nilai pentingnya bagi pembangunan dan ekonomi nasional. Ia juga menumpahkan kekesalannya pada pemerintah yang menarik pajak terlalu tinggi dan membuat negeri kangguru tak lagi ramah sebagai tempat berinvestasi. Hal mengenaskan lainnya nampak dari konflik internal keluarga. Saking pelitnya, Rinehart sampai rebutan dividen dengan anak-anaknya sendiri.

Islam membolehkan orang-orang mencari kekayaan sebanyak-banyaknya, tapi jsngdn loba. Rasulullah SAW bersabda kepada Hakim bin Hizam, "Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu indah menggoda. Barangsiapa yang tidak mengambilnya dengan rakus, maka ia akan mendapat berkah. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan rakus, maka ia tidak akan mendapati berkah, dan ia seperti orang makan yang tidak merasa kenyang." (HR Bukhari dari Hakim bin Hizam).

Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk tidak hanyut dan tergoda dengan kemilau harta dunia, karena ia kerap kali menjerumuskan manusia pada jurang penderitaan. Allah SWT, kita yakin, sudah mengatur rezeki setiap manusia. Banyak maupun sedikit. (Redaksi2/) *