Skip to main content
x

Anies, Tembakau dan Hegemoni Cukong Rokok

Oleh K.R. Tumenggung Purbonagoro


Ramai di medsos mengomentari copy surat Gubernur DKI yang dikirim ke Bloomberg Philanthropies.  Inti dari suratnya adalah komitmen Jakarta untuk bergabung dengan 54 kota-kota lain dalam komitmen mencegah rokok. Nitizen bahkan ada yang menuduh Anies sedang meminta jatah anggaran dari lembaga filantropi tersebut. 

Isu rokok memang sangat menarik dan mudah liar karena kuatnya tarik-menarik kepentingan di dalamnya. Industri rokok sebagai pihak yang paling berkentingan, konon selalu siap jor-joran membalas tiap kebijakan yang mereka anggap merugikan. Tidak usah jauh-jauh, Anda masih ingat, bukan, hilangnya ayat 2 pasal 113 dari RUU Kesehatan di DPR beberapa tahun lalu? Jangan fikir itu hanya kesalahan pengetikan.

Ayat itu selengkapnya berbunyi: "Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau padat, cairan, dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan/atau masyarakat sekelilingnya." 

Peristiwa itu dapat menjadi gambaran betapa kuatnya tangan-tangan tak terlihat yang tidak menginginkan penjualan rokok--yang berbahan baku tembakau--dibatasi. 

Sedikit pejabat publik yang bersuara terkait rokok. Langkah luar biasa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang berani “mengusik” kemapanan cukong-cukong tembakau dan produsen rokok melalui Seruan Gubernur Nomor 8 Tahun 2021 tentang Pembinaan Kawasan Merokok, telah meresahkan para pemegang kepentingan ini. Tanpa melihat konteks, para cukong dan petualang politik pun langsung menyerang. Buru-buru saja kebijakan itu dikaitkan dengan Pilpres 2024 dan nasib petani tembakau.

Meski absurd, politikus-politikus karbitan memanfaatkan isu konyol itu demi melampiaskan dendam politiknya.
Namun, mari kita lihat persoalannya secara jernih. Jika Anda berpikir rasional dan waras, tentu Anda menginginkan kebenaran. Sebab pemuja hoaks yang hatinya sudah dipenuhi kerak dendam dan sakit hati, jelas tidak membutuhkannya. 

Sergub 8/21, antara lain, adalah mengatur penutupan display rokok di minimarket. Ingat, ini penutupan display, bukan larangan. Penutupan ini adalah bagian dari upaya pembatasan iklan rokok agar tidak meracuni anak-anak. 

"Rokok, 'kan, produk legal, mengapa harus ditutupi?", konon, ini kata akun bikinan cukong rokok.

Maka mudah saja logika berpikirnya: apakah minuman beralkohol produk ilegal? Mengapa penjualannya dibatasi, bahkan dilarang dijual di minimarket? 

Mengapa tidak ada yang bersuara bahwa pembatasan atau pengaturan penjualan minuman beralkohol mengancam jutaan pekerja dan keluarga, yang mencari nafkah di industri minuman beralkohol?

Rokok sama berbahayanya dengan alkohol. Miliaran rupiah pajak masyarakat antirokok dihabiskan untuk subsidi kesehatan yang diakibatkan oleh asap tembakau yang mengandung zat adiktif. Itu fakta. 

Namun, Sergub 8/21 tidak sedang mengkampanyekan larangan rokok. Sesederhana hanya mencegah, agar rokok tidak dilihat dan dikonsumsi anak-anak. Salahnya di mana? Apakah para produsen rokok memang memiliki target menyasar anak-anak? Menjadikan anak-anak sebagai konsumennya?

Lantas, apa salahnya Gubernur DKI berkirim surat kepada Bloomberg? Kita semua tentu mau agar udara Jakarta bersih. Anda pasti mendukung tuntutan polusi udara Jakarta yang baru-baru ini dikabulkan pengadilan, bukan? Anda pun jelas senang karena ada nama Gubernur DKI Jakarta yang turut tertuntut. Dan demi itu semua, demi udara Jakarta yang bersih, demi masa depan generasi bangsa yang lebih sehat, maka apa salahnya berkolaborasi dengan pihak ketiga yang satu visi dengan kita?

Yang salah itu, adalah ketika kita sudah tahu bahaya dari merokok, tetapi malah memilih membiarkan, atau justru malah memperjuangkan eksistensi rokok. Kondisi sosial kita sudah kadung memberi citra maskulinitas terhadap kebiasaan merokok. Sudah bukan rahasia lagi bahwa anak-anak bisa secara terbuka merokok di ruang publik. Padahal, riset korelasi stunting dengan rokok sudah ada. Bahwa itu memengaruhi kondisi ekonomi keluarga Anda sehari-hari, pengaruhnya pada kesehatan, jelas ada dan tidak usah ditawar. Lalu? Perekonomian negara? Menyejahterakan petani? Ayolah. Jangan mau jadi tameng para cukong demi rokok yang Anda isap.