24 May 2017

Yudi Latif

Raya Lara

Selamat buat para arsitek kampanye politik!

Sebuah reputasi sebagai konsultan ternama telah terukir

di atas puing-puing perpecahan bangsa.

 

Jangan gusarkan retakan arsitektur kebangsaan

yang sudah merembet ke dasar kerakyatan.

 

Makin berkobar  pertengkaran,

makin subur lahan kenikmatan.

 

Nikmatilah anggur kesuksesan.

Jangan terusik bisikan nuranimu. 

 

Menarilah di atas tabuhan duka lara.

Rayakan! Rayakan!

__________________________

Memaafkan untuk Menghidupkan

Saudaraku, kontestasi politik paling barbar dalam era reformasi telah berakhir, menyisakan luka-luka yang menganga. Sementara pertengkaran riuh-rendah, demokrasi sendiri berada di ujung tanduk. Krisis tatanan kehidupan bernegara terlalu dalam untuk bisa diatasi hanya dengan pergantian penguasa.

Dalam situasi kritis yang mengancam masa depan kehidupan bersama, tak ada jalan lain kecuali harus menguatkan simpul-simpul persatuan, dengan kelapangan hati untuk saling memaafkan.

Tags: 

Senja Kala Demokrasi Transaksional

Oleh:  Yudi Latif*

Agama Mulia - Makrifat Pagi

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, agama adalah jalan menuju mata air kebahagiaan di dunia dan hari nanti yang harus dilalui dengan kehendak baik akhlak mulia.

Agama dimulai saat kau melihat orang di tepi jurang, lantas kau tarik-selamatkan tanpa mempertanyakan apa agamanya.

Agama dihayati saat kau menikmati warna-warni perbedaan untuk saling mengarifkan dalam berlomba menumbuhkan kebajikan.

Agama ditinggikan saat kau menghargai orang yang sujud di masjid, berlutut di gereja dan vihara, serta bersimpuh di sinagog.

Kekayaan Abadi

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, pendidikan bukanlah menabur benih pada dirimu, melainkan menumbuhkan benih-benih yang ada dalam jiwamu.

Bila benih itu mendapatkan pupuk dan penerangan jiwa yang baik, ia akan tumbuh jadi pohon pengetahuan dan kebijaksanaan yang subur. Itulah satu-satunya kekayaan manusia yang tak bisa lenyap.

Bahkan kematian tak bisa mematikan pohon pengetahuan yang kau tumbuhkan. Ia akan beranak-pinak melahirkan benih-benih baru yang menyuburkan dan memakmurkan negeri.

Tags: 

Cermin Kebenaran

Oleh: Yudi Latif*

Saudaraku, kebenaran itu cermin di tangan Tuhan. Cermin itu jatuh ke bumi dan hancur berkeping-keping.  Setiap orang mengambil satu kepingan, lalu memandanginya dan mengira telah menguasai seluruh cermin kebenaran.

Ada orang tak tahu merasa paling tahu dengan mengkafirkan pandangan berbeda. Tuhan tidak memberinya kecuali sedikit ilmu, namun mendaku sebagai penguasa kebenaran. Orang itu menyekutukan Tuhan, sesat arah menuju zalim kemusyrikan yang tak terampuni.

Pemimpin Pengemis

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, jika kau punya banyak, berikan hartamu. Jika kau punya sedikit, berikan hatimu.

Manusia tak pernah kekurangan apa yang dapat diberikan. Makin banyak memberi, makin banyak menerima; melimpahkan kesuburan dan kesejahteraan negeri.

Makrifat Pagi Yudi Latif: Saya Kata

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, kata-kata lebih sering tak memberi kata putus. Sebilah pisau kata menyayat kulit perasaan, mengeluarkan rembesan darah tak kenal reda. Nyeri lukanya menembus jantung hati, menuntut balas tikaman setimpal; iris-mengiris tiada henti.

Milyaran belati kata kita tusukan setiap hari, sejak bangun hingga peraduan; merayakan pesta darah perasaan secara kolosal, mentasbihkan pengguna media sosial terbesar keempat sejagat.

Kebangsaan Ernest Douwes Dekker

Saudaraku, rasa memiliki dan mencintai Tanah Air sebagai pancaran rasa syukur atas karunia Tuhan dapat menggelorakan semangat patriotisme, baik yang bersifat “negatif-defensif” (melawan musuh dan keburukan) maupun yang bersifat “positif-progresif” (mengolah potensi dan sumberdaya demi kemakmuran dan kejayaan bangsa).

Yudi Latif di 43 Tahun Malari: Indonesia Alami Kemunduran Berpikir

KONFRONTASI- Indonesia Democracy Monitor (Indemo) merayakan hari jadinya yang ke-17 sekaligus memperingati 43 tahun Peristiwa 15 Januari 1974 (Malari) di Balai Kartini, Jakarta, Minggu (15/1).

Peringatan tersebut juga menggelar Seminar Kebangsaan bertajuk “Menyikapi Perubahan, Kebangkitan Populisme” dengan pembicara aktivis Malari Hariman Siregar, Pengamat Politik dan Sosial Yudi Latif, Pengamat Ekonomi Faisal Basri dan Peneliti STF Driyarkara Herry Priyono.

Pages