16 December 2017

Yerusalem

Penjaga Makam Yesus di Yerusalem Tak Sudi Terima Kunjungan Wapres AS

KONFRONTASI-Pemegang kunci Gereja Makam Suci di Yerusalem menolak untuk menyambut Wakil Presiden (wapres) Amerika Serikat (AS) Mike Pence yang akan mengunjungi Kota Tua Yerusalem bulan ini. Sikap penjaga situs yang diyakini sebagai makam Yesus ini sebagai protes atas pengakuan Presiden Donald Trump bahwa Yerusalem menjadi Ibu Kota Israel.

”Kami mendapat perhatian bahwa Wapres Presiden Pence bermaksud untuk melakukan kunjungan resmi ke Gereja Makam Suci, dan meminta saya untuk menerimanya secara resmi,” tulis Adeeb Joudeh, sang pemegang kunci Gereja Makam Suci, dalam sebuah surat pada hari Rabu (13/12/2017), yang dilansir Channel2.

”Saya benar-benar menolak untuk secara resmi menyambut Wakil Presiden Amerika Pence di Gereja Makam Suci dan saya tidak akan secara fisik berada di gereja selama kunjungannya,” lanjut dia.

”Ini adalah ungkapan kecaman saya atas pengakuan Presiden Donald Trump soal Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel,” ujarnya.

Gereja Makam Suci terletak di Christian Quarter, Kota Tua Yerusalem. Situs itu berisi tempat-tempat yang diyakini sebagai lokasi di mana Yesus disalibkan, dikuburkan dan dibangkitkan.

Tags: 

Ketika Kota Suci Tiga Agama Diusik

KONFRONTASI-Kehidupan di Kota Yerusalem, yang diakui Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai ibu kota Israel, 'sangat berat'. Namun, umat Islam dan Kristen Palestina bersatu menentang pendudukan.
Abeer Zayaad, seorang arkeolog yang bekerja di museum Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, mengatakan, di tengah sulitnya hidup di kota kelahirannya ini, warga Palestina tetap bersatu sebagai keluarga besar meski berbeda agama.

"Tak masalah apa agama kami, Protestan, Muslim, Katolik, dan juga Yahudi, kami tetap satu ... orang Palestina, kami menghadapi masalah yang sama yaitu pendudukan Israel ... kami keluarga besar, kami ke sekolah bersama, kami hidup bersama," kata Abeer yang tinggal di Yerusalem Timur.

Aktifitas sehari-hari yang Abeer katakan sudah berat 'bertambah parah' menyusul keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel yang memicu kerusuhan selama beberapa hari terakhir ini.

"Kalau ada orang yang datang dan bisa bertanya kepada setiap orang Palestina, mereka akan mendengar cerita mengerikan tentang kehidupan kami. Setiap tahun bertambah parah, bertambah tekanan terhadap kami agar kami angkat kaki dari Yerusalem," kata Abeer kepada wartawan BBC.
Menyusul pernyataan Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, warga Palestina harus 'menerima' bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel agar dapat melangkah ke arah perdamaian.

Nentanyahu mengatakan, Yerusalem telah menjadi ibu kota Israel selama 3.000 tahun dan 'tak pernah menjadi ibu kota orang lain'.

Ia juga menyatakan harapan bahwa Uni Eropa akan mengikuti langkah Trump.

Tetapi kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini mengatakan Uni Eropa tetap 'bersatu' untuk mendukung Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan negara Palestina dan tak akan mengakui apa pun sampai ada perjanjian damai final.

Seorang pemuda Palestina beragama Kristen, Jonathan Abu Ali (21) seperti dikutip ABC mengatakan, hal senada dengan Abeer.

"Mereka menutup jalan dan akibatnya pernah sampai kami tak boleh keluar rumah. Ada hari saat ada orang yang diserang, anak muda digeledah dan disuruh membuka baju, dipermalukan, diberhentikan di pos pemeriksaan, dan menunggu tanpa alasan jelas," kata Abeer.

"Pernah kami menunggu di pos pemeriksaan karena seorang tentara perempuan sedang membersihkan kuku dan kami harus menunggu sampai kuteksnya kering."

"Setiap saat harus ada rencana lain, kami juga melatih anak-anak supaya bisa melindungi diri."
Seorang wartawan The New York Times David Halbfinger yang menyusuri Yerusalem mengutip seorang warga Tomer Aser (35).

"Kami semua percaya ada sesuatu yang suci di kota ini, namun terlalu sulit," kata Aser.

"Rasanya seperti tinggal di penjara di sini. Orang sangat tegang. Dan rasanya terpisah. Anda harus tinggal dengan komunitas Israel atau komunitas Arab," katanya.

Halbfinger juga menulis, "Di satu jalan kecil menuju daerah Muslim, tiba-tiba muncul keributan. Pemukim Yahudi dari atap melempar telur ke arah warga Arab (Palestina) di bawah."

"Tiba-tiba terjadi saling injak. Tiga polisi perbatasan Israel dengan helm anti huru-hara lari mengejar seseorang. Tak lama kemudian pengejaran berakhir. Saat polisi selesai mengejar, seorang perempuan berteriak dalam bahasa Arab dan polisi menjawab makian."

Tags: 

Erdogan Minta Seluruh Dunia Akui Yerusalem Sebagai Ibu Kota Palestina

KONFRONTASI-Para pemimpin Muslim, Rabu, mengecam pengakuan Presiden AS Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan meminta dunia untuk mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina.

Presiden Turki Tayyip Erdogan, yang menjadi tuan rumah pertemuan para pemimpin lebih dari 50 negara berpenduduk Muslim di Istanbul, mengatakan langkah Amerika Serikat itu berarti bahwa Washington sudah kehilangan peranannya sebagai perantara dalam upaya mengakhiri konflik Israel-Palestina.

Jokowi: Pengakuan Trump atas Yerusalem Harus Dikecam Keras

KONFRONTASI-Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa Indonesia melalui Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (KTT LB OKI) menolak pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengatakan bahwa Yerusalem adalah Ibu Kota Israel.

"Pengakuan ini tidak dapat diterima. Sekali lagi, pengakuan Presiden Trump tidak dapat diterima dan harus dikecam secara keras," kata Presiden Jokowi saat berpidato dalam KTT LB OKI di Istanbul, Turki, Rabu.

OKI: Pengakuan AS atas Yerusalem Perburuk Konflik Kawasan

KONFRONTASI-Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyatakan langkah pemerintah Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel memperburuk kondisi keamanan wilayah.

"Pernyataan AS ini hanya akan membawa kondisi yang lebih buruk keamanan kawasan," kata Ketua OKI yang juga Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, saat memimpin Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTTLB) OKI di Istanbul, Turki, Rabu. Turki pada sisi lain juga sekutu penting Amerika Serikat di NATO.

Terkait Yerusalem, Menlu: KTT OKI Satu Suara Bela Palestina

KONFRONTASI -  Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi berharap Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa Organisasi Kerja sama Islam (KTT LB OKI) yang akan diadakan pada 13 Desember dapat membulatkan suara dan mempersatukan negara-negara OKI untuk membela Palestina.

Akibat Ulah Donald Trump, Rizal Ramli Khawatir Harga Minyak Melonjak dan Rupiah Tertekan Melemah

KONFRONTASI- Pernyataan sepihak Presiden Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel memicu kemarahan publik, termasuk pemimpin dunia.

Rakyat Palestina melakukan perlawanan hingga menimbulkan bentrok dengan tentara Israel. Perlawanan dan pertikaian itu diperkirakan terus membesar.

Malaysia Siap Kirim Pasukan ke Yerusalem

KONFRONTASI-Menteri Pertahanan Malaysia menyatakan kesiapan pasukan militernya untuk dikirim ke Yerusalem.

Hal tersebut menanggapi situasi di Yerusalem menyusul pengakuan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan kota tersebut sebagai ibu kota Israel.

"Kami siap menerima perintah dari Panglima Angkatan Bersenjata. Semoga layanan kami dibutuhkan," kata Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein dalam sebuah pidato pada Sabtu (9/12/2017), menurut The Malay Mail Online.

Google Maps Ikut Mengakui Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel

KONFRONTASI -  Setelah Wikipedia mencantumkan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, kini giliran Google Maps melakukan hal yang sama. Alhasil aplikasi penunjuk arah milik Google tersebut dibanjiri hujatan oleh para pengguna media sosial.

Ketika ditelusuri untuk pencarian Ibu Kota Israel, Google Maps menunjukkaan Kota Yerusalem. Namun belum jelas apakah hasil ini bertepatan dengan pengumuman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atau memang sudah seperti itu sejak lama.

Trump Umumkan Yerusalem Ibukota Israel, Jalur Gaza Masih Memanas

KONFRONTASI  -  Suasana di jalur Gaza, Palestina masih mencekam usai pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Seperti dilaporkan tvOne dari Palestina, Senin, 11 Desember 2017, beberapa jam lalu masih terjadi bentrokan di Gaza. Pesawat  F16 masih bolak balik di udara Gaza.

Para pemuda Gaza sangat nekat menghadapi militer Israel. Mereka tanpa dibekali perlindungan menghadapi militer Israel yang bersenjata lengkap.

Pages