16 October 2019

teroris

Terduga Teroris Asep Sempat Ancam akan Ledakkan Kantor Desa

KONFRONTASI-Terduga teroris Asep Ahmad Bentara yang ditangkap Densus 88 di wilayah Sukabumi, Jawa Barat, sempat meneror dengan melempar bom molotov dan mengancam akan meledakkan kantor desa di Cianjur.

Kepala Desa Rancagoong Kecamatan Cilaku, Dede Ridwan, di Cianjur, Rabu, mengatakan, ancaman yang dilontarkan Asep berawal 4 bulan yang lalu, ketika ia mendatangi kantor desa untuk mengajukan izin mendirikan yayasan.

Amerika Ingin Belajar Masalah Penanggulangan Terorisme dari Indonesia

KONFRONTASI - Indonesia dan Amerika terus berupaya bersama-sama dalam upaya penanganan masalah terorisme. Hal tersebut terlihat saat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius, MH, melakukan pertemuan bilateral dengan Thomas P. Bossert selaku Assistant to the US President for Homeland Security and Counterterrorism (Asisten Khusus Presiden AS untuk Keamanan Nasional dan Penanggulangan Terorisme) di Gedung Putih, Washimgton DC, Amerika Serikta pada Selasa (11/7/2017) waktu setempat. 

Revisi UU Terorisme Terkesan Sangat Lamban

JAKARTA- Pengamat Intelijen dari Universitas Indonesia, Diyauddin mendesak agar DPR segera merampungkan revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme yang hingga kini masih dalam proses penggodogan.

Ia menilai, proses pembahasan revisi Undang-undang tersebut sangat lamban. Padahal, belakangan persoalan terorisme di Tanah Air kian genting dengan semakin banyaknya aksi teror yang terjadi di berbagai daerah.

MUI: Tak Pantas Teroris Mengatasnamakan Islam

Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Saadi

KONFRONTASI-Aksi-aksi terorisme yang terjadi belakangan ini menuai kecaman keras dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Aksi teror yang terjadi dalam sebulan terakhir ini menjadikan aparat Kepolisian sebagai target sasaran.

Sebelumnya aksi bom bunuh diri terjadi di Kampung Melayu pada Mei 2017 lalu menewaskan tiga orang anggota polisi. Pada awal Juni 2017, Markas Polda Sumut diserang dua pelaku teror dan menewaskan seorang anggota polisi yang sedang berjaga.

Kapolres Tangerang: Tembak di Tempat Teroris yang Ingin Lukai Anggota Polisi

KONFRONTASI-Kapolres Kota Tangerang AKBP Sabilul Alif menginstruksikan jajarannya menembak di tempat teroris. Terutama bagi teroris yang berniat menyerang polisi dan kantor polisi.

"Apabila menemukan hal-hal atau teroris yang ingin melukai anggota, saya perintahkan untuk tembak di tempat," kata Sabilul di Tangerang, Banten, Rabu 5 Juli 2017.

Sabilul juga mengingatkan, agar seluruh anggota di jajarannya meningkatkan kewaspadaan saat melakukan patroli kota. "Patroli jangan sendiri, minimal berdua," lanjutnya.

Ini Ciri-ciri Pelaku Teror 'Lone Wolf' yang Harus Diwaspadai

KONFRONTASI-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto memaparkan ciri-ciri teroris yang beraksi seorang diri atau "lone wolf", agar masyarakat dapat menjadi lebih waspada terhadap gerak-gerik mereka.

"Perilaku para teroris ini khusus, tidak seperti rakyat biasa," ujar Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa.

Mantan Panglima TNI itu menerangkan para "lone wolf" ini biasanya lebih sering melakukan kegiatan mereka pada malam hari.

Menko Wiranto Minta Masyarakat Ikut Deteksi Teroris

KONFRONTASI-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto meminta masyarakat untuk ikut aktif dalam mendeteksi keberadaan teroris.

"Masyarakat perlu ikut dalam pendeteksian dini terhadap orang-orang yang dicurigai akan melakukan aksi terorisme," kata Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin.

"Masyarakat yang tahu tetangganya mungkin ada sesuatu yang patut dicurigai, segera lapor. Ini semua harus kita galakkan," tambah dia.

Mantan Panglima TNI itu menilai pelibatan publik dalam sistem deteksi teroris ini akan efektif dalam mengurangi aksi-aksi radikal di dalam negeri.

"Mereka yang mengetahui lingkungan. Oleh karena itu, kita harus melibatkan masyarakat dengan cara memberdayakan mereka untuk masuk ke dalam jaringan early warning system," kata mantan Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat ini.

Selain menggandeng masyarakat umum, menurut Wiranto, masih ada beberapa langkah lain yang dapat dicanangkan pemerintah sebagai upaya untuk menanggulangi penyebaran ideologi radikal, di antaranya adalah kembali menghidupkan ajaran-ajaran Pancasila serta penerapan kegiatan Bela Negara yang sedang dikaji Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas).

"Kemudian juga siskamling dihidupkan lagi oleh Mendagri atau polisi. Itu sangat efektif. Intinya kita tidak boleh lengah," ucap dia.

Teroris di Indonesia Lucu-lucu

Oleh: Tengku Zulkifli Usman

Pernah nyasar di Bundaran HI Sarinah, lalu densus datang gagah gagahan, tembak mati, dor...

Pernah nyasar di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott, Densus datang, tembak mati

Pernah nyasar ke Toilet terminal Kampung Melayu, polisi datang, tembak mati.

Lalu nyasar ke masjid, sambil teriak takbir dan thoghut lalu tikam polisi, lalu ditembak mati juga.

Teror Mapolda Sumut: Aksi Dendam Jemaah Ansharut Daulah

KONFRONTASI-Dua pentolan Jemaah Ansharut Daulah (JAD) dinyatakan pihak kepolisian sebagai pelaku penyerangan terbuka di Markas Polda Sumatera Utara, Minggu dini hari, 25 Juni 2017.

Seorang pelaku bernama Ardial Ramadhan (30), tewas seketika dengan sejumlah peluru. Sedangkan satu lainnya, Syawal Pakpahan (47), berhasil dilumpuhkan, dua peluru bersarang di kakinya.

Dari pihak Kepolisian, seorang personel bernama Aiptu M. Sigalingging pun tewas bersimbah darah, usai melawan dua pelaku yang bersenjata pisau dapur.

Pemeriksaan polisi, aksi teror ini diduga telah dirancang sejak sepekan lalu. Kedua pelaku pun dipastikan berafiliasi dengan kelompok teror di Suriah, atau ISIS.

Itu ditunjukkan dengan sejumlah bukti berupa lambang ISIS, buku-buku radikal, dan pengakuan dari istri Syawal Pakpahan yang menyebut suaminya pernah ke Suriah pada 2013 silam.

Apapun itu, kini nama JAD melambung lagi. Organisasi yang konon dibentuk pada 2015 dan diketuai terpidana terorisme Aman Abdurrahman di Lapas Nusakambangan ini dipercaya menjadi dalang setiap teror di Indonesia. Setidaknya, sejak kejadian bom Thamrin pada awal 2016.

"Kami mensinyalir pelaku sel dari kelompok JAD," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Siapa JAD?
Kelompok teror radikal di Indonesia, sejak lama sudah diibaratkan mencukur kumis. Mau serajin apa pun, ia akan selalu tumbuh dan tumbuh.

Di Indonesia, merujuk pada laporan The Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC)--lembaga pengamat terorisme Asia Tenggara--yang berjudul Disunity Among Indonesian ISIS Supporters and the Risk of More Violence.

Kelompok JAD, secara prinsip bukanlah organisasi resmi. Ia seperti sebuah penyebutan umum kepada mereka yang mendukung pergerakan kelompok teror ISIS.

Namun, seperti dilaporkan IPAC, di Kota Batu Malang Jawa Timur pada 2015, memang ada kesepakatan membentuk sebuah organisasi baru yang diberi nama Jemaah Ansharut Khilafah (JAK).

Belum disepakati siapa ketua dari organisasi ini. Namun, dipastikan organisasi ini terdiri dari berbagai entitas dan menempatkan Abu Bakar Ba'asyir sebagai dewan penasihatnya.

Beberapa entitas yang konon telah mendeklarasikan bergabung yakni, Mujahidin Indonesia Timur pimpinan almarhum Santoso, alias Abu Wardah, Muhaidin Indonesia Barat pimpinan Abu Jandal, alias Salim At Tamimi, Jamaah Islamiyah (JI), Al Muhajirun (afiliasi Hizbut Tahir Indonesia), Tim Hisbah, dan ada juga Ansharut Daulah Islamiyah (ADI).

Deklarasi inilah yang kemudian disebut intelijen Indonesia dengan deklarasi Jemaah Ansharut Daulah (JAD). Ini juga sebagai buntut dari dicapnya Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) yang dibentuk Abu Bakar Ba'asyir sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat pada 2012, dengan tuduhan sebagai dalang Bom Bali 2002.

Atas itulah, sejak tahun itu muncul istilah JAD. Meski tak jelas siapa yang dipastikan sebagai pemimpin, namun organisasi ini disebut-sebut sebagai pemasok milisi untuk perang di Suriah.

"Jemaah Ansharut Daulah hanya sebagai istilah generik untuk menyebut mereka yang mendukung ISIS," tulis laporan IPAC

Kiprah JAD

Di luar itu, yang jelas, kini nama JAD sudah menjadi sosok lembaga baru yang disebut lahir dari rahim kelompok eksteremis Indonesia.

Bahkan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada 10 Januari 2017, menetapkan JAD sebagai kelompok teroris yang mendukung jaringan teror ISIS.

Dalam klaimnya, AS menyebut bahwa JAD adalah dalang serangan teror di pusat Jakarta, yakni Bom Thamrin pada 2016, yang menewaskan delapan orang. Lalu, JAD juga diyakini menerima dukungan finansial dari militan ISIS di Suriah.

Berangkat dari pernyataan inilah, kemudian nama JAD di Indonesia makin 'berkibar'. Kepolisian yang tadi awalnya belum tegas menyebut dalang bom Thamrin 2016 adalah kelompok JAD, akhirnya ikut memastikan bahwa JAD di balik kejadian itu.

Dan, tentunya dengan bantuan Bahrun Naim dan Bahrum Syah, warga negara Indonesia yang kini berada di Suriah dan telah menyatakan mendukung ISIS.

Lalu, apa saja kiprah JAD berdasarkan laporan keterlibatan mereka oleh polisi? Berikut, 10 teror yang dirangkum dari berbagai sumber yang mengaitkan nama JAD:

Penyerang Markas Polda Sumut Ajarkan Paham Radikal Pada Anak-anaknya

KONFRONTASI-Polisi menangkap lima orang yang diduga terlibat, atau berkaitan dengan penyerangan Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara di Medan. Mereka ditangkap di sejumlah lokasi berbeda di Medan pada Minggu malam, 25 Juni 2017.

Kelima orang itu, antara lain, empat ditengarai rekan dua terduga teroris Ardial Ramadhan dan Syawaludin Pakpahan, terduga penyerang; dan seorang wanita istri Syawaludin Pakpahan.

Pages