22 May 2018

Setya Novanto

KPK Perpanjang Penahanan Keponakan Setya Novanto

KONFRONTASI -  KPK perpanjang penahanan keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo yang merupakan tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP.

Menurut Juru Bicara KPK Febri Diansyah penahanan mantan Direktur PT Murakabi Sejahtera itu diperpanjang  selama 30 hari ke depan.

Mahyudin: Golkar Hormati Novanto Tidak Banding

KONFRONTASI - Wakil Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Mahyudin mengatakan partainya menghormati keputusan Setya Novanto tidak melakukan upaya banding atas vonis 15 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta karena terbukti mengorupsi duit proyek KTP elektronik.  "Kami hormati apa yang diputuskan oleh Pak Novanto," ujarnya di Gedung Parlemen, Jakarta, Jumat (4/5).

Mahyudin mengatakan apa yang dilakukan Novanto adalah bukti bahwaproses hukum bisa berjalan dinamis. Sekalipun punya hak banding, Novanto memilih menerima keputusan pengadilan tingkat pertama.

Bimanesh: Kecelakaan Novanto Rekayasa, Lukanya Cuma Lecet Sedikit

KONFRONTASI-Terdakwa kasus merintangi penyidikan, dr Bimanesh Sutarjo, menyebut kecelakaan mobil yang ditumpangi Setya Novanto merupakan rekayasa. Alasannya, luka di tubuh Novanto tidak sesuai dengan kejadian kecelakaan.

"Nggak mungkin lah kecelakaan ini terjadi bukan direkayasa. Saya katakan bahwa saya periksa pasien, itu keadaan pasien fisik cederanya nggak sesuai dengan sebuah kecelakaan," kata Bimanesh kepada Fredrich Yunadi yang bersaksi dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (4/5/2018).

Bimanesh menyatakan kejanggalan terdapat pada luka lecet yang dialami Novanto saat ia memeriksanya di rumah sakit. Menurutnya, jika laporan polisi kaca mobil disebelah kiri yang ditumpangi mantan Ketua DPR itu pecah, maka kepala Novanto juga bisa pecah.

"Laporan polisi menyatakan kaca belakang kiri pecah, kalau pecah pasti kepala juga pecah. Saya sudah lihat kejanggalan ketika malam hari saya melihat pasien. Memang ada hipertensi, tapi pas diantar karena kecelakaan kendaraan bermotor, saya lihat ini nggak mungkin," jelas Bimanesh.

"Hanya luka lecet kecil sangat nggak mungkin (kecelakaan). Apalagi kaca belakang pecah, kepala pasti luka," imbuhnya.

Atas lukanya Novanto, Bimanesh mengaku membuat sebuah visum kecelakaan mobil di Jalan Permata Hijau, Jakarta. Jika visum luka dengan lokasi kecelakaan dicocokkan maka bisa diketahui kebenarannya.

"Maaf Yang Mulia, visum itu suatu petunjuk yang saya berikan untuk polisi. Kalau penyidikan itu benar, itu bisa ambil kesimpulan dari apa yang saya buat analisnya. Mencocokkan di TKP, dari pasien seperti itu apa iya? Makanya, saya setuju dengan pengacara saya, bahwa betul ini suatu rekayasa bukan kecelakaan, saya harus objektif saya kan dokter bukan lawyer," jelas Bimanesh.

Kasus e-KTP: Novanto Isyaratkan Bakal Ada Tersangka Lain

KONFRONTASI-Tersangka tindak pidana korupsi pengadaan KTP Elektronik (KTP-el), Setya Novanto, mengisyaratkan bakal ada tersangka lain selain dirinya yang terjerat kasus proyek KTP-el.

"Mungkin bisa ada tersangka-tersangka lain kalau lihat kasus ini. Kalau liat perkembangan itu semuanya KPK yang lebih tahu," ujar Setnov sebelum masuk ke Lapas Klas 1A Sukamiskin, Kota Bandung, Jumat.

KPK Proses Eksekusi Novanto

KONFRONTASI-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang melakukan proses administrasi untuk mengeksekusi mantan Ketua DPR RI Setya Novanto.

Sebelumnya, baik KPK maupun pihak Setya Novanto tidak akan mengajukan banding atas putusan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

"Ya setelah ini tentu proses administrasi hingga nanti KPK akan lakukan eksekusi terhadap Setya Novanto," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, dengan tidak bandingnya Novanto mempertegas bahwa seluruh bantahan dan sangkalan sebelumnya tidak relevan lagi.

"Sudah terang dan jelas bahwa korupsi KTP-e terbukti di pengadilan," ucap Febri.

Setelah inkracht, kata Febri pihak Novanto wajib membayar uang pengganti sesuai amar putusan hakim.

"Mengacu ke Undang-Undang Tipikor, jika tidak dibayar maka dapat dilakukan penyitaan aset dan dilelang untuk negara. Kami harap pihak Setya Novanto kooperatif dan membayar seluruh denda dan uang pengganti nantinya," kata Febri.

Tak Nyaman Seruangan dengan Novanto, Friedrich Yunadi Dipindahkan ke Rutan Cipinang

KONFRONTASI-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memindahkan penahanan terhadap pengacara Fredrich Yunadi ke Rumah Tahanan Klas 1 Cipinang Jakarta Timur pada Rabu.

KPK Tak Banding, Novanto Pun Tak Banding

KONFRONTASI-Mantan Ketua DPR Setya Novanto menerima vonis 15 tahun penjara yang dijatuhkan majelis hakim karena menilainya terbukti melakukan tindak pidana korupsi pengadaan kartu tanda penduduk berbasis data tunggal nasional secara elektronik (KTP-el) tahun anggaran 2011-2012.

"Rencananya tidak jadi banding, kalau KPK tidak banding. Kalau KPK banding, kami juga banding," kata pengacara Setya Novanto, Maqdir Ismail, saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

Pada Selasa (24/4) majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) menjatuhkan vonis terhadap Setya Novanto dengan pidana penjara selama 15 tahun, dan denda Rp500 juta subsder tiga bulan kurungan.

Puas dengan Vonis Novanto, KPK Tak Ajukan Banding

KONFRONTASI-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan tidak akan mengajukan banding terhadap putusan pengadilan dalam perkara korupsi kartu tanda penduduk berdatabase tunggal nasional secara elektronik (KTP-el) dengan terdakwa Setya Novanto (SN).

"Berhubungan apakah KPK akan banding dari putusan yang ditetapkan oleh hakim pada kasus SN, KPK menerima putusan tersebut tidak akan melakukan banding karena kami memanggap itu sudah lebih dari dua per tiga," kata Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif di Gedung KPK, Jakarta, Senin.

Dalam perkara korupsi KTP-el, Novanto telah divonis 15 tahun penjara ditambah denda Rp500 juta subsider tiga bulan kurungan ditambah pembayaran uang pengganti 7,3 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp65,7 miliar dengan kurs Rp9.000 per dolar AS saat kasus terjadi dikurangi Rp5 miliar yang sudah dikembalikan Novanto.

Menurut Syarif, apa yang telah disangkakan dalam dakwaan terhadap Novanto hampir seluruhnya diadopsi oleh Majelis Hakim dalam putusannya tersebut.

"Sehingga, tidak alasan yang bisa kami pakai untuk banding. Kami nuntut 16 tahun dan diputus 15 tahun dan semua yang lain-lain itu dikabulkan oleh majelis hakim," ungkap Syarif.

Sementara itu, Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan bahwa lembaganya sudah memutuskan menerima putusan itu karena akan fokus pada tahap lebih lanjut.

"Tahap lebih lanjutnya itu mencermati fakta-fakta persidangan dan melakukan pengembangan perkara KTP-e untuk mencari pelaku yang lain karena kami menduga masih ada pihak-pihak lain baik dari sektor politik, dari swasta maupun dari kementerian dari sektor birokrasi itu yang harus bertanggung jawab dalam proyek KTP-e yang diduga merugikan negara Rp2,3 triliun ini," tuturnya.

Selain itu, menurut Febri, KPK juga akan mendalami fakta-fakta lain terkait dengan adanya dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam perkara Novanto.

Begini Skenario Pura-pura Gila yang Dirancang Friedrich untuk Novanto

KONFRONTASI-Advokat Fredrich Yunadi diketahui sempat membicarakan skenario pura-pura gila untuk mantan Ketua DPR Setya Novanto terkait dengan perkara kasus korupsi KTP-Elektronik.

Divonis 15 Tahun, Novanto Diminta Hormati Keputusan Hukum

KONFRONTASI - Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara kepada mantan Ketua Umum Golkar, Setya Novanto. Ketua DPP Golkar, Ace Hasan Sadzily prihatin atas vonis 15 tahun penjara tersebut.

Ace menjelaskan dirinya selalu mendoakan Novanto agar bisa tabah dan sabar dalam menghadapi perkara korupsi proyek pengadaan KTP-el. Termasuk proses hukum yang akan diambil Novanto menyikapi putusan tingkat pertama.

Pages