26 June 2019

sajak

SAJAK SEBATANG LISONG

Oleh:  WS Rendra

 

menghisap sebatang lisong 

melihat Indonesia Raya 

mendengar 130 juta rakyat

dan di langit 

dua tiga cukung mengangkang

berak di atas kepala mereka 

 

matahari terbit

 fajar tiba 

dan aku melihat delapan juta kanak - kanak 

tanpa pendidikan 

 

aku bertanya

tetapi pertanyaan-pertanyaanku 

membentur meja kekuasaan yang macet 

dan papantulis - papantulis para pendidik 

Duh, Tercerabutnya Islam Dari Sajak Populer Rumi Di Barat

KONFRONTASI -  Beberapa tahun lalu, dalam sebuah wawancara dengan Rolling Stone, vokalis Coldplay, Chris Martin bercerita tentang perjuangannya lolos dari ancaman depresi. Kasus perceraian membawanya masuk saat-saat sulit. Beruntung, seorang teman memberi satu buku syair Jalaludin Rumi terjemahan Coleman Barks. “Buku itu mengubah hidup saya”, ungkap Martin kepada Rolling Stones. Bahkan, Coldplay memasukkan syair terjemahan Bark ke dalam track singkat berjudul Kaleidoscope, di dalam album laris A Head Full of Dreams.

Kemenkeu Berduka atas 21 Korban Lion Airlines: Beredar Sajak Mengatasnamakan Sri Mulyani

KONFRONTASI -  

KONFRONTASI -   Kabar duka masih dirasakan seluruh pegawai Kementerian Keuangan atas kejadian jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang kemarin.

Duka yang mendalam dirasakan Kementerian Keuangan karena ada 21 pegawainya menjadi korban kecelakaan tersebut.

Hari ini, ada sebuah sajak indah yang menceritakan tentang kejadian kecelakaan pesawat Lion Air yang jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta.

Tiga Sajak Tentang Kata : Ribut Achwandi

DIORAMA ABAD KATA

kata terupa telanjang

nalar pikiran terlalu tajam

merobek lapis-lapis keteduhan

putuslah kata dari ikatan

dalam rajutan keindahan

tercerabutlah akar kebijaksanaan

menjadilah kini kata kerikil-kerikil tajam

membara nyalakan api permusuhan

 

inilah abad para pencipta berhala kata

dituhankannya kata sebagai kenyataan

didewakannya kata sebagai kebenaran

dimuliakannya kata sebagai kekuatan

 

oh abad kata-kata

Tuhan tergadai oleh selembar hasutan

Sajak Cinta Gus Mus

Konfrontasi - Sajak Cinta

cintaku kepadamu belum pernah ada contohnya
cinta romeo kepada juliet si majnun qais kepada laila
belum apa-apa
temu pisah kita lebih bermakna
dibanding temu-pisah Yusuf dan Zulaikha
rindu-dendam kita melebihi rindu-dendam Adam
dan Hawa

aku adalah ombak samuderamu
yang lari-datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir sampai badai anginmu

Sajak Lagu Keparat - Puisi-puisi Moh Mahfud

PADA AKHIRNYA

pada akhirnya sayang

kita masuk hutan dengan jalan
yang setiap sisinya disisipi sepi, 
dan angin serta nyala daun
berdesakan mengirimkan desir
pada naluri kita masing-masing

“peluklah, sayang

biarkan kenanganmu mengalir
bersama puluhan anak-anak doa
kelangit dan kedetak bibir kita”
katamu sambil berlangkah waktu itu.

Namun, pada akhirnya sayang
kita adalah Cecilia dan Malaikat Ariel
sepanjang kisah Jostein Gaarder

Banjarmasin 30 september 2014

 

Sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri

Kita simak bersama contoh puisi kontemporer karya sutardji calzoum bachri , Presiden Penyair Indonesia yang paling dahsyat, dibawah ini.
 

BATU

batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu jarum
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?

Sajak Sahaja untuk Arief Jokowicaksono, Arwinto Syamsunu Aji, Remmy Novaris DM dan Taufik Rahzen

BERKELEY

untuk penyair Arief Jokowicaksono dan Arwinto Syamsunu Aji

 

Kalau puisimu sebutir bintang,

mungkin bakal terkaca di tangga kampus yang panjang.

kalau tubuhmu sebutir debu,

mungkin bakal lekat di sol sepatuku yang kelu.

 

gerimis mengirimkan para profesor

ke selokan selokan kotor

mahasiswa mahasiswa yang kecewa dan letih dengan diskriminasi

mengebatkan protes di selangkang matahari

 

tapi rambut kekasihku yang memutih

Sajak Remmy Novaris DM

LAWAS

tak ada lagi yang tersisa. kecuali ampas
tapi masih juga kau ingin meretas tanpa batas
dan aku akan menerimanya dengan ikhlas
meskipun dada serasa sesak tak bernapas
tapi aku tak akan pernah terhempas
sekedar menempuh kenangan dengan napak tilas

tak ada memang kesetiaan yang lunas
meskipun harus dibayar dengan impas
apalagi untuk diurai dan diulas
kecuali memahaminya sebagai hari nahas
untuk tetap tertawa dengan lepas
jika kita tidak pernah saling menindas
dengan bahasa-bahasa yang lawas

Sajak Setyo Widodo : Engkau datang, Wahai..!

engkau datang, Wahai..!
setelah bermasa penantian
setelah gugur tumbuh daun
kau bawa lentera
terangi jiwa-jiwa terluka

engkau datang, Wahai..!
setelah berulang siang malam
seusai hujan panas mendebam
kau sampaikan salam
pada hati-hati muram

engkau datang, Wahai..!
bawakan salam dan lentera
kusambut bercita
dalam bulan yang Kau suka
penuh simbol dan makna-makna

 

*) Setyo Widodo, penyair ini tinggal dan berkarya di Bogor. (Warche/konfrontasi)