25 February 2018

Rodrigo Duterte

Guyon, Duterte Perintahkan Rakyat Filipina Makan Kondom

KONFRONTASI-Sebuah lelucon yang dilontarkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte memicu kemarahan kelompok HAM. Kali ini, dia minta rakyat Filipina hindari penggunaan kondom karena tidak enak untuk berhubungan intim.

Duterte bahkan menyuruh rakyatnya untuk memakan alat kontrasepsi itu. Candaan Duterte itu muncul dalam sebuah acara pertemuan dengan para pekerja yang pulang dari Kuwait pada 13 Februari 2018.

”Hindari kondom karena kondom tidak menyenangkan,” katanya. “Makanlah itu kondom,” katanya lagi.

Duterte Perintahkan Tentara Filipina Tembak Pemberontak Wanita di Bagian Kelaminnya

KONFRONTASI- Pada pekan lalu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte memerintahkan kepada tentara untuk menembak pemberontak perempuan di bagian alat kelamin mereka. Duterte, yang pernah menjabat sebagai Wali Kota Davao itu mendorong Angkatan Bersenjata Filipina, atau AFP untuk menargetkan perempuan dalam konflik.

"Beritahu kepada mereka, ada perintah baru. Kami tidak akan membunuhmu, kami hanya akan menembak vagina Anda. Jika mereka tak punya vagina, mereka menjadi tidak berguna," kata Duterte sebagaimana dikutip Washington Post, Senin 12 Februari 2018.

Mahkamah Internasional Akan Selidiki Perang Antinarkoba Duterte

Konfrontasi - Mahkamah Pidana Internasional akan menyelidiki dugaan pelanggaran hukum dalam perang melawan narkoba yang dilancarkan pemerintah Filipina.

Jaksa Mahkamah Pidana Internasional, Fatou Bensouda, mengatakan pihaknya secara khusus akan menyelidiki laporan pembunuhan yang diduga dilakukan polisi saat menggelar operasi memburu pedagang dan pengedar narkoba.

Duterte Pertimbangkan Larang Warganya Bekerja di Kuwait

Konfrontasi - Presiden Filipina Rodrigo Duterte sedang mempertimbangkan untuk melarang warganya bekerja di Kuwait karena adanya kekerasan yang dialami pembantu rumah tangga asal Filipina dan beberapa orang yang melakukan bunuh diri dalam beberapa bulan terakhir.

Duterte mengatakan bahwa dia mengetahui banyak kasus pelecehan seksual yang dialami oleh wanita Filipina di Kuwait dan dia telah mendiskusikan masalah ini dengan menteri luar negeri dan ingin membicarakannya dengan pemerintah Kuwait.

Presiden Filipina Mati-matian Perangi Narkoba, Eh Anaknya Malah Diduga Terlibat Penyelundupan Narkoba

KONFRONTASI - Putra tertua Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang menjabat wakil wali kota Davao, Senin, menyatakan mundur setelah dituding pihak oposisi punya hubungan dengan kasus penyelundupan narkotika dan masalah keluarga.

Paolo Duterte, nama anak presiden Filipina itu, mengumumkan mundur pada sidang parlemen daerah di Dewan Kota Davao. 

Davao adalah kota kelahiran Presiden Duterte. Wali kotanya saat ini adalah adik perempuan Paolo sendiri, yakni Sara Duterte-Carpio.

Duterte Mengaku Pernah Bunuh Orang saat Remaja dan Keluar Masuk Penjara

Konfrontasi - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengaku pernah menikam seseorang sampai tewas saat masih remaja. Tidak hanya itu, dia juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah keluar masuk penjara karena kenakalannya.

Duterte mengungkapkan hal itu kepada masyarakat Filipina di Kota Danang kemarin, jelang pertemuan puncak Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) yang akan diadakan di Manila.

Duterte Nyatakan Marawi Sudah Bebas dari Militan Pro ISIS

KONFRONTASI-Presiden Filipina Rodrigo Duterte mendeklarasikan kota Marawi di bagian selatan terbebas dari militan pro ISIS pada Selasa, meskipun seorang juru bicara militer mengatakan 20-30 pemberontak masih melawan dan menahan sekitar 20 sandera.

Berbicara kepada para tentara sehari setelah pembunuhan dua pemimpin aliansi pemberontak tersebut, Duterte mengatakan bahwa pertarungan telah berakhir dan sekarang saatnya untuk memulihkan orang-orang yang terluka dan membangun kembali kota berpenduduk 200 ribu orang di pulau Mindanao.

"Dengan ini saya menyatakan bahwa Kota Marawi terbebas dari pengaruh teroris yang menandai dimulainya rehabilitasi," ujar Duterte kepada para tentara di Marawi.

Isnilon Hapilon, "emir" ISIS di Asia Tenggara, dan Omarkhayam Maute, satu dari dua "Khalifah" yang memimpin aliansi militan Dawla Islamiya, tewas dalam operasi yang ditargetkan pada Senin. Mayat mereka telah ditemukan dan diidentifikasi, demikian keterangan pihak berwenang setempat.
 

Survei: Perang Melawan Narkoba Ala Duterte Didukung 90 Persen Rakyat Filipina

KONFRONTASI-Hampir 90 persen warga Filipina mendukung perang anti-narkoba dari Presiden Rodrigo Duterte, meski dua pertiga di antara mereka meyakini adanya pembunuhan di luar jalur hukum dalam kebijakan tersebut, demikian sebuah jajak pendapat menunjukkan pada Senin.

Ribuan warga Filipina tewas dalam kebijakan perang anti-narkoba Duterte sehingga memicu kecaman keras dari komunitas internasional. Para aktivis hak asasi manusia (HAM) menuding kepolisian telah membunuh orang-orang yang diduga menggunakan dan mengedarkan narkoba tanpa proses pengadilan.

Kepolisian menolak tudingan itu dan mengatakan bahwa lebih dari 3.900 korban dalam operasi anti-narkoba yang mereka jalankan terbunuh karena melakukan perlawanan bersenjata saat hendak ditangkap, demikian laporan kantor berita Reuters.

Sebanyak 88 persen dari 1.200 responden jajak pendapat yang digelar bulan lalu oleh Pulse Asia mengatakan bahwa mereka mendukung kebijakan keras Duterte, dan hanya dua persen yang dengan tegas menolak. Sementara sembilan persen sisanya mengaku belum bisa memutuskan.

Namun, sejumlah 73 persen responden juga meyakini adanya pembunuhan ekstra judisial, atau naik dari 67 persen dari jajak pendapat yang sama pada Juni lalu.

Sekitar seperlima responden yakin semua pembunuhan sudah dijalankan sesuai prosedur hukum, atau turun dari 29 persen dari bulan Juni.

Pembunuhan ekstra judisial adalah persoalan politik yang diperdebatkan dengan hangat di Filipina. Banyak pihak mendefinisikan konsep tersebut berbeda dengan yang sering digunakan oleh organisasi internasional ataupun kelompok pembela hak asasi manusia.

Duterte Ancam Usir Seluruh Diplomat Uni Eropa dalam 24 Jam, Ini Alasannya

Konfrontasi - Presiden Filipina Rodrigo Duterte menuding Uni Eropa mencampuri urusan dalam negeri negara itu. Duterte mengancam akan mengusir para diplomat Uni Eropa dalam waktu 24 jam.

Dia menuduh bahwa Eropa bersekongkol untuk mengeluarkan Filipina dari PBB, ia tidak memberikan bukti-bukti untuk ini.

Sebelumnya, seorang delegasi Barat mengkritik perang terhadap narkoba yang dilancarkan Duterte dengan penuh kekerasan. Namun juru bicara Uni Eropa kemudian mengatakan bahwa delegasi itu tidak mewakili blok mereka.

Dalam pidatonya, Presiden Duterte mengatakan: "Kami akan disingkirkan dari PBB? Kalian bajingan! Ayo coba saja."

"Kalian mencampuri urusan dalam negeri karena kami miskin, Kalian memberi uang dan kemudian mengatur apa yang harus dilakukan."

'Harus pergi dalam 24 jam'

Tentang para diplomat Uni Eropa, dia berkata: "Anda harus meninggalkan negeri saya dalam waktu 24 jam, Anda semua."

Dalam pidato itu ia melontarkan juga berbagai makian kasar. Namun dia tidak memberikan bukti untuk mendukung tudingannya bahwa pemerintah Uni Eropa berusaha agar Filipina dikeluarkan dari PBB.

Menanggapi pernyataan Duterte, juru bicara Uni Eropa mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Kunjungan 'Delegasi Internasional Aliansi Progresif pada 8-9 Oktober lalu bukan merupakan sebuah 'misi Uni Eropa', sebagaimana yang secara keliru dilaporkan oleh beberapa media."

Dikatakan delegasi beranggotakan tujuh orang tersebut meliuputi perwakilan dari Swedia, Jerman, Italia, Australia dan Amerika Serikat.

Kekayaan Diselidiki, Duterte Malah Senang

KONFRONTASI-Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengklaim bahwa ia menyambut baik penyelidikan yang dilakukan oleh badan antikorupsi di negara tersebut terhadap kekayaannya. Penyelidikan ini diawali oleh tudingan seorang senator yang mengklaim Duterte tidak mengungkapkan kekayaannya ketika ia masih menjabat sebagai Wali Kota Davao.

Pages