19 July 2019

Raja Salman

Raja Salman Berduka Atas Gempa di Lombok

KONFRONTASI -  Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud menyampaikan rasa duka cita mendalam untuk Indonesia atas terjadinya bencana gempa Lombok yang mengakibatkan banyak korban tewas.

Dari Jerman, Pangeran Khaled Serukan Kudeta Raja Salman

KONFRONTASI- Pangeran Khaled bin Farhan menyerukan kudeta terhadap Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud. Pangeran Saudi yang mendapatkan suaka di Jerman itu memberi seruan kepada pangeran-pangeran Saudi lainnya yang merupakan pamannya, seperti Pangeran Ahmed bin Abdulaziz dan Pangeran Muqrin bin Abdulaziz.

Seperti dilansir Press TV, Rabu (23/5/2018), seruan bertujuan mencegah struktur berkuasa saat ini yang dipimpin putra Raja Salman, Pangeran Mohammed bin Salman, merusak Kerajaan Saudi. Seruan itu disampaikan dalam komentar portal berita Middle East Eye yang dirilis Senin (21/5) lalu.

Dalam seruannya, Pangeran Khaled meminta Pangeran Ahmed dan Pangeran Muqrin menggunakan pengaruh mereka di kalangan anggota Kerajaan dan militer Saudi untuk melakukan kudeta terhadap Kerajaan Saudi. 

Pangeran Khaled mengatakan perubahan diperlukan untuk menyelamatkan Kerajaan Saudi dari arahan 'irasional, tak terduga, dan bodoh'. Raja Salman secara mengejutkan menunjuk Pangeran Mohammed bin Salman atau MBS menjadi putra mahkota Saudi pada Juni 2017.

MBS pun menggantikan Putra Mahkota Saudi sebelumnya, Pangeran Muhammed bin Nayef. Pangeran Khaled menyebut naiknya MBS secara drastis memicu pertanyaan.

"Jika Raja Salman dalam kondisi kesehatan yang baik, hal-hal tidak akan mencapai tahap ini. Ketika kita melihat kebijakan publik di Arab Saudi, kita bisa melihat bahwa Raja Salman sepenuhnya absen dari layar atau dari panggung politik di Arab Saudi," sebut Khaled.

MBS kini menjabat Menteri Pertahanan Saudi dan dipandang sebagai tokoh paling berpengaruh di Saudi. Gebrakan yang dibuatnya menaikkan dinamika, baik di dalam maupun luar Saudi.

Akhir 2017, dilakukan penangkapan ratusan pangeran dan pengusaha Saudi dalam operasi yang disebut 'kampanye antikorupsi'. Total US$ 100 miliar disita dari orang-orang yang ditangkap, sebagai pertukaran atas pembebasan mereka.

Namun, setelah dibebaskan, sebut Pangeran Khaled, orang-orang itu bukan benar-benar bebas. Menurutnya, orang-orang yang baru dibebaskan itu dipantau dengan alat yang dipasang di kaki, kemudian telepon genggamnya dipantau dan mereka dilarang pergi ke luar Saudi.

"Jadi mereka hidup dalam situasi yang sangat memalukan," sebutnya.

Pangeran Khaled menyebut operasi penangkapan massal itu memicu banyak kebencian di kalangan keluarga Kerajaan Saudi terhadap MBS sendiri. "Keluarga merasakannya sebagai pelecehan," sebutnya. 

"Ada banyak kemarahan di dalam keluarga kerajaan," klaim Pangeran Khaled.

Pangeran Khaled menyebut seruan kudeta itu didukung '99 persen anggota keluarga kerajaan, dinas keamanan dan militer akan berdiri di belakang mereka'. 

"Saya menerima sejumlah besar email dari kalangan kepolisian dan militer yang mendukung seruan saya," klaimnya lagi.

MBS juga dipandang sebagai arsitek dari operasi militer pimpinan Saudi di Yaman selama tiga tahun terakhir, yang telah menewaskan dan membuat puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Selain itu, Pangeran Khaled juga menyebut Pangeran Mohammed bin Salman memiliki masalah psikologis. Namun dia tak mau menyebutkan secara detail masalah psikologis yang dimaksudnya.

"Di sekolah, dia memiliki masalah psikologis dan saya lebih baik tidak membahasnya terlalu detail, tapi kesehatan mental bisa berdampak pada seseorang secara keseluruhan, dan saya bisa melihat dengan jelas bahwa setelah dia memegang kekuasaan dan cara dia berurusan dengan politik, mencerminkan masalah psikologisnya," ucap Pangeran Khaled dalam wawancara dengan portal berita Middle East Eye, seperti dilansir pada Rabu (23/5/2018).

Pangeran Khaled melihat masalah psikologis itu muncul karena MBS belum berpengalaman. Selain itu, masalah psikologis MBS juga muncul terkait sepupunya yang ditangkap.

"Tapi ketika dia masih muda, dalam keluarga kerajaan, dia tidak punya status. Dia hanya anggota keluarga biasa. Saudara-saudaranya punya posisi lebih tinggi, dan mereka memiliki suara di dalam lingkungan elite penguasa Saudi. Tentu saja, sepupu-sepupunya lebih tua, lebih berpengalaman, posisinya lebih bagus, lebih berpendidikan dan hal lainnya," sebut Pangeran Khaled yang kini mengasingkan diri di Jerman.

"Jadi saya pikir dia (MBS-red) mulai memiliki masalah psikologis, karena salah satu sepupunya yang ditangkap, ketika dia (MBS-red) bertemu dengannya, dia (MBS-red) harus meminta izin bertemu, dan mungkin pangeran itu akan bertemu dengannya, atau tidak. Jadi ini memicu masalah psikologis di dalam dirinya (MBS-red) dan sekarang ini, dia sedang membalas dendam terhadap sepupu-sepupunya," tudingnya.

Pangeran Khaled mengaku mengenal dan kerap berurusan dengan Raja Salman di masa lalu. Namun untuk MBS, Pangeran Khaled mengaku tidak pernah bertemu atau berurusan langsung dengannya. 

Diakui Pangeran Khaled bahwa dirinya memiliki dendam pribadi terhadap Raja Salman, saat dia menjabat Emir Riyadh yang berwenang mengurusi setiap masalah keluarga kerajaan. Pangeran Khaled menyebut Raja Salman seorang rasis, karena memaksa ayahnya bercerai dengan ibunya yang berasal dari Mesir dan memaksa saudara perempuannya bercerai dengan suaminya yang berasal dari Kuwait.

Seruan Pangeran Khaled ini mencuat di tengah menghilangnya MBS dari publik secara misterius sejak aksi baku tembak dan ledakan di luar Istana Kerajaan Saudi di Riyadh, bulan lalu. Sejumlah sumber mengklaim bahwa insiden 21 April yang disebut otoritas Saudi sebagai penembakan drone kecil, sebenarnya merupakan upaya kudeta oleh keluarga Kerajaan Saudi yang menentang Raja Salman.

Raja Salman Tunjuk Perempuan Isi Posisi di Kabinet

KONFRONTASI-Raja Salman menerbitkan dekrit untuk melakukan perombakan kabinet pada sejumlah jabatan tinggi militer Kerajaan Arab Saudi dan beberapa wakil menteri pada Senin, 26 Februari 2018. Dalam perombakan itu, penunjukan Tamadur binti Youssef al-Ramah sebagai Wakil Menteri Tenaga Kerja Arab Saudi, mengejutkan publik karena sangat jarang jabatan senior diisi oleh perempuan dalam sejarah Kerajaan Arab Saudi.

Raja Salman Mengeluarkan Dekrit, Izinkan Perempuan Saudi Punya SIM

KONFRONTASI - 

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz As-Saud pada Selasa (26/9) mengeluarkan dekret kerajaan yang mengizinkan pemberian surat izin mengemudi buat perempuan di kerajaan itu, demikian laporan media setempat.

Instruksi tersebut mencabut larangan selama beberapa dasawarsa atas perempuan Arab Saudi untuk mengemudikan mobil, hak yang sejauh ini hanya diberikan kepada warga pria.

Raja Salman Perintahkan Polisi Tangkap Pangeran Saudi Penganiaya Warga

KONFRONTASI-Seorang pangeran Arab Saudi ditangkap karena diduga melakukan kekerasan fisik dan lisan atas beberapa orang, seperti terlihat dalam sebuah rekaman video.

Raja Salman bin Abdulaziz yang langsung memerintahkan penangkapannya setelah menyebarnya video tersebut secara luas di internet dan menjadi topik hangat di kawasan negara-negara Arab.

Situs berita Arab News, Kamis (20/7/2017), menyebutkan, tersangka pelaku kekerasan adalah Pangeran Saud bin Abdulaziz bin Musaed bin Saud bin Abdulaziz Al Saud.

Raja Salman Angkat Putra Mahkota Baru

KONFRONTASI-Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud pada Rabu memberhentikan Putra Mahkota Mohammed bin Naif dari jabatannya dan menggantinya dengan putranya, Pangeran Mohammed bin Salman Al-Saud, menurut laporan stasiun televisi Arab Saudi Al Arabiya.

Menurut Al Arabiya, 31 dari 43 anggota Dewan Kepatuhan Arab Saudi memberi suara yang mendukung Pangeran Mohammed bin Salman sebagai Putra Mahkota baru.

Mohammed bin Salman juga diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri dan akan terus memangku jabatannya sebagai Menteri Pertahanan.

Minum Kopi Pakai Tangan Kiri, Trump Ditegur Raja Salman

KONFRONTASI - Kunjungan Donald Trump ke Arab Saudi memantik perhatian masyarakat dunia. Trump dianggap lebih "jinak" terhadap Islam di Arab Saudi, apalagi di hadapan Raja Salman.

Setidaknya hal ini dibuktikan dalam sebuah video yang beredar di media sosial. Dalam video itu, Trump seperti ditegur oleh Raja Salman karena minum kopi dengan tangan kiri.

Saudi Investasi ke Indonesia Rp89 Triliun, ke China Rp870 Triliun, Respon Jokowi?

KONFRONTASI - Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat mengeluhkan kecilnya dana investasi yang diberikan Arab Saudi kepada Indonesia bila dibandingkan dengan China. Indonesia hanya mendapat dana investasi sebesar Rp 89 triliun dari Raja Salman, sedangkan China mendapat kucuran dana sebesar Rp 870 triliun.

Jokowi berkilah, pernyataan kekecewaan itu disampaikannya dalam forum santai. Jadi, yang disampaikannya hanya guyonan dan tidak serius.

Jokowi Kecewa dengan Raja Salman, Kenapa?

KONFRONTASI-Kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud ke China, beberapa waktu lalu rupanya bikin hati Presiden Joko Widodo gelisah. Bahkan, menuai kekecewaan.

Perasaan itu disampaikan Presiden Jokowi di sela sambutannya di Pondok Pesantren Buntet, Desa Buntet, Kecamatan Astanaja Pura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (13/4/2017).

Curhatan Jokowi diawali dengan cerita bagaimana dirinya menyambut kedatangan Raja Salman di Istana Kepresidenan Bogor, 1 Maret 2017 lalu.

5 Orang Ingin Temui Raja Salman, Motifnya Bervariasi, Sebut Pangdam Bali

KONFRONTASI -  Pangdam Udayana Mayjen Kustanto Widyatmoko mengatakan pengamanan Raja Salman dan rombongan berlangsung dengan baik selama berlibur di Bali. Tidak ada kejadian menonjol. Peristiwa 5 orang yang ingin bertemu Raja Salman di St Regis Nusa Dua juga telah ditangani dengan baik.

"Tidak ada hal-hal luar biasa, ada masyarakat yang ingin menghadap Raja tapi alhamdulilah bisa diselesaikan dengan baik," kata Kustanto di Lapangan Lagoon, Nusa Dua, Badung, Bali, Minggu (12/3/2017).

Pages