14 November 2019

Puisi

Aku, Kawan Lama, dan Cerita Perjalanan

Oleh: Henk

Puisi Setyo Widodo : Engkau yang Kemarin, Kini dan Esok

ENGKAU YANG KEMARIN, KINI DAN ESOK

Engkau yang kemarin
adalah mutiara
kutemukan dari bayang-bayang kelembutan
rindu yang memikat, hingga
kesanggupan ragaku membaringkannya
di sebelah mimpi memudar
Ingin selalu kukejar

: siang bertindih malam

Engkau yang kini
adalah harum bunga casablanca
mengisi ruang-ruang lenguhku penuh
peluh, menjalari nadiku hingga gemuruh
berdetak lindap; desah yang selalu menyapa

Puisi Agustina Thamrin : Mantra Karindangan

Mantra Karindangan

Oleh:Agustina Thamrin

Oo..asap dupa wewangian
Nining datang umpat bajajak
Bajajak diatas awan
Bajajak diatas asap
Asap hidup mancari razaki
Razaki di ulak banyu
Banyu landas banyu baah banyu amuk dihulu
Di tanah leluhur

Oo Mayang Maurai
Prakk...dibumbunan
Siapa apa nang mahalimunan
Titir talu walas hari
Mangiau maningau manyaru urang nang karindangan

Nafsu Syahwat, Kebebasan dan Pembunuhan di Pesta Tahun Baru - Puisi

Oleh: Djuhardi Basri

Mengembaralah Qabil Dengan Pengembaraan Yang Menyiksa

Oleh :   Juftazani


mengembaralah qabil dengan pengembaraan yang sangat menyiksa, pengembaraan orang-orang yang terbuang, pengembaraan yang penuh kesengsaraan, penyesalan dan kepedihan dalam jiwa yang merasa dikucilkan seluruh manusia di atas dunia – 
merasa sendiri, terpencil, menggigil dalam dekapan keterasingan dalam pengembaraan yang sunyi– 
tanpa ditemani kasih sayang ilahi atau rasa cinta sanak-saudara dan saudari

Puisi Ness Kartamihadja : PENYAIR MABUK CINTA PUISI

PENYAIR MABUK CINTA PUISI

-Dalam Diksi Disleksia-

Dia mencari deodorant wangi setaman
karena ketiaknya berbau imaji busuk,
buangan penyair gagal
Aduh,
akankah tuan Metafora meminjaminya diksi displastisia
supaya semua bau pindah ke kantong kritikus sombong?

Penyair mabuk!
Mencintai puisi tanpa syarat,
kecuali dompet yang sarat,
penuh personifikasi sekarat

Puisi Kolaborasi : PUISI MENOLAK DIPINANG

PUISI MENOLAK DIPINANG

 

Jam nol nol, puisi melenggang menantang malam
rima menata langkah
diksi mempercantik diri
ia dialtarkan
untuk persembahan cinta
tetapi.tunggu dulu
mana baju?

 

Gaunmu, gaun pengantinmu

dirancang dari sarang laba-laba

tunggu ia kan segera tiba, dengan dayang-dayang

mengiringinya

 

Puisi Kolaborasi : PUISI MELAWAN KOPI

PUISI MELAWAN KOPI

Senja telah luluh di kaki langit
segelas kopi menjuntai hingga ujung gelas
tak juga digapai
laki-laki berwarna abu-abu melahap puisi-puisi
berserak di halaman buku
kopi berbisik "Tuan kenapa tak kau sentuh bibirku dengan bibirmu?"

Senja telungkup ditimpa gelap malam
"kau serupa diriku hitam", kata kopi
keduanya menyatu

Puisi : Secuil Balada (Sari Penjaja Roti)

ketika sari berkeliling menjaja roti
tak seorang pun meliriknya
dan seorang wiro sableng terkekeh
melihat keringat tubuh coklat kekuningan
deras membasahi
seseorang dengan tongkat bambu
menghampiri seraya berucap
- aku bukan sang nabi tapi jelmaan nurani
ketika suatu hari tiada nasi ataupun ubi
juga jagung ia akan memborong
lalu melahapnya secara sembunyi
bersabarlah-
sari cuma diam matanya sayu
mencari sosok bertongkat bambu
yang moksa seiring bayu

Puisi Muhamad Seftia: Tangis Aleppo

Tangis Aleppo

"tidak ada tempat untuk kami pergi,
ini adalah hari-hari terakhir"

Pages