19 November 2019

Puisi

Penguasa Penindas Rakyat

(Tragedi Trisakti 19)
Oleh: Juftazani

Puisi : Semalam Kembang

SEMALAM KEMBANG

Oleh : Heni Hendrayani

Derai hujan bulan Februari
sejuk menyentuh daun-daun
kuncup melati mekar kini

Harum dibelai angin malam
menembus kisi jendela
lembut menguar di ruang hati

Indah kembang rekah semalam
putik menguning bagai pendar
cahaya kunang-kunang
wijaya kusumah bersinar di teras malam

Puisi NK Palupi : Angin Berkelebat Kuat

ANGIN BERKELEBAT KUAT

Puisi NK Palupi : Bening

BENING

Senyap itu adalah hamparan hutan
Hijau yang basah
Begitu jernih melumat segenap asa
Menyerap seluruhku
Tanpa bisa berkata kata

Detak jantung menandai seluruh tapak kaki
Alam berbisik bening serupa mantra Petapa
Luluh doa doa membumbung angkasa

Titah sang pencipta meruah dalam fatwa semesta
Gemericik air bertasbih
Daun daun berzikir
Hutan purba bermuhasabah
Bebatuan pasrah
Penyucian jiwa alam raya
Bergejolak menyusup relung rasa

Puisi Denny JA: Kekasihku dan Pilkada Jakarta

Si Pitung dari Marunda
Sedih di langit sana
Menitik air mata
Karena kisah cinta Sidarta

Berakhir sudah cinta
Tahunan terjaga
Sedari tadi merenung saja
Remuk itu hati Sidarta

Bukan karena agama
Soal itu teruji sudah
Beda tafsir dan gagasan
Tak mampu memisahkan

Bukan karena harta
Soal itu terlatih sudah
Hidup sederhana
Tak pernah jadi perkara

Bukan karena selingkuh pula
Soal kedalam cinta
Hati yang setia
Tiada mampu digoda

Puisi Sefi Ariswanto (Chepy) : Seteguh Hujan dan Januari

SETEGUH HUJAN DAN JANUARI

Cahaya perak tajam,
baja menyala
Di telaga sajak,
bagai puspa bianglala
Bait-bait kian merindang,
menggapai balada purnama nan terang,
jubahi rembulan

Sebentar hujan berdandan
Walau hujan berduyun datang
Biarlah hujan berbondong menyambang
Hujan mencintai Januarinya
Jangan meresah bila purnama kabur dari pandang
Bulan tak lekang!
Bulan nyenyak tidurnya,
kidung rintik hujan menimang

Puisi Na Dhien : Malam Karam

                       Foto : Na Dhien bersama Setyo Widodo

MALAM KARAM

Malam kehilangan seduhan
Setelah dingin memenangkan sentuhan
Merebut api dari percik- percik pemantik
Secangkir kelam gigilkan angan

Lalu kaupungut selembar kabut
Dari tingkap gelap yang lembab
Kauperam dengan kidung kasih sayang
Bersama penggal-penggal kalam

Malam akhirnya karam
Pada syahdu sujudmu

Jakarta, 23 Januari 2017

________

Puisi Setyo Widodo : Tuan, Aku MengkhawatirkanMu

          Foto : Setyo Widodo bersama Na Dhien

TUAN, AKU MENGKHAWATIRKANMU

Oleh : Setyo Widodo

Tuan, aku mengkhawatirkanmu
disana. Orang-orang beringas membawa pentungan
berbondong menuju rumahmu
menggedor pintu kiri dan kanan
belakang dan depan
sedang kutahu engkau sungguh baik
semua yang lain selalu tabik

Puisi Denny JA: Air Matamu Ibu

Air Matamu Ibu Denny JA Lama aku terpana Menatap air mata Beberapa tetes saja Di ujung mata Ada apa Ibu? Lembut kutanya dari kalbu Tak kuharap kata Karena kau lama tak lagi bicara Tak kuharap gerak tangan Karena tanganmu lama tak bergerak Kutunggu hanya tanda Isyarat saja Dari hati ke hati Tahunan sudah kau di kursi roda Walau sudah renta, mata masih bertenaga Walau tak lagi berkata, mata masih bicara Awalnya aku menduga Kau ingin bertanya Hal besar seperti biasa Seperti saat dulu Kau dongengkan aku Tentang matahari di puncak bukit Kau tumbuhkan api di hatiku

Puisi Denny JA: Ibuku Semakin Menua

Ibuku Semakin Menua
Denny JA

Walau Ibu banyak lupa
Tak lagi membaca
Tak ingat nama
Tak ingat peristiwa
Tapi masih bisa kurasa
Tetap ada yang tersisa

Setidaknya itu harapanku
Karena duniaku bermula darimu, ibu
kata pertama yang kubaca
Kau yang mengeja
Nama pertama yang kukatakan
Kau yang ajarkan
Peristiwa pertama yang kuingat
Pelukmu yang hangat

Pages