27 February 2020

Puisi

Puisi : Pada Pagi

pada pagi kau menarik nafas penuh

kau hembus pada malam yang melegakan 

gelisahmu menggelepar di jambangan.

sepi.

: segala terlempar luruh. 

 

angan tak lagi menjadi kapas

mengapung di kedalaman langit 

lalu memojokkan segala ingin.

semua.

: tembok makin menghimpit.

 

dulu sudut-sudut ini kau kenali

tiap detikmu harapmu perlahan meniti

begitu yakin dirimu pada janji-janjinya.

pagi.

: kau menatap jendelamu kembali.

 

AJ  /2014

Puisi : Bukan Aku

Bukan Aku

bukan aku
yang menyusup dari ujung jalan itu
ke dalam benakmu
adalah samar bayang
di antara lampulampu
yang baru saja menyalakan malam
dan berjuta tanda bagi kesepian

siapakah yang berjalan
menyusur lengang lorong waktu
dan meraba perihnya dindingdinding kenangan itu?
katamu

bukan aku
sungguh bukan aku
yang merasuki ingatan di dalam benakmu
suarasuara yang terdengar
adalah angin yang gemetar
di selasar sasar
bulan pendar
dan cahaya lampulampu menyusun pijar

MENGGAMBAR HIDUP DENGAN TINTA KEYAKINAN Esai Apresiatif Atas Puisi Kelak Bila Kau Pulang Karya Fendi Kachonk

                                                                      Oleh Moh. Ghufron Cholid*)

 

Siang ini saya berhadapan dengan puisi Fendi Kachonk di Taman Baca Arena Pon Nyonar yang merupakan taman baca yang ia bangun dengan perasaan cinta, memalingkan segala mata dari kebutaan membaca, Fendi yang semakin karib dengan dunia sosialnya namun tak lupa memajukan masyarakatnya dengan kecintaan membaca.

 

Puisi : Pulau Kecil

PULAU KECIL

 

kalau aku sedang ingin menulis puisi,
selalu wajahmu yang aku hadirkan
bukan musim semi, atau ikan salmon
aku bercebur di matamu, dan mandi
seribu cahaya matahari: kupancing
kata-kata di lidahmu dengan lidahku
tapi gigiku tidak menggigit apa pun

seketika aku ingin berlari ke lautan
menjelma sebuah pulau kecil tanpa
sebuah kapal pun tahu alamatnya
termasuk oleh rindumu: cukuplah
ombak, ikan, hari-hari 'tak bertanggal
yang menyapaku setiap paginya
dan mengucapkan selamat malam

Puisi : Kembali ke Rumah Asal, Sebab Tak Cinta kecuali Setelah Kematian

Puisi-puisi Dira Diptya ...

KEMBALI KE RUMAH ASAL

Gemerisik dedaunan, lirih berbisik  
senandungkan gelombang kehidupan.
Melambai-lambai tak tentu arah di tiap episode

Kemudian aku bertanya, "untuk apa hidup?"
menjadi butiran tebu yang maniskah?
atau menjadi empedu hitam yang pahit?
atau setengah-setengah saja?  

Puisi : Bunyi Sunyi, Datanglah

BUNYI SUNYI

Sesuatu yang tak mampu kukatakan
akan kutuliskan di air*
: katamu seperti berserah

Bagai mata jala
di setiap gerimis kupandangi langit di hulu
menanti sungai dipenuhi kata-kata

Mungkin saja ada sebuah puisi
yang tersangkut di batu-batu

Atau hanya bunyi
yang tersekat waktu

II

Kita telah berjanji
tak akan melukai sunyi
karena dia rahim bagi bunyi
dan ibunda bagi puisi

Jakarta, 19/05/2014

*Kutipan dialog dalam film To The Wonder (Fox Movie Premium)

 

Puisi : Penghargaan Gila Penghargaan

ada penghargaan untuk sang juara
dia pantas menerima sebab menjadi budak penguasa
diantara tetes air mata yang menghiba dan mendamba
ketika yang terlintas itu pergi tanpa suara

telapak-telapak kapitalis itu telah menginjak
hanya borjuis yang mampu tertawa ngakak
dan marjinal pun hanya bisa berteriak
hingga si tua merana tak bergerak

gila memang hidup ini
mereka yang berpaling dianggap haters
dan kaum pemuja terus menyanyi sanjungan tiada henti
terus dan teruslah bersorak dan dibalik semua perlahan telah terkikis.

Puisi : Kecupan Hampa

Kecupan Hampa

 

Peluk aku…

Aku adalah jiwa-jiwa yang sedang tersesat, yang sedang mencari jalan untuk pulang

Aku adalah anak singa yang kehilangan ibunya, yang tak tahu bagaimana cara berburu dan bertahan hidup

Aku adalah sepoi-sepoi angin, yang sekedar mampir untuk menawarkan sejuk

Aku adalah riak-riak kecil di kolam, yang tak pernah begitu diperhatikan pemiliknya

Aku adalah retakan tanah, yang sempat lupa disirami dan hanya menanti hujan

Puisi Arsyad Indradi dalam " Tiga Kutub Senja "

Beberapa pilihan puisi Arsyad Indradi dalam Tiga Kutub Senja

 

Zikir Senja

 

Tak terbaca lagi ayatayat

Yang Kau hampar sepanjang perjalanan

Menuju rumahMu

Tak mungkin kembali

Menangkap AlipLamMim dari pintu bumi

Kandang dombadomba yang lapar

Semakin jauh berjalan

Kucurigai langit

Menyembunyikan bintangbintangMu

BulanMu bahkan matahariMu

Kucurigai laut

Menyentuh kakiku

Buihbuih merajah pausMu yang kian punah

Jasadku untaunta

Puisi : Luka Waktu dan Hari Ini Kita Belah Dada-dada

HARI INI KITA BELAH DADA-DADA

: maisya

bumi di mana kita melaut hanyut
cemas ganas gelombang. bak ia
serupa perahu anakku, melayar diri
pecahkan buih, karang-karang waktu
ribuan tahun, mengenang musim
mengintai cahaya di remang sejarah

Pages