7 April 2020

Puisi

Puisi Dewi Nurhalizah : Kota Gagak

Kota Gagak

tiba-tiba riuh
gaduh tiap penjuru
kelebat hitam terbang keluar
dari gedung-gedung tua yang lelah
lewat segala celah, tak jelas pintu atau jendela

kwak kwak kwak!
antara gelak dan suara gagak
gedung tua makin retak

kelebat dan kwak
membentuk bayang dan tanah pijak
tak ubahnya hamparan awang
bernoktah hitam

gagak-gagak berteriak
kwak kwak kwak!

secuil daging
pada tiap paruh,
anyir!

Puisi dan Bahasa Simbol (1)

                                                                      Oleh: Nashih Nashrullah      

George W Bush, dalam sebuah pidatonya di hadapan Muslim AS saat masih menjabat sebagai presiden, pernah mengapresiasi karya-karya Jalaluddin al-Rumi.

Puisi-puisi sufistik yang ditelurkan oleh sufi kelahiran Persia itu sarat dengan makna dan pesan humanis yang universal.

Besok, Presiden SBY Luncurkan Album Kelima dan Buku Kumpulan Puisi

KONFRONTASI - Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono akan meluncurkan album kelima dan kumpulan puisi karyanya di Istana Cipanas, Bogor, Jawa Barat, besok. SBY akan mengundang para musisi dan penyanyi top Tanah Air yang pernah terlibat dalam karya-karyanya. "Kebetulan ada lagu-lagu lamanya Pak SBY, dikompilasi dengan 2 lagu baru di album ini nantinya. Saya sudah dengar 2 lagu baru Pak SBY itu," kata pengamat musik senior Bens Leo mengutip detikcom Kamis (7/8/2014).

Puisi Cerasu Cecep : Sumpah Mampus Jangan !

Jangan kecewa anakku
bila saya terlalu banyak umbar nasihat
sebab demikianlah orang tua,
meski masa mudanya sendiri tidaklah lebih baik dari kamu,
lebih buruk: bisa jadi.

Janganlah pula kecewa
bila saya beristri ganda
sebab nafsu muda saya kelewat takaran
alias maniak bulukkan.

Tetapi,saya hanya orang tua,
yang merasa lebih baik dari anaknya,
seperti juga bos-bos pemimpin usaha,
tak pernah salah dalam bicara.

Jangan terlalu kecewa anakku,sebab hidup itu:
begitu.

Sukabumi, 2014.

Puisi : Jalan Pulang

Jalan Pulang
Utk : Nh

sudah aku kemas semua juga tentang mimpi
kota bukan tempatku lagi, bukan!
dan desa setia menanti

bertahun kucoba taklukan kota
sia-sia

kau terlalu perkasa
aku tetap papa malahan nista

kemilaunya pernah membuatmu silau
dan tinggalkan kebun juga ladang
kau tahu itu cuma fatamorgana, tipu daya

rambutmu semula hitam
kini beruban
lenganmu yang legam
kini telah buyutan

Puisi Warih W Subekti : Saatnya Ku kembali Pada Puisi

Kini saatku kembali pada : pantai
hutan
dan ngarai

tinggalkan bising kota, yang penuh: dusta
fitnah keji
dan angkara

saatku kan kembali pada bumi
pada tanah yang telah mendewasakan
dan memanjakan aku kini dan nanti : yaitu puisi

Jakarta, 2014.

-Warih W Subekti, saat ini tinggal dan berkarya di Jakarta. (War/Konfrontasi)

Puisi Ribut Achwandi : Di Kebunku Ada Cinta

di kebunku ada cinta
tumbuh subur menuai kasih
dibuai tanah-tanah penuh sayang

di kebunku jantung terus berdetak
seirama laju waktu pagi menuju senja
pulang pada malam, malam yang terjaga

pada rembulan kukabarkan
tunas-tunas tumbuh kehijauan
pada bintang kusampaikan
salam rindu daun yang segar
bermandi cahaya matahari
dan titik embun, embun pagi
disejukkan hembusan angin

di kebunku ada cinta
dipelihara oleh kasih dan sayang

Pekalongan, 23 Juli 2014

Puisi-puisi Balada Penyair Balada : Warih W Subekti

Balada Penyair, Kopi dan Buku Puisi

Seorang penyair kebingungan, bagaimana tidak sudah dua kali dia menyedu kopi
dan belum sempat meminumnya
(rupanya dia tengah asyik menulis puisi dan sesekali pergi ke kamar kecil)
namun kopi yang berada di meja didekat tumpukan buku puisi dan mesin ketik jinjing tahu-tahu kosong dari gelasnya

Puisi-puisi Jiwa : Dewi Nurhalizah

Jiwa yang Tenggelam

yaa robbana yaa robbana oh yaa robb
izinkan kuletakkan cinta di ujung malam

pada sunyi tatkala luh menetes perlahan
ketika pedih dan malu menikam dalam

oh yaa robb yaa robbana yaa robbana
tenggelamkanku dalam diam
seperti kehendakMU
dan tiadalah aku
walau sedebu

malang, 072014

Jiwa yang Tidak Terpaku Aksara dan Angka

utas-utas kemilau mengintip dari kisi-kisi langit
mencari jiwa sunyi yang ditetapkan dalam perjanjian

Puisi Moh Ghufron Cholid : Kamar Usia, Membingkai Rindu dan Gaza

KAMAR USIA
: Ulfatun Ni'mah Cholid

memasuki kamar usia yang baru, adikku
ada yang semakin akrab bertamu
angin haru
mengingatkan rupa masa lalu

ada yang berganti lagu
hatimu
gigil waktu yang membentukmu karang
telah pun sampai pada utuh sembahyang
lalu, kau alpa
pada bidak-bidak duka
yang pernah merapatkan barisan
menghantam keyakinan

Pages