23 November 2019

Puisi

Aku Debu, Menunggu Penuh Rindu - Puisi

Oleh: Supriyanto Helmy Tanjung

 

 

Kalau aku kau jadikan buih

Tak apalah karena dengan jadi buih aku akan lebih dekat ke pantai meminang matahari

Mengulum cerlang cahayanya bermanja pada hamparan pasir lalu aku fana dalam semestaNya

 

 

Kalau aku kau pinggirkan

Tak apalah karena tanganku akan mudah bergandengan

Menyalurkan energi cinta lalu berdegup irama ukhuwwah bartasbih menawafi azza wajalla

 

 

Kalau aku kau pojokkan

Puisi Apocalypso 8

Oleh:  Juftazani

 

 

Menyeru Perlawanan kepada penguasa

Bersemanggama dengan Apocalypso

Pemuda mempreteli dusta yang menjelma sepotong  rambut

Di atas tepung semesta

Di lereng-lereng gunung kehidupan dan galaksi di alam semesta

Ayat-ayat penguasa terbang bagai kapas yang diurai ether di atmosfir

Dan gelembung-gelembung kata penguasa

Terus menimbun jurang-jurang Apocalypso yang menggunung

Menjadi hutang negara, menjadi BUMN yang tergadaikan

kepada Cina atau Amerika

Puisi Apocalypso 7

Puisi Apocalypso 7

Oleh: Juftazani

 

1

Puisi Apocalypso 4

Juftazani
-------------------------------------
Aku adalah Pompei, yang musnah akibat kiamat hebat 
Di jiwa ruh-ruh penduduk kota yang hancur luluh 
Dihantam letusan gempa gunung Vesuvius
Tapi bukan karena Vesuvius yang menghancurkan aku
Aku adalah Pompei, yang lebur karena kiamat telah menggerogoti 
Tanah-tanah goyah ruh-ruh yang telah terbakar 
Saat aku mendengar gemuruh

Puisi Apocalypso 2

Juftazani

 

 

Gemuruh keputus-asaan

Gema cinta yang terlucuti

Jerit hati yang sia-sia – lepas ke langit tanpa didengar oleh Yang Kuasa

Di akhir zaman tinggallah orang-orang nista

Lihat, barisan tentara membela penguasa  yang gemar  berdansa

Lihat, 65 kasus melibatkan aparat militer dalam penggusuran paksa

Dengan skala kekerasan yang membungkam rakyat tak berdaya

Di pasar ikan, di luar batang atau di kali Ciliwiung

 

 

Gemuruh keputus-asaan

Mikroseismik - Puisi

Juftazani

 

gelombang-gelombang seismik
bergetar dan mendengung setiap saat
mengirimkan cahaya-cahaya dari kursi kebesarannya
dan bumi mendenging seakan menangis
tangis dalam ingatan akan cinta dan kebesarannya

 

getaran-getaran dalam frekuensi sangat rendah
menderu dalam kehebatan cahaya yang menerpa
dari gugusan-gugusan galaksi
datang bergelombang setiap detik,
setiap denyut jantung manusia yang selalu lupa
akan cintanya

 

Kampung Azan: Puisi Chavchay Syaifullah

di kaki gunung yang bisu ini

aku mendengar azan

burung-burung kecil bercericit

air sungai membentur batu-batu

 

di kaki gunung yang sunyi ini

azan menggema bertalu-talu

angin mencium gerimis

kabut memeluk daun-daun

 

sementara di puncak gunung

harusnya aku membaca buku harian

tapi huruf-huruf malah terbakar nafsu

di puncak gunung

aku malah berlari kencang ke ujung dunia

aku lupa pada kesejatian

 

ya Allah

Puisi Apocalypso 6

Juftazani

 

Akan datang orang-orang yang bergetar jiwanya

Ketika mendengar nama Allah

Akan datang  orang-orang yang mabuk sukmanya

Ketika sampai ke hadapan mereka ayat-ayat Cinta

Akan datang orang-orang yang menderu langkah-langkahnya

Ketika mendengar keindahan azan

Bergegas menemui penciptanya

Kaki dan lutut dan keningnya bergemuruh sujud di bumi Ilahi

Akan datang orang-orang yang menunggu sesuatu

Yang orang-orang lain tidak tahu

 

 

Puisi Apocalypso 5

-----------------------------------------------------------
(Apocalypso!
Apocalypso !
Mengerti dan
Percayakah kalian apa itu Apocalypso?)
------------------------------------------------------------
Oleh: Juftazani

1

Puisi Apocalypso 1

Juftazani

 

 

1

 

 

Ini pengalaman religius yang berat

Lazim dalam wahyu  eskatologi kenabian

Yang dianugerahi melalui mimpi

Atau penglihatan spiritual

 

2

 

Banyak kegoncangan menggegerkan jiwa manusia

Kehilangan pegangan

Dan mencari pegangan baru

Karena yang lama telah terlalu lapuk dan pasti runtuh

Hablur bersama hancurnya keimanan umat manusia

Kepada yang Satu

Simbol-simbol baru yang menakutkan bermunculan

Pages