9 April 2020

Puisi

Puisi Apocalypso 21

Selamat Tinggal Menara Eiffel dan Patung Liberty

 

Juftazani

 

I venture to maintain that the gratest challenge that has
surreptitiously arisenIn our age is the challenge of knowledge, indeed,
not as against ignorance;But knowledge as conceived and disseminated
throughout the world by western civilization”
~Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas~ *

...

1

Puisi Apocalypso 20

 

INDONESIA

 

 

Juftazani

 

 

Puisi Apocalypso 19

Dunia Terbakar

 

Juftazani

 

Inikah musim Apocalypso yang terakhir?
Saat kutelusuri dunia terbakar
Para Pemabuk mengamuk
Mencabut nyawa puluhan ribu manusia
Dan dikirim ke liang apocalypso untuk diam tak bergerak selamanya
Selamat tinggal 7,7 milyar penduduk bumi
Siapa kuat akan hidup
Siapa lemah pasti musnah

 

Puisi Apocalypso 15

Juftazani


 


 

Apa yang kini terjadi denganmu Arab

Pengusiran massal, penguasa dan oposisi

Akibat gempa politik di Timur tengah

Pengungsian massal terbesar di dunia

Dengan anak-anak sakarat kedinginan

Ibu-ibu yang malang terpaksa membakar plastik

Untuk menghangatkan tubuh-tubuh kelaparan, dingin

Dengan tatapan mata hampa


 


 

Eksodus manusia membuka kisah orang-orang terlantar

Puisi Apocalypso 12

Juftazani

 

Matahari membara membolik-balikkan bola matamu
Zaman pun menggelora dengan suka-duka manusia
Tersungkur di altar peradaban yang penuh luka
Matamu mengembara dengan kejahatan-kejahatan yang menggemertakkan api neraka
Dengan dengung tetabuhan yang sangat marah
Dengan kedua sayapnya terbang mengentup siapa saja
Berani menggangu kedamaian mereka
Terbakarlah zaman yang tenang dan riang
Dalam kelembutan surga masyarakat yang cinta kedamaian dan cahaya keabadian

 

Puisi Apocalypso 11

Janji Tuhan di Wuhan


Juftazani

 

Di akhir zaman pemimpin tak berbohong bukanlah pemimpin
Di atas bencana,
di bawah bencana,
di kiri bahaya
Di kanan wabah merajalela
Peperangan, bah tsunami, galodo atau gempa
Bersamaan meneriakkan murka langit dan bumi
Bagi sifat dajal manusia era ini
Masa depan adalah sebuah kapal
Sedang mencoreng-moreng nasib kita di hari ini

 

Melodi Pengakuan - Kumpulan Puisi Siska Septiani

MENGGEMA

Memulai dengan ketukkan.

Sebuah lagu yang sedang kuputar,

Membuat jantungku berdebar.

Jiwa resah karena kegelapan

Merekah dalam dekapan.

 

Jika saja tidak terlalu samar

Apa yang barusan kudengar,

Mungkin melodi itu bisa kuhafal

Dengan lembut, dengan benar.

 

Dengan beberapa tetes air hujan.

Tanpa terkecuali,

Tanpa henti,

Tanpa ada yang perduli.

 

Nada itu adalah lukisan dalam memori.

Berikrar dengan Puisi

BERIKRAR

Waktunya telah tiba

Kita duduk bersama

Ukiran senyum menyapa

Menyambut indahnya mahligai rumah tangga

 

Keringat dingin jatuh, saat kau ucap "saya terima nikahnya "

Kau hadirkan berjuta rasa

Kata "sah" mengawali cerita cinta kita

Cinta yang akan kita bangun berdua

 

Kutampar jiwa agar ku tersadar

Rupanya ini memang benar,

Kau bawa aku ke istana cinta

Cinta suci tanpa dosa

 

Cinta yang indah

Sejumput Puisi: Kumpulan Puisi Siska Septiani

Dunia

 

Sejenak berpikir...

Yang terukir, belum tentu menjadi takdir

Gelora mungkin membara

Tapi relaiti terbaca

 

Ricuh bergemuruh

Terombang ambing di lautan yang luas

Haus akan tawar

Namun terdampar dan tercakar

 

Hidup bukan tentang siapa namamu?

Tapi yang jelas siapa kamu!

Begitu lah dunia..

Tajam..

 

Goresan se ujung kuku menjadi kesalahan beribu makna..

Paus Sastra Lampung Gemakan "Kucintai Malam" di Bumi La Tansa

KONFRONTASI-Penyair asal Lampung Isbedy Stiawan ZS ikut menyemarakkan festival penyair muslim internasional bertajuk La Tansa International Literary Festival (LILFEST) 2019 di Aula Kalijaga Ponpes La Tansa Lebak, Banten, Jumat (6/9) malam.

Penyair bergelar Paus Sastra Lampung itu membawakan puisi karyanya sendiri berjudul ‘Kucintai Malam’. Puisi ini diciptakannya tahun 2018/2019 mendapatkan apresiasi luar biasa dari 2.000 lebih santri dan penyair Indonesia dan luar negeri.

Pages