12 November 2019

Pilgub DKI

Kata Gerindra, Keuntungan Lahan Prabowo Juga untuk Biayai Kampanye Jokowi di Pilgub DKI

KONFRONTASI  -  Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo menyesalkan sikap calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyinggung soal lahan yang dikuasai calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dalam debat kedua pilpres 2019. Padahal, menurut Edhy, keuntungan usaha pada lahan seluas 220.000 hektar di Kalimantan Timur dan 120.000 hektar di Aceh Tengah itu salah satunya digunakan untuk membiayai kampanye Jokowi pada Pilgub DKI 2012.

Adik Prabowo Ungkap Bantuan untuk Jokowi di Pilgub DKI: Jumlahnya Besar Sekali

KONFRONTASI -  Adik Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, mengungkap pemberian bantuan dana kepada Joko Widodo (Jokowi) saat maju di Pilgub DKI Jakarta 2012. Meski tak menyebut angka, Hashim mengatakan jumlah dana yang diberikannya besar sekali.
 
"Besar, tapi ratusan miliar nggak benar. Dana yang saya bantu besar sekali," kata Hashim di media center Badan Pemenangan Nasional (BPN), Prabowo-Sandiaga Uno, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Senin (21/1/2019).
 

Termehek-mehek Boleh, Asal Jangan Kalap: Refleksi Paska Pilgub DKI

Saya bersimpati terhadap para pendukung paslon yang kalah pada pilgub DKI baru-baru ini; meskipun agak terheran-heran menyaksikan betapa termehek-meheknya bak diselingkuhi dan ditinggal pergi pacar, sehingga saya tak mampu berempati. Akan tetapi, saya terhenyak manakala ketermehekan itu beralih rupa menjadi kekalapan sehingga mulai menebar fitnah, dan bahkan menjelek-jelekkan negara dan bangsanya sendiri. Akan lebih baik berlaku ksatria bila tak mampu legawa.

Anies: Kalah Itu Enggak Enak, Kita Enggak Boleh Ngejek

KONFRONTASI- Anies Baswedan, meminta para pendukungnya untuk merangkul para pendukung pasangan calon lainnya, Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok)- Djarot Saiful Hidayat.

Ia berharap, para pendukung pasangan calon masing-masing dapat bersatu setelah Pilkada DKI Jakarta 2017.

Pada Pilkada DKI 2017 putaran kedua, Anies-Sandiaga berhasil mengungguli pasangan Ahok- Djarot.

"Bapak, Ibu boleh bersenang. Kalau merasa menang, mari tunjukan karakter pemenang, pemenang itu merangkul dan mengayomi (yang kalah)," ujar Anies di kawasan Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Sabtu (29/4/2017).

Anies menginginkan Jakarta ke depannya sebagai kota yang beradab. Oleh karena itu, dia meminta kepada para pendukungnya untuk menghormati satu sama lain meski pada Pilkada DKI ini berbeda pilihan.

"Sapa mereka yang kalah, kalah itu enggak enak loh Bu. Kita tidak boleh ngejek. Justru kita akan dihormati kalau yang menang, menghormati yang kalah. Biar mereka bilang 'Untung yang menang mereka'" kata Anies.

Adapun Anies-Sandiaga dinyatakan menang pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017 berdasarkan hasil quick count sejumlah lembaga.

Hasil Pleno KPU DKI: Anies-Sandi 57,96%, Ahok-Djarot 42,04%

KONFRONTASI-Rapat pleno terbuka rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi telah diselesaikan KPU DKI Jakarta. Seperti hitung cepat, pasangan nomor 3 Anies Baswedan-Sandiaga Uno unggul dari pasangan nomor 2 Basuki T Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

"Kami garis bawahi, perolehan suara paslon nomor 2 memperoleh jumlah suara sebanyak 2.350.366. Sedangkan paslon nomor 3 memperoleh suara 3.240.987," kata Ketua KPU DKI Jakarta Sumarno di Hotel Hotel Aryaduta, Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun, Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (29/4/2017) malam.

Dari hasil tersebut persentase raihan suara untuk Ahok-Djarot memperoleh suara dukungan sebesar 42,04 persen. Sementara Anies-Sandi mendapatkan suara sebesar 57,96 persen.

Sumarno merinci, pada putaran kedua ini surat suara yang sah pada semua paslon ada sebanyak 5.591.353. Sementara surat suara yang tidak sah ada sebanyak 58.705. Sehingga total suara sah dan tak sah ada sebanyak 5.649.428.

KPU DKI menyampaikan total pemilih di Pilgub DKi adalah 7.218.280. Sedangkan yang menggunakan hak pilihnya sebanyak 5.532.436 suara, dan jumlah pemilih yang masuk dalam daftar pemilih tambahan sebanyak 111.286.

"Demikian pembacaan rekapitulasi penghitungan suara di tingkat Provinsi DKI dinyatakan disahkan. Setelahnya, kita tanda tangani," ujar Sumarno.

Ketua KPU DKI Sumarno meneken rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi DKIKetua KPU DKI Sumarno meneken rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi DKI Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom

Pada putaran kedua ini, Anies-Sandi berhasil unggul di lima kota dan Kabupaten Kepulauan Seribu. Berikut perolehan suara berdasarkan wilayah DKI Jakarta:

Anies-Sandi Menang, Pria Ini Penuhi Nazar Jalan Kaki Madiun-Jakarta

KONFRONTASI- Pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi) telah memenangi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 dalam versi quick count atau hitung cepat. Demi meraykan kemenangan tersebut, seorang pendukung pasangan nomor tiga itu, Eko Hadi Susilo dari Madiun, Jawa Timur (Jatim) rela berjalan kaki ke Jakarta demi memenuhi nazarnya jika Anies-Sandi terpilih dalam Pilkada 2017 DKI Jakarta.

Meski bukan warga Jakarta dan tak memiliki hak pilih dalam Pilkada 2017 DKI Jakarta, Eko menyatakan mendukung pasangan Anies-Sandi dan sudah berjanji pada dirinya untuk berjalan kaki menuju Jakarta demi menemui Anies dan Sandi. Pada Rabu (26/4/2017) siang, Eko sudah tiba di kawasan Suruh, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Hal itu pun membuat geger warga dunia maya (netizen) yang tergabung dalam grup Facebook Kabar Salatiga. Tibanya Eko di kawasan yang dekat dengan Kota Salatiga itu membuat netizen melontarkan berbagai tanggapan mereka.

Mereka menganggap tindakan Eko itu berlebihan, mengingat dirinya adalah warga Madiun yang tak memiliki hak pilih dalam Pilkada 2017 DKI Jakarta. Kebanyakan dari mereka menganggap tindakan Eko itu hanya sensasi untuk mendapatkan perhatian publik.

“E alah pak. Mung arep pingin ketemu gubernur di rewangi mlaku adoh tiwas kesel awak’e, nek ketemu durung mesti trus dikek’i duwit ge ngopeni anak bojo, SENSASI tok [Hanya ingin bertemu Gubernur harus berjalan kaki jauh dan bikin lelah. Jika sudah bertemu juga belum tentu dikasih uang untuk menghidupi anak istri di rumah. Hanya sensasi],” papar pengguna akun Facebook Eko Kris.

Meski demikian, tak sedikit juga yang menganggap tindakan Eko itu wajar dilakukan oleh seorang pendukung, dalam hal ini pendukung salah satu pasangan calon dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Sebagian netizen pun mendoakan agar Eko selamat sampai tujuannya di DKI Jakarta.

“Semoga Selamat sampai tujuan Pak dan Selalu dalam lindungan Allah Swt. Aamiin,” tulis pengguna akun Facebook Alexender Tuqijo.

Pilgub DKI Harus Jadi Pelajaran Berharga

KONFRONTASI-Pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta yang berlangsung panas harus menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia dalam bernegara dan berpolitik.

"Apa yang terjadi kemarin itu sudah sangat berbahaya. Masyarakat terpecah dan terkotak-kotak yang bisa menimbulkan ekses yang sangat besar, yaitu terancamnya NKRI," Hendri di Jakarta, Rabu.

Ahok Keok, PDIP Tertohok

Kalau saja Megawati Soekarnoputri, selaku Ketua Umum PDIP dikelilingi oleh penasehat-penasehat cerdas dan punya sikap negarawan, PDIP tidak sepatutnya mencalonkan Ahok Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkda 2017.

Karena Ahok selain bukan kader PDIP, prilaku pribadinya tidak sesuai dengan karakter partai berlambang banteng itu sendiri.   

Memang tidak ada rumusan tentang apa dan bagaimana karakter kader PDIP. Tetapi paling tidak kader itu - apalagi yang mau menjadi pemimpin di ibukota negara, bukanlah orang yang kata orang Betawi, manakala berbicara, mulutnya seperti "mulut comberan". Atau dalam perumpamaan lainnya, seperti orang yang siang lebih banyak bercengkerama dengan warga Ragunan yang tinggal di kompleks Taman Marga Satwa.

Kekeliruan PDIP mencalonkan Ahok semakin dirasakan sebagai sebuah kekeliruan fatal, karena tidak menimbang semua pernyataan Ahok tentang partai politik maupun PDIP.

Ahok sejak awal sebetulnya sudah meremehkan peran dan kredibilitas  parta-partai politik, termasuk PDIP. Sampai-sampai dia menyatakan hanya akan maju dalam Pilkada melalui jalur perorangan. Diajuga menyatakan, kalaupun dicalonkan partai, tapi dia tidak akan tunduk pada perintah partai.

Kini keputusan blunder PDIP itu, sudah berbuah yang buruk. Ahok kalah. Kekalahan tersebut tidak perlu disesali. Tapi justru harus disyukuri sebab pada akhirnya partai bisa membaca apa yang menjadi keinginan sesungguhnya oleh rakyat.

Rakyat ibukota sudah semakin cerdas. Sehingga dari kecerdasan rakyat ini partai harus sadar jika mau merekrut politisi atau calon anggota, ingatlah akan "Pengalaman Ahok".

Mayoritas rakyat Jakarta tidak memilih Ahok, justru perlu dilihat sebagai sebuah kecenderungan dan keniscayaan di masyarakat. Bahwa PDIP sebagai partai kader, hendaknya perlu melakukan evaluasi dan introspeksi tentang sistem rekrutmen yang selama ini diterapkan oleh partai.

Kekalahan Ahok di Pilkada Jakarta tidak bisa disimpulkan sebagai akibat dari strategi Anies-Sandiaga yang menggunakan isu SARA. Kalau boleh bersikap kritis, tanpa isu SARA pun, Ahok-Djarot secara matematika tidak mungkin menang. Karena dari hasil penghitungan suara di Putaran Pertama, selisih Ahok dan Aniesa relative tipis. Haya sekitar dua persen.
 
Nah perhitungan di atas kertas, pemilih pasangan Agus-Silvi di Putaran Pertama yang berjumlah 17 persen, itulah yang harus diperebutkan oleh Ahok dan Anies.  Sementara diyakini, tidak mungkin pemilih Agus-Silvi akan mengalihkan suara mereka semuanya ke Ahok. Mereka justru diperhitungkan akan lari ke Anies-Sandi.

Ahok Kalah, Giring Nidji: Ya Harus Legowo!

KONFRONTASI-Vokalis band Nidji, Giring Ganesha, yang mendukung pasangan Ahok-Djarot dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta, mengaku menerima kekalahan Ahok.

"Ya itulah demokrasi, ya harus legowo," ujar Giring dilansir ANTARA News, Selasa malam.

Pasangan cagub-wagub nomor urut dua Ahok-Djarot kalah dari pasangan nomor urut tiga Anies-Sandi dalam Pilkada DKI putaran kedua yang digelar Rabu (19/4), menurut hasil perhitungan cepat.

Bawaslu Didesak Bawa 'Hujan Sembako' di Pilgub DKI ke Ranah Pidana

KONFRONTASI-Bawaslu DKI didesak membawa kasus pembagian sembako pada masa tenang Pilkada DKI 2017 ke ranah pidana.

Pembagian sembako itu sendiri diduga dilakukan oleh tim sukses pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut dua, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) - Djarot Saiful Hidayat.

"Soal sembako, agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Bawaslu harus membawa kasus ini ke ranah pidana," kata Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (PRIMA) Sya'roni seperti dilansir Okezone, Selasa (25/4/2017).

Pages