14 December 2018

Perang Dagang

Optimisme Perang Dagang China-AS Dorong Bursa Eropa Pulih

KONFRONTASI -  Bursa saham Eropa berhasil rebound pada perdagangan Selasa (11/12/2018), ketika optimisme seputar konflik dagang China-Amerika Serikat (AS) membantu bursa Eropa pulih dari posisi terendahnya dalam dua tahun yang dibukukan pada sesi sebelumnya.

Indeks Stoxx 600 Eropa berakhir menanjak 1,5%, diikuti indeks saham zona euro yang naik 1,3%. Sementara itu, indeks saham DAX Jerman, yang paling sensitif terhadap isu perdagangan China, menanjak 1,5%.

Perang Dagang China-AS Bayangi Pembicaraan G20

KONFRONTASI-Perang perdagangan antara Amerika Serikat dan China semakin membayangi pembicaraan G20, ketika Washington dan Beijing telah memberlakukan tarif ratusan miliar dolar AS atas impor satu sama lain setelah Trump memulai upaya untuk memperbaiki apa yang dilihatnya sebagai praktik perdagangan China yang tidak adil.

 

Menko Kemaritiman Sebut Perang Dagang Bawa Untung ke Indonesia

Konfrontasi - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menilai ada keuntungan dari perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan China. Hal itu terlihat dari banyaknya perusahaan China yang memindahkan investasinya ke Indonesia.

"Trade war itu buat kita sebenarnya menguntungkan karena dari situ ada relokasi investasi ke Indonesia," kata Luhut di Kantor Kemenko Maritim, Jakarta, Jumat, 30 November 2018.

Perang Dagang Penyebab Utama Harga Kedelai Berantakan

Konfrontasi - Kabar perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China kian simpang siur. Dari membaik, kembali jadi memburuk. Hal itu membuat harga komoditas seperti kedelai, terutama sepanjang tahun ini, jadi berantakan.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, dijadwalkan akan melakukan pertemuan di Argentina bersamaan dengan pergelaran konferensi tingkat tinggi (KTT) negara-negara anggota Group of 20 (G20). Hal itu membawa sentimen positif terkait hubungan dagang antara kedua negara yang diperkirakan akan membentuk suatu kesepakatan untuk memperbaiki hubungan perdagangannya.

Namun, pada pekan lalu Pemerintah AS menyebutkan bahwa China telah gagal untuk memperbaiki perilakunya dalam anggapan pencurian kekayaan intelektual China kepada AS. Pernyataan tersebut membalikkan prospek positif hubungan dagang AS dan China jadi kembali memanas.

Hubungan dagang kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia yang memanas sudah membuat harga dan perdagangan sejumlah komoditas terutama komoditas pertanian luluh lantak. Salah satu komoditas pertanian yang terjebak sangat dalam pada perang dagang adalah kedelai.

Pembalasan tarif dari China sebesar 25% kepada AS pada 6 Juli lalu dan memasukkan kedelai dalam daftar tarif menjadi penyebab utama kemerosotan harga kedelai yang cukup dalam di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) sebagai patokan global sepanjang tahun ini.

Perang tarif tersebut membuat China sebagai konsumen utama kedelai, menghindari pasokan dari AS yang sebelumnya menjadi pemasok kedelai utama bagi China. Dengan keputusan tersebut, ditambah dengan panen kedelai AS yang membeludak, petani AS kini kian sengsara.

China, yang membeli 60% komoditas biji-bijian itu dari luar negeri, menurunkan pembeliannya hingga 18 – 20 juta ton pada kuartal IV/2018, dibandingkan dengan impor sebanyak 24,1 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Sebelumnya, Mantan Wakil Menteri Perdagangan China Long Yongtu, yang ikut melakukan negosiasi ketika China ingin masuk ke dalam Organisasi Dagang Dunia (WTO), menyebutkan bahwa China seharusnya hanya melakukan pembalasan terhadap ekspor pertanian AS sebagai upaya pembalasan terakhir.

“Berdasarkan pengalaman perang dagang AS dan China, menurut saya produk pertanian sangat sensitif, dan kedelai menjadi salah satu komoditas yang paling sensitif. Seharusnya China menghindari menaruh kedelai sebagai target di awal,” ungkapnya, dikutip dari Bloomberg, Minggu (25/11/2018).

Menurutnya, tarif China pada komoditas kacang-kacangan itu membuat petani AS kesulitan untuk menjual pasokannya dan membuat petani AS harus menyimpan dan menimbun panennya dengan biaya tinggi dan membuat penghasilan mereka mengalami penurunan.

Dengan keputusan untuk melakukan penyimpanan, bukan harga yang sesuai yang diterima, tanaman busuk justru jadi masalah yang harus dihadapi petani saat ini, membuat permintaan lenyap, bahkan dari domestik AS sendiri.

China yang menghindari pasokan kedelai dari AS, kemudian mengalihkan pembelian utamanya ke Brasil, salah satu produsen kedelai terbesar di dunia. Namun, dengan adanya perbedaan musim antara Brasil dan AS, serta jumlah produksinya yang masih di bawah AS, membuat pengiriman pasokan kedelai dari Brasil ikut terhambat.

Adapun, untuk mengatasi hambatan tersebut, China juga sempat memacu petani domestiknya untuk memperbanyak penanaman kedelai dan membuat pasokan domestik China juga mengalami lonjakan dan membuat harga kedelai global tidak bisa terangkat.

Pada penutupan perdagangan Jumat (23/11), harga kedelai di bursa CBOT mengalami penurunan 2 poin atau 0,23% menjadi US$881 sen per bushel.

Sepanjang 2018, harga kedelai di CBOT sudah mengalami penurunan sebanyak 7,43%, jauh jika dibandingkan dengan harga komoditas biji-bijian seperti jagung dan gandum yang masing-masing mengalami kenaikan harga secara year-to-date (ytd) mencapai 2,35% dan 17,04%.

Efek Perang Dagang Mulai 'Menggigit'. Indeks Manufaktur Sejumlah Negara Asia Berkontraksi

KONFRONTASI -   Indeks manufaktur sejumlah negara di Asia berkontraksi pada Oktober. Hal ini menggarisbawahi efek pergolakan yang dipicu perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China.

Kontraksi tersebut mengikuti bukti perlambatan di China yang telah mendorong pemerintah Tiongkok menjanjikan langkah-langkah baru untuk memicu pertumbuhan.

Perang Dagang AS-China Makin Sengit, Sistem Keuangan RI Harus Siap Hadapi Krisis

KONFRONTASI-Perang dagang antara Amerika Serikat dengan China dan kebijakan penaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS telah berdampak pada memburuknya kondisi perekonomian global yang mengarah pada krisis.

Perang Dagang Bikin Rupiah Tumbang, Tergerus 44 Poin ke Rp15.297/USD

KONFRONTASI-Pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis sore bergerak melemah sebesar 44 poin menjadi Rp15.297 dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.253 per dolar AS, terimbas isu perang dagang yang kembali memanas.

Analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa sentimen perang dagang kembali membebani laju mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Beredar kabar Presiden AS Donald Trump siap meningkatkan tarif impor lebih lanjut terhadap produk Tiongkok," ujarnya.

Perang Dagang AS-China Kian Menjadi-jadi, Bagaimana Nasib Ekonomi RI?

KONFRONTASI-Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan perang dagang China-AS, yang menimbulkan ketidakstabilan perekonomian global, masih akan berlanjut.

"Ketidakstabilan global itu tidak bisa dihindari, akan jalan terus. Malahan kalau tadinya dibilang paling hanya sampai kuartal pertama tahun depan, sepertinya tidak," katanya saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat.

Perang Dagang AS-China Memanas, Dolar AS Bisa Balik ke Rp14.900

KONFRONTASI -  Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini (20/9) diperkirakan masih bergerak melemah, bahkan bisa menyentuh level Rp14.900 per dolar AS lagi. Kondisi ini sejalan dengan kekhawatiran para investor terkait dengan meningkatnya eskalasi perang dagang antara AS dengan China.

IHSG Masih Terpapar Sentimen Perang Dagang

KONFRONTASI -    Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan hari ini, Rabu (29/8/2018) sentimen eksternal masih memengaruhi pergerakan IHSG, di mana sebelumnya telah terjadi kesepakatan perdagangan antara AS dan Meksiko.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa pasar saat ini tertuju pada hasil pembicaraan dagang antara AS dan Kanada.

Pages