16 October 2018

Perang Dagang

Perang Dagang Bikin Rupiah Tumbang, Tergerus 44 Poin ke Rp15.297/USD

KONFRONTASI-Pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis sore bergerak melemah sebesar 44 poin menjadi Rp15.297 dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.253 per dolar AS, terimbas isu perang dagang yang kembali memanas.

Analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa sentimen perang dagang kembali membebani laju mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Beredar kabar Presiden AS Donald Trump siap meningkatkan tarif impor lebih lanjut terhadap produk Tiongkok," ujarnya.

Perang Dagang AS-China Kian Menjadi-jadi, Bagaimana Nasib Ekonomi RI?

KONFRONTASI-Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan perang dagang China-AS, yang menimbulkan ketidakstabilan perekonomian global, masih akan berlanjut.

"Ketidakstabilan global itu tidak bisa dihindari, akan jalan terus. Malahan kalau tadinya dibilang paling hanya sampai kuartal pertama tahun depan, sepertinya tidak," katanya saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat.

Perang Dagang AS-China Memanas, Dolar AS Bisa Balik ke Rp14.900

KONFRONTASI -  Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini (20/9) diperkirakan masih bergerak melemah, bahkan bisa menyentuh level Rp14.900 per dolar AS lagi. Kondisi ini sejalan dengan kekhawatiran para investor terkait dengan meningkatnya eskalasi perang dagang antara AS dengan China.

IHSG Masih Terpapar Sentimen Perang Dagang

KONFRONTASI -    Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan hari ini, Rabu (29/8/2018) sentimen eksternal masih memengaruhi pergerakan IHSG, di mana sebelumnya telah terjadi kesepakatan perdagangan antara AS dan Meksiko.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa pasar saat ini tertuju pada hasil pembicaraan dagang antara AS dan Kanada.

Perang Dagang AS vs China Makin Sengit

KONFRONTASI-Amerika Serikat dan Cina terus terlibat perang dagang yang semakin meningkat setelah kedua negara menerapkan kenaikan tarif impor tahap kedua sebesar 25 persen untuk jumlah impor sebesar US$16 miliar atau sekitar Rp234 triliun.

Ini terjadi di tengah proses pembicaraan pejabat level menengah kedua negara di Washington untuk mencari solusi soal perang dagang, yang dimulai pada awal Juli 2018 itu.

Pemerintah AS mengenakan sanksi ini untuk 279 produk impor asal Cina seperti semikonduktor, bahan kimia, plastik, sepeda motor, dan scooter listrik.

“Cina melakukan retaliasi dengan mengenakan kenaikan tarif serupa untuk sejumlah produk impor asal AS dengan jumlah yang sama,” begitu dilansir CNBC pada Kamis, 23 Agustus 2018 waktu setempat.

Cina Membalas

Cina mengenakan kenaikan tarif baru ini untuk 333 produk seperti batu bara, tembaga, bahan bakar minyak, baja, mobil, dan perlengkapan medis. Media resmi Cina, Xinhua, mengatakan penerapan tarif ini berlangsung bersamaan pada Kamis waktu setempat.

“Cina sangat menolak kenaikan tarif terbaru dari AS dan akan melawan balik,” begitu dilansir kementerian Perdagangan Cina dalam pernyataan di situs online. Kementerian ini juga menambahkan akan melaporkan tarif terbaru AS ini ke Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO.

Kenaikan tarif AS ini membuat sejumlah importir negara itu meningkatkan jumlah pesanan dari Cina sebelum tarif baru berlaku. Kenaikan tarif tahap pertama berlaku pada awal Juli 2018 untuk US$34 miliar atau sekitar Rp498 triliun.

Direktur Operasional untuk Asia di Flexport, Henry Ko, mengatakan kenaikan tarif impor tahap pertama meningkatkan tarif biaya angkut udara dan laut serta biaya gudang di AS. “Jika perang dagang ini terus berlangsung, harga-harga produk dari sejumlah industri akan naik,” kata Ko kepada CNBC.

Pergerakan Bursa Eropa Ditutup Bervariasi akibat Panasnya Perang Dagang

KONFRONTASI  -   Sentimen negatif perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China serta laporan keuangan emiten yang bervariasi masih mewarnai perdagangan di bursa-bursa Eropa hari Kamis (9/8/2018). Bursa-bursa utama Benua Biru akhirnya ditutup di arah yang berbeda.

Menlu Retno: Tak Ada Perang Dagang Indonesia-AS

KONFRONTASI-Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi usai melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Pompeo menegaskan bahwa tidak ada perang dagang antara Indonesia dengan Amerika Serikat.

AS-China Terlibat Perang Dagang, Indonesia Harus Bagaimana?

Oleh: Hari Mulyanto, Alumni Tannas UGM
 

Genderang perang Amerika Serikat (USA) dengan China sudah dikumandangkan. Namun perang ini bukan perang senjata (hard power) tetapi ini adalah perang ekonomi (soft power) yaitu perang dagang.  Kalau dulu USA pernah melakukan perang dingin dengan Uni Sovyet (sekarang Rusia) yang menyebabkan ketegangan dunia karena adanya perlombaan senjata (arm race), maka perang dagang ini juga dapat memicu ketegangan dunia.

Luhut Panjaitan: Perang Dagang AS-China Berpeluang Untungkan Indonesia

KONFRONTASI - Indonesia dianggap bisa mengambil peran dari perang dagang antara China dan Amerika Serikat. Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, perang dagang tersebut bisa menjadi peluang untuk Indonesia dalam mengambil keuntungan. Salah satunya soal menghemat dengan membangun industri dalam negeri menjadi lebih baik.

Luhut melihat potensi tersebut usai melakukan kunjungan ke galangan kapal PT Penataran Angkatan Laut (PT PAL) di Surabaya Senin (16/7).

Jika Indonesia Terlibat Perang Dagang Lawan AS, Ini Dampaknya!

KONFRONTASI-Saat ini sejumlah barang dari Indonesia ke Amerika Serikat (AS) bebas bea masuk karena ada perlakuan khusus berupa kebijakan Generalized System of Preferences (GSP). 

Kini kebijakan tersebut sedang dikaji ulang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ada 124 barang dari Indonesia yang di-review oleh Trump. 

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, bila perlakuan khusus terhadap 124 barang RI yang masuk AS tersebut dicabut, maka kinerja ekspor Ri bisa terganggu.

Pages