25 August 2019

Penistaan Agama

Inilah Isi Nota Pembelaan Ahok

KONFRONTASI-Terdakwa kasus dugaan penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kembali menjalani sidang lanjutan yang digelar PN Jakarta Utara di Auditorium Kementrian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (25/4). Agenda sidang kali ini adalah Ahok, membacakan nota pembelaan setelah sebelumnya pada Kamis (20/4) jaksa penuntut umum membacakan tuntutannya.

Diketahui, Ahok menyusun sendiri pledoi, karena dalam sidang pledoi, penasihat hukum dan Ahok membacakan pledoi secara terpisah. Judul nota pembelaan Ahok yang dibacakan di depan majelis hakim adalah Tetap Melayani Walau Difitnah.

Berikut ini, nota pembelaan yang dibacakan mantan bupati Belitung Timur itu di depan majelis hakim.

Pertama-tama, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada majelis hakim atas kesempatan yang diberikan kepada saya.

Setelah mengikuti jalannya persidangan, memerhatikan realitas yang terjadi selama masa kampanye Pilkada DKI Jakarta serta mendengar dan membaca tuntutan penuntut umum yang ternyata mengakui dan membenarkan bahwa saya tidak melakukan penistaan agama seperti yang dituduhkan kepada saya selama ini, dan karenanya terbukti saya bukan penista atau penoda agama. Saya mau tegaskan, selain saya bukan penista atau penoda agama, saya juga tidak menghina suatu golongan apa pun.

Majelis hakim yang saya muliakan.

Banyak tulisan yang menyatakan saya ini korban fitnah. Bahkan penuntut umum pun mengakui adanya peranan Buni Yani dalam perkara ini. Hal ini sesuai dengan fakta bahwa saat di Kepulauan Seribu. banyak media massa yang meliput sejak awal hingga akhir kunjungan saya. Bahkan disiarkan secara langsung yang menjadi materi pembicaraan di Kepulauan Seribu, tidak ada satu pun mempersoalkan, keberatan atau merasa terhina atas perkataan saya tersebut.

Bahkan termasuk pada saat saya diwawancara setelah dialog dengan masyarakat Kepulauan Seribu. Namun, baru menjadi masalah sembilan hari kemudian, tepatnya tanggal 6 Oktober 2016 setelah Buni Yani memposting potongan video pidato saya dengan menambah kalimat yang sangat provokatif.

Barulah terjadi pelaporan dari orang-orang yang mengaku merasa sangat terhina padahal mereka tidak pernah mendengar langsung. Bahkan, tidak pernah menonton sambutan saya secara utuh.

Adapun salah satu tulisan yang menyatakan saya korban fitnah adalah tulisan Gunawan Muhammad. Stigma itu bermula dari fitnah, Ahok tidak menghina agama Islam tapi tuduhan itu tiap hari dilakukan berulang-ulang seperti kata ahli propaganda Nazi Jerman. Dusta yang terus menerus diulang akan menjadi kebenaran. Kita dengarnya di masjid-masjid, medsos, percakapan sehari-hari sangkaan itu sudah bukan menjadi sangkaan tapi menjadi kepastian.

Ahok pun harus diusut oleh pengadilan, UU Penistaan Agama yang diproduksi rezim Orde Baru sebuah UU yang batas pelanggarannya tidak jelas. Tidak jelas pula siapa yang sah mewakili agama yang dinistakan itu. Alhasil Ahok dilakukan tidak adil dalam tiga hal.

Pertama, difitnah, dua dinyatakan bersalah sebelum pengadilan, dan ketiga diadili dengan hukum meragukan. Adanya ketidakadilan dalam kasus ini, tapi bertepuk tangan untuk kekalahan politik Ahok yang tidak bisa diubah sebuah ketidakjujuran.

Majelis hakim yang saya muliakan.

Ketika saya memilih mengabdi melayani bangsa tercinta ini, saya masuk ke pemerintahan dengan kesadaran penuh untuk mensejahterakan rakyat otak, perut dan dompet. Untuk itu ketika saya memberikan sambutan di Pulau Pramuka, saya memulai dengan kata: "Saya mau cerita biar bapak ibu semangat".

Dari sambutan saya, jelas sekali saya hanya punya satu niat, keluarga tebal kantongnya mau ambil program yang sangat menguntungkan ini. Terbukti penuntut umum mengakui tidak memiliki niat sedikit pun untuk menista atau menoda agama. Dan saya tegaskan, saya tidak punya niat sedikit pun untuk menghina golongan tertentu‎.

Bicara melayani orang lain, mengingatkan saya ketika ada anak-anak TK yang menemui saya di Balai Kota, saat itu ada anak TK melakukan tanya jawab, mungkin sama dengan majelis hakim tanya, anak TK juga punya persepsi yang sama.

Anak TK bertanya, saya ingin tanya sama bapak kenapa bapak melawan semua orang, melawan arus, ribut sama semua orang. Ini pertanyaan anak TK sebetulnya. Saya waktu itu bingung menjawab anak TK untuk pertanyaan begitu. Kemudian saya nonton di TV, saya bingung karena banyak pertanyaan akhir.

Ahok Jadikan Tuntutan Ringan Jaksa Sebagai 'Senjata'

KONFRONTASI-Terdakwa kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadikan tuntutan jaksa penuntut umum sebagai 'senjata' demi membantah dugaan penodaan agama.

Menurut Ahok, tuntutan jaksa yang menganggapnya telah melanggar Pasal 156 KUHP merupakan fakta bahwasanya jaksa tidak mampu membuktikan dugaan penodaan agama yang ditujukan kepadanya.

“Saya yakin majelis hakim akan mempertimbangkan fakta dan bukti yang muncul. Dimana, JPU buktikan saya tidak menistakan agama. Berdasarkan hal tersebut di atas, haruskan dipaksakan saya menghina golongan,” kata dia saat membacakan nota pembelaan atau pledoi di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (25/4).

Tak hanya soal tuntutan pelanggaran Pasal 156 KUHP, Ahok pun mengutip pendapat tim JPU yang menyatakan bahwa Buni Yani adalah pihak yang mengakibatkan dugaan penodaan agama menjadi sorotan publik.

Artinya, pandangan Ahok, jika tidak ada tindakan Buni Yani, yakni mengunggah video pidato di Pulau Pramuka, dugaan penodaan agama yang melilinya tak akan besar atau bahkan masuk ‘ke meja hijau’.

“Namun menjadi masalah pada 6 Oktober 2016 setelah Buni Yani mengunggah video pidato”

Bacakan Pledoi, Ahok Ibratkan Dirinya Bagai Ikan Nemo

KONFRONTASI-Terdakwa kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengibaratkan diri sebagai ikan badut bernama Nemo dalam film "Finding Nemo" (2003) saat menyampaikan pembelaan dalam lanjutan sidang perkara itu di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa.

"Sekali pun kita melawan arus semua, melawan semua orang yang berbeda arah, kita harus tetap jujur. Mungkin setelah itu tidak ada yang terima kasih sama kita, kita juga tidak peduli karena Tuhan yang hitung bukan kita. Nah ini pelajaran dari film ikan Nemo," katanya.

"Jadi, orang tanya sama saya, kamu siapa? Saya bilang saya hanya seorang ikan kecil Nemo di tengah Jakarta," kata Ahok saat membacakan pledoinya yang diberi judul "Tetap Melayani Walau Difitnah".

Dia percaya bahwa tidak ada jerih payah yang sia-sia karena Tuhan akan membalasnya.

"Tuhan yang melihat hati dan mengetahui isi hati saya. Saya hanya seekor ikan kecil Nemo di tengah Jakarta, yang akan terus menolong yang miskin dan membutuhkan. Walau pun saya difitnah dan dicaci maki, dihujat karena perbedaan iman dan kepercayaan saya..."

Ia juga mengatakan bahwa fakta-fakta dalam persidangan menunjukkan bahwa dia tidak melakukan penistaan agama seperti yang dituduhkan.

"Terbukti saya bukan penista atau penoda agama," katanya.

Tim pengacara Ahok juga menyampaikan pembelaan mereka di sidang itu. Menurut I Wayan Sudirta, anggota tim kuasa hukum Ahok, peldoi penasihat hukum tebalnya 634 halaman.

Ahok Bakal Diselamatkan?

Oleh: Arief Gunawan*

Ahok Bacakan Pledoi, Polda Metro Siapkan Ribuan Personel

KONFRONTASI-Pada lanjutan sidang kasus dugaan penistaan agama berikutnya Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) akan membacakan nota pembelaan (pledoi) . Dalam sidang tersebut, akan hadir ribuan massa pro dan kontra dari Ahok.

"Menurut informasi, dari pembertahuan ada 2.000-an massa yang akan datang," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, dilansir detikcom, Senin (24/4/2017) malam.

Pemuda Muhammadiyah akan Perkarakan JPU di Kasus Ahok

KONFRONTASI-Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah akan melaporkan Jaksa Penuntut Umum kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ke Komisi Kejaksaan karena tuntutan satu tahun yang disampaikan bertolak belakang. Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan, apa yang dilakukan jaksa yang menuntut Ahok satu tahun penjara masa percobaan dua tahun itu justru tidak sesuai dengan keterangan saksi yang dihadirkan.

Ahok Dituntut Ringan, Dahnil: Copot Jaksa Agung!

KONFRONTASI-Presiden Joko Widodo diminta untuk segera mencopot Muhammad Prasetyo dari posisinya sebagai Jaksa Agung. DEsakan itu disuarakan Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Dimana PP Pemuda Muhammadiyah menilai ada intervensi dari Jaksa Agung terhadap JPU dalam kasus penodaan agama jelas menodai hukum.

“Bahkan saya secara resmi kepada Pak Jokowi minta Jaksa Agung dicopot saja karena bagi kami Jaksa Agung tidak berdiri atas nama kepentingan hukum,” kata Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, Minggu (23/4).

Ahok Hanya Dituntut 1 Tahun Penjara, Rizal Ramli: Mas Prasetyo Piye Toh?

KONFRONTASI- Tokoh nasional Rizal Ramli mengaku tak habis pikir dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang hanya menuntut terdakwa penistaan agama Basuki T Purnama (Ahok) hukuman 1 tahun penjara ditambah 2 tahun masa percobaan.

"Saya ndak ngerti hukum,, agak bingung itu Jaksa Penuntut Umum atau Pembela Umum," ungkapnya dalam akun twitternya.

Ia pun lantas menyindir Ketum Partai Nasdem, lantaran Jaksa Agung saat ini pernah menjadi kader partai tersebut.

Kenapa Jaksa Tak Tuntut Ahok dengan Pasal Penodaan Agama?

KONFRONTASI-Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menuntut terdakwa dengan satu tahun penjara dan masa percobaan selama 2 tahun. JPU menilai Ahok telah melanggar pasal alternatif 156 KUHP.

Dalam pembacaan tuntutannya, JPU membacakan pertimbangan dan fakta-fakta hukum bahwa Ahok tak dijerat dengan Pasal 156a KUHP tentang Penodaan Agama. Menurut JPU, apa yang diucapkan Ahok tentang Surat Al Maidah Ayat 51 tak memenuhi unsur niat menghina agama.

Ahok Dituntut 1 Tahun Penjara, Fadli Zon: Kalau Cuma Segitu Nanti Orang Bisa Seenaknya Nistakan Agama

KONFRONTASI-Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon mengatakan bahwa tuntutan satu tahun penjara terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam perkara penodaan agama ini terlalu kecil.

Dia mengatakan, masyarakat sebenarnya ingin pembelajaran bahwa tidak boleh orang itu menistakan agama. Apalagi, dilakukan oleh orang yang berbeda agama.

“Kalau cuma dituntut segitu, nanti orang bisa seenaknya menistakan agama,” ujar Fadli di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (20/4).

Pages